Tuesday, May 29, 2012

Kembali Belajar HAM dari Bangku SD


Setelah dua puluh tiga tahun hidup di dunia ini, banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah berlalu yang dapat saya renungkan kembali dan mungkin dapat dijadikan pelajaran ke depannya. Banyak juga hal yang baru saya sadari dan mengerti sekarang. Kali ini mengingatkan saya ketika saya masih kecil dan duduk di Sekolah Dasar. Ibu saya memasukkan saya ke Sekolah Dasar swasta yang letaknya agak jauh dari rumah, sekitar tiga kilometer. Padahal di dekat rumah saya ada sebuah SD Negeri yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Setelah dewasa, saya merasa beruntung bisa bersekolah di sana dan saya sadar bahwa banyak pelajaran yang saya dapatkan.

Anak-anak yang bersekolah di sana sangat beragam dan dari berbagai kalangan. Ada teman-teman yang membuat saya ingat hingga sekarang. Salah satunya sebut saja Edo. Dulu saya berpikir dia anak yang sangat aneh dan saya heran mengapa anak seperti itu bisa bersekolah di sana. Saya tidak tahu persisnya dia kenapa, tetapi dia sering berbicara sendiri, sedikit hiperaktif serta kadang suka marah-marah tidak jelas bahkan kadang sampai memukul temannya. Hal itu membuatnya jadi olok-olokan dan sering diganggu anak-anak lain. Dia juga merupakan teman satu mobil antar-jemput saya. Ketika melihat ibunya, ternyata ibunya sangat baik hati dan ramah. Entah kenapa dari dulu saya sudah merasa beliau adalah ibu yang hebat, dengan tegar dia membesarkan anaknya dan menyekolahkan anaknya ke sekolah umum meskipun ada kekurangan dalam diri anaknya. Beliau pun sering sekali menunggui dan menjemput anaknya.

Kini saya mengerti bahwa beliau termasuk ibu yang menghargai Hak Asasi Manusia anaknya, dalam hal ini termasuk ke dalam Hak Anak. Dalam dunia internasional terdapat Konvensi Hak Anak atau Convention on rights of the Child yang merupakan perjanjian internasional yang mengatur tentang hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari anak-anak. Indonesia sendiri menandatangani Konvensi ini pada 26 Januari 1990 dan melakukan ratifikasi terhadap konvensi ini melalui Keputusan Presiden No 36 Tahun 1990 yang dikeluarkan pada 25 Agustus 1990. Dalam Konvensi Hak Anak ini ada empat prinsip penting yaitu prinsip non diskriminasi, prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, prinsip kepentingan terbaik bagi anak, dan prinsip partisipasi anak.

Dalam kasus teman SD saya itu, saya sangat mengapresiasi ibunya dan juga pihak sekolah. Sang ibu ingin anaknya tidak mendapatkan diskriminasi dan beliau menyekolahkannya ke sekolah umum karena beliau ingin anaknya bisa tumbuh seperti anak-anak yang lain. Pihak sekolah pun sangat saya hargai karena pertama-tama mereka mau menerima anak tersebut untuk menuntut ilmu di sekolahnya dan secara nyata saya melihat pihak sekolah memang tidak melakukan diskriminasi dalam pengajaran dan perlakuan terhadap teman saya tersebut dan yang lainnya. Guru-guru di sana malah berusaha agar Edo bisa menjadi seperti anak lain dan sabar dalam memberikan pelajaran baginya. Pihak sekolah pun sangat menghargai prinsip partisipasi dalam kegiatan belajar dan mengajar. Meskipun tahu bahwa Edo sedikit berbeda dengan anak lainnya, tapi guru-guru juga mengajukan pertanyaan dan meminta pendapatnya meskipun seringkali jawaban Edo membuat seisi kelas tertawa.



SD saya ini juga sangat menghargai hak kebebasan beribadah bagi anak-anak di sekolah. Meskipun mayoritas pengurus sekolah beragama Nasrani, tetapi anak-anaknya mayoritas muslim dan terdapat juga anak yang beragama Hindu. Meskipun jumlah anak yang beragama Hindu bisa dihitung jari, namun setiap pelajaran agama, sekolah mendatangkan guru agama Hindu khusus untuk mereka. Begitu pula bagi penganut Katolik dan Protestan. Setiap hari Jumat pun di sekolah diadakan shalat Jumat bersama. Saya sekarang merasa sangat bersyukur bisa sekolah di SD dengan toleransi beragama yang baik.

Setelah 6 tahun berlalu dan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan SMA saya tidak pernah mendengar lagi kabarnya. Suatu hari ketika saya akan membayar uang semesteran kuliah di suatu bank, saya melihat sosok wanita yang saya rasa kenal. Ternyata dia ibunya Edo. Lalu saya menyapanya dan kami mengobrol. Ternyata Edo berkuliah di kampus yang sama seperti saya, bahkan dia memilih suatu jurusan IPA. Saya sangat terkejut dan kagum dengan beliau dan juga Edo sendiri. Ternyata ibunya terus menyekolahkannya ke jenjang SMP dan SMA umum hingga akhirnya Edo bisa lolos Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (nama SNMPTN pada waktu itu) dan kuliah di salah satu PTN di Bandung. Saya sangat kagum dengan perjuangan ibu Edo untuk memenuhi Hak Asasi Manusia anaknya karena Edo juga berhak atas kelangsungan hidup serta tumbuh kembangnya dan saya rasa ibunya memberikan yang terbaik bagi anaknya hingga kini anaknya sudah dewasa. Beberapa lama setelah itu, tak sengaja saya bertemu Edo di kampus. Meskipun sudah sama-sama dewasa, tapi mukanya masih dapat saya kenali dan ternyata dia banyak berubah. Dia sudah tidak seperti dulu lagi dan dia sudah seperti anak lainnya. Saya ikut merasa senang untuknya dan saya sangat kagum pada perjuangan ibunya selama ini.

Saya harap, bagaimanapun keadaan anak, orang tua dapat memenuhi segala Hak Anak-nya dan pihak sekolah pun dapat menghargai dan menjamin HAM anak-anak yang bersekolah di sana. Jangan sampai terjadi lagi kasus sekolah yang menolak seorang anak karena ayahnya mengaku sebagai ODHA seperti yang pernah terjadi dahulu. Saya sangat mengapresiasi ibu teman saya tersebut dan pihak SD saya dulu. Semoga banyak pihak yang belajar dari pengalaman mereka. Bagaimanapun fisik dan mental anak-anak, mereka tetap berhak untuk hidup dan dijamin kelangsungan hidupnya serta mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dalam berbagai aspek kehidupan pun, kita harus menghargai HAM orang lain jika ingin hak kita sendiri juag dihargai.


Sumber:
http://hamblogger.org/sekilas-mengenal-konvensi-hak-anak/
http://1.bp.blogspot.com/-E8TQsBNqeIE/TdZMicVll6I/AAAAAAAAADY/HWBmn65cEM4/s1600/diknas-wrn1.jpg

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...