Monday, October 10, 2016

Photos Adren'Addict, une course d'obstacles à Bordeaux

Je me suis réveillé plus tôt ce dimanche (9 octobre) exprès pour voir la course d'obstacle Adren'Addict qui a lieu dans Bordeaux. Ça a l'air intéressant et en plus il faisait beau aussi donc pourquoi pas de profiter cette belle journee dans Bordeaux. 
J'ai pris mon appareil photo Nikon D1200 avec moi. 
Je suis impressionné par le nombre de participants ainsi que les obstacles qu'ils doivent affronter. 
C’était énorme ! Je ne pense pas que je pourrais participer a cette course. 
Voila quelques photos que j'ai pris :
video


video






















Vous pouvez voir mes autres photos sur ce lien http://bit.ly/2dDhu3S. Il y en a des centaines et vous pouvez les télécharger aussi. 






Friday, September 30, 2016

Akhirnya Lulus Master (S2) di Prancis

Tahun 2014 silam, saya menulis artikel blog berjudul "Perjuangan Dua Tahun Akhirnya Berbuah Manis: Beasiswa Eiffel!" dan sekarang dua tahun pun telah berlalu... Saya masih ingat di hari-hari pertama kuliah S2 di Bordeaux sini, saya masih merasakan jet lag. Rasa lelah yang masih melekat di badan, rasa kantuk yang cukup berat, tapi semua itu tak mengalahkan rasa antusiame saya untuk memulai tahun pertama sebagai mahasiswa S2. Awalnya saya berpikir bahwa saya mungkin saja tidak lulus tahun pertama karena pelajarannya cukup berat dan di bidang yang baru saya kenal. Maklum lulusan Sastra Prancis tapi sekarang belajarnya urbanisme Prancis, hukum lingkungan, pariwisata Prancis, dll. Di minggu-minggu pertama juga saya masih merasakan gegar budaya (culture shock) dan juga banyak istilah-istilah teknis yang tidak saya mengerti. 

Tesis tahun kedua saya

Perkuliahan di Prancis sangat jauh berbeda dibandingkan dengan pekuliahan di Indonesia. Di sini murid-murid lebih dituntut untuk aktif, mandiri dan bertanggung jawab. Saat dosen sedang menjelaskan di depan kelas, murid juga bisa mengajukan pertanyaan sewaktu-waktu. Kadang murid dan dosen pun bisa berdebat jika mereka berbeda pendapat. Kalau di Indonesia ada rasa segan atau mungkin takut sama dosen, di sini ga ada sama sekali. Dosen saya sekaligus penanggungjawab Master saya pernah bilang ke saya di depan temen-temen yang lain "Saya masih ingat dulu ada mahasiswi Indonesia juga namanya W****. Dia baik dan hormat banget sama dosen-dosen. Di Prancis mah murid-muridnya udah ga ada rasa hormat lagi ama dosen" cerita beliau sambil tertawa. Dia bilang gitu pas hari-hari pertama kuliah. Begitu waktu berlalu, saya jadi mengerti apa maksud beliau. Temen-temen saya banyak yang ngobrol sendiri pas dosen nerangin, ada juga yang maen HP. 

Singkat cerita, setelah 2 tahun kuliah, 2 kali magang di perusahaan swasta Prancis, 2 kali bikin skripsi...akhirnya tanggal 19 September 2016 saya sidang tesis. Perjuangan untuk membuat 200 halaman skripsi ini pun tidak mudah. Meskipun tahun 2015 saya sudah pernah sidang skripsi untuk tahun pertama, tapi tetap saja saya merasa deg-degan dan takut. Haha. Mungkin karena efek akan berhadapan dengan dua penguji orang Prancis dan harus berargumen dengan bahasa Prancis. Setelah lima belas menit presentasi, 30 menit berikutnya adalah sesi tanya jawab. Alhamdulillah semuanya berlangsung dengan lancar dan baik. Komentar-komentar dosen-dosen pun alhamdulillah positif. Saya pikir mereka akan mengumumkan hasil sidang langsung, ternyata besoknya. Tapi begitu meninggalkan ruang sidang, saya tak bisa berhenti tersenyum karena saya merasa lega dan bahagia bahwa saya telah melewati salah satu proses yang sulit, sidang tesis S2. 

Ruang sidang tesis saya :D

Keesokan harinya saya mendapat email lengkap dengan daftar nilai tahun kedua. Saya pun dinyatakan LULUS dan sukses menyelesaikan program S2! Rasa syukur yang tak terhingga saya ucapkan kepada Tuhan YME atas segala bantuanNya. Saya pun langsung menelepon ibu saya di Bandung, Indonesia. Well, akhirnya saya pun selesai menjalani mimpi saya. Mimpi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 sudah terpenuhi. Sekarang saatnya berjuang untuk merealisasikan impian yang lainnya. Makasih buat kalian semua yang baca blog saya, jangan sungkan untuk follow saya di berbagai sosial media di bawah ini : 


Wednesday, September 7, 2016

2 Years in France and Europe



Tak terasa, sudah dua tahun saya tinggal di Prancis untuk menuntut ilmu, melanjutkan sekolah ke jenjang master. Di sela-sela waktu kuliah, saya juga menyempatkan sebisa mungkin untuk menjelajah Prancis. Saya ingin bisa mengunjungi sebanyak mungkin kota-kota di Prancis, meskipun di sini ada lebih dari 30.000 kota. Salah satu kota yang saya kunjungi pada Januari 2016 adalah kota Paris. Terakhir kali saya mengunjungi Paris adalah tahun 2012. 4 Tahun yang lalu! :D 
Selama dua tahun ini, alhamdulillah saya bisa berkunjung ke beberapa negara tetangga Prancis. Saya pergi ke Roma, Italia untuk melewati ulang tahun saya yang ke 26, ke Jenewa (Swiss), ke Barcelona (Spanyol), London (Inggris) untuk merayakan ulang tahun ke 27, dan ke Amsterdam sebagai tujuan liburan musim panas 2016. Saya juga menyempatkan ke Andorra, salah satu negeri terkecil di dunia yang terletak di antara Prancis dan Spanyol. Selamat menyaksikan!  

Voila, mes aventures et mes voyages pendant ces 2 ans en France et en Europe. J'ai pris plus de 72812 photos en total, j'en ai choisi quelques unes dans cette vidéo de 8 minutes. C’était pas facile de réaliser ce rêve, mais j'y croyais toujours et merci Dieu que je l'ai pu réalisé. ^^ Bonne vidéo !

8th of September 2016 is exactly 2 years I live in France.
This video resumes my 2 years of journey in France for my Master studies and in Europe. I also visited London (United Kingdom), Barcelona (Spain), Vatican City, Rome (Italy), Amsterdam (the Netherlands) for vacations. I love travelling and discover new places. It's my first time to create kind of video. ;) Thanks for watching. Don't hesitate to share and comment! :)


Tuesday, August 30, 2016

Mengapa Sastra Prancis ?

Tak terasa sudah tujuh tahun yang lalu sejak saya menulis artikel blog Ngehina Sastra? Vous etes abrutis! pada tahun 2009. Tujuh tahun bro! Tentu saja bukan waktu yang sebentar. Tujuh tahun adalah batas studi kamu sebelum di-drop out dari Sastra Prancis! Haha, sorry. Banyak banget temen-temen anak SasPer dari berbagai universitas dan angkatan yang memberikan komentar di artikel tersebut, banyak yang bertanya mengenai jurusannya, prospek kerja setelah lulus, dan lain-lain. Di artikel ini saya ingin kembali berbagi mengenai jurusan yang bisa membuat saya sekarang bisa sampai ke Prancis, negeri impian semua anak SasPer. 



Mengapa Sastra Prancis? 
Ketika kita memilih sebuah jurusan studi, tentu saja kita punya alasan masing-masing mengapa memilih jurusan itu. Saya pribadi, saya tidak mempunyai uang untuk masuk Perguruan Tinggi Swasta sehingga saya HARUS masuk PTN, dan salah satu caranya adalah dengan masuk melalui SMPTN (SMBPTN sekarang). Saat itu di SMA saya dari jurusan IPA, dan saya merasa ilmu eksakta bukanlah untuk saya sehingga saya ingin kuliah di jurusan yang tidak ada matematika dan ilmu eksakta. Saya pun memutuskan untuk ikut SMPTN IPS. Sejak lama saya ingin sekali menjadi diplomat, bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di negara lain. Jadi Dubes. Well, itu impian saya dulu. Olehkarena itu saya memutuskan untuk memilih jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama dan Sastra Prancis Universitas Padjadjaran sebagai pilihan kedua. Mengapa SasPer? Kalau saya tak keterima di HI, saya tetap bisa “melamar” untuk bekerja di Kemlu dengan ijasah SasPer. 

Selain itu saya juga sangat ingin bisa berbicara banyak Bahasa, seperti idola saya Bung Karno. Bahasa Inggris meskipun tak sempurna tapi saya bisa mengerti dan berbicara. Saat itu saya berpikir ingin belajar bahasa Spanyol tapi di Indonesia tak ada jurusan Sastra Spanyol. Lalu saya berpikir Bahasa Prancis adalah Bahasa yang menarik dan penting. Selain digunakan di Prancis, digunakan juga di banyak negara, oleh karena itu saya bisa berbicara dengan banyak orang dan banyak kesempatan kerja. Akhirnya saya memilih Sastra Prancis. Banyak yang bilang kalau ingin belajar Bahasa, kamu bisa les. Om saya juga berpikir seperti itu. Tapi saya bilang, di SasPer kita ga hanya belajar bahasa. Kita belajar banyak juga mengenai budaya, sejarah dan politik Prancis. Dan manfaatnya sangat saya rasakan saat ini ketika saya di Prancis. Sangat membantu. Tentunya kalian punya alasan sendiri mengapa kalian memilih SasPer. So, apa alasan kalian ?

Mengapa SasPer atau Sastra diremehkan ?
Banyak yang menganggap sastra itu mudah. Tentu saja jurusan Kedokteran atau Teknik lebih favorit dibanding sastra karena orang berpikir mereka lebih pintar. Tapi jangan salah, orang sastra banyak juga yang pintar! Dan ketika kalian bisa berbicara Bahasa asing yang orang lain tak mengerti, it’s really awesome! Jadi, buktikan kepada orang-orang yang meremehkan kalian kalau anak Sastra punya masa depan bagus dan bisa sukses! 

Mau jadi apa dan mau kerja apa setelah lulus Sastra Prancis? 
Pertanyaan itu adalah pertanyaan dari banyak orang, bukan hanya pembaca artikel saya 2009 silam, tapi juga keluarga saya dan keluarga kalian! Ya, kan? haha. Jujur, saya juga dulu ga tau mau kerja apa setelah lulus Sastra. Yang pasti dulu saya mengincar untuk kerja di Kemlu melalui tes CPNS. Meskipun dua kali saya gagal. At least saya sudah mencoba dan saya anggap ini jalan yang terbaik dan ternyata memang benar. Setelah lulus dan gagal masuk Kemlu, saya punya plan B. Saya sangat ingin ke Prancis. Pergi ke sana sebagai turis, saya tak punya uang. Lalu saya berpikir untuk melanjutkan kuliah ke jenjang master (S2). Karena saya tak punya uang, saya pun membidik beasiswa. Beasiswa dalam negeri dan luar negeri saya coba. Beasiswa Unggulan tak ada kabar dan kejelasan, beasiswa LPDP saya gagal. Kecewa iya, tapi saya selalu anggap itu yang terbaik. 

Ternyata untuk daftar kuliah dan daftar beasiswa dari Pemerintah Prancis baru bisa dibuka tahun depan. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu sambal mencari kerja. Saat itu saya tidak terlalu serius mencari kerja, yang terpenting pekerjaan itu tidak mengharuskan ada kontrak, apalagi kontrak dua tahun dengan penalty. Karena saya tahu bahwa saya akan meninggalkan pekerjaan saya untuk melanjutkan kuliah. Saya pun memutuskan untuk magang di Museum Konperensi Asia Afrika sambal menunggu kesempatan untuk kuliah dan agar saya punya pengalaman di bidang pariwisata. 

Setelah selesai magang saya mencari pekerjaan karena saya pun butuh uang. Akhirnya saya keterima kerja di salah satu perusahaan clothing di Bandung. Alhamdulillah tidak ada kontrak yang mengikat. Sambil bekerja saya pun mendaftar kuliah di Bordeaux dan mengajukan beasiswa Excellence Eiffel dari Pemerintah Prancis. Ketika saya mendapatkan berita baik bahwa saya diterima kuliah di sana plus dapat beasiswa itu, saya sangat bahagia dan langsung mengajukan pemunduran diri. 

Sekarang saya masih berjuang untuk lulus S2 di Universite Bordeaux Montaigne di kota Bordeaux. Untuk S2 ini saya memilih jurusan manajemen pariwisata. Karena prospek kerjanya akan lebih luas lagi. Insya Allah bulan September sidang, minta doanya dari kalian semua. ^^ Selama perkuliahan dua tahun ini, saya dua kali juga magang selama tiga bulan di tahun pertama dan lima bulan di tahun kedua. Dari situ saya mendapat banyak pengalaman dan belajar banyak. Alhamdulillah di Prancis kalau kalian magang lebih dari dua bulan kalian harus digaji. 

Kalau lihat temen-temen lain lulusan Sastra Prancis, mereka banyak yang sekarang bekerja di bank, perusahaan swasta (di bidang administrasi atau DRH), media dan televisi, menjadi dosen, ada juga yang melanjutkan kuliah S2, jadi guru bahasa Prancis, ibu rumah tangga, banyak juga yang au pair di Prancis, dan masih banyak lainnya. Jadi jangan kuatir, kesempatan kerja TERBUKA LUAS bagi lulusan Sastra dan Sastra Prancis! 

Perjuangan saya saat kuliah SasPer….
SasPer adalah jurusan yang tak mudah. Apalagi empat semester pertama saya masih terus kepikiran untuk kuliah di HI dan saya masih belum menerima kenyataan bahwa saya kuliah di SasPer. Sehingga nilai saya jelek, banyak nilai C, D dan beberapa E. Mulai dari tahun 2009 saya berpikir bahwa saya harus menerima kenyataan dan orang tua saya berjuang susah payah untuk menyekolahkan saya hingga ke jenjang S1. Saya ingin membuat mereka bangga dan juga tentu saya membuat diri sendiri bangga. Akhirnya saya banyak belajar, mengapalkan konjugasi, genre masculin feminin, etc. Saya juga mengikuti kelas ulangan agar bisa memperbaiki nilai buruk saya di beberapa mata kuliah dan agar bisa menaikkan IPK. Saya banyak mendengarkan lagu bahasa Prancis, menonton film Prancis, berteman dengan orang Prancis di Facebook dan mencoba untuk mempraktikkannya. Mempraktikkan Bahasa sangatlah penting, kalian bisa jauh lebih cepat mengingat bagaimana berbicara yang benar, saat kalian membuat kesalahan… 


Beberapa hal yang sulit di Bahasa Prancis adalah konjugasi, genre, dan tidak ada tips lain selain kalian harus menghapalkan dan mempraktikkannya agar kalian bisa hapal. Setelah berjuang dengan banyak belajar sendiri di rumah, di bus, belajar bersama teman kampus dan kenalan orang Prancis, dan mengulang beberapa mata kuliah akhirnya IPK saya bisa naik. Asalnya saya salah satu orang yang biasa-biasa di kelas, tapi pada akhirnya bisa lulus dengan cumlaude! Itulah yang bisa membuat bangga kedua orang tua saya saat wisuda dan saya dulu masih tak menyangka bisa lulus dengan cumlaude karena dulu IPK saya di bawah 3. Pelajaran yang bisa kalian ambil adalah semua orang pasti bisa! Kalian pasti bisa sukses kalau kalian ada niat, berusaha keras dan jangan menyerah! Sekarang saya bisa membuktikan bahwa anak SasPer bisa sukses dan membuat iri teman-teman lain dengan foto-foto Prancis yang saya ambil.

Bon courage et la France vous attend !

Salam,
Angers, 30 Agustus 2016

Sunday, July 31, 2016

Liburan Musim Panas di Amsterdam, Belanda

Amsterdam, kota yang saya impikan sejak kecil karena memang dari kecil saya suka ma negara Belanda. Kota ini jadi kota yang bersejarah dalam hidup saya karena saya menginjakkan kaki pertama kali di Eropa ya di Amsterdam. Saat itu saya memenangkan lomba menulis dari NESO Indonesia yang berhadiahkan Summer Course di kota Utrecht selama dua minggu tahun 2012. Kalian bisa baca tulisan pengalaman saya dulu di sini. 




Saat saya keterima kuliah di Prancis juga saya dapet penerbangan dari KLM-Air France sehingga saya harus ganti pesawat di Amsterdam tahun 2014. Ketika saya tau saya dapat jatah liburan dua minggu dari tempat magang, saya pun hunting tiket murah pesawat low cost di Eropa. Awalnya saya pengen banget ke Sevilla, Andalusia, Spanyol. Tapi kata temen saya di sana pas musim panas suhunya bisa mencapai 35-40 derajat celcius dan bakalan susah banget buat jalan-jalan di siang hari. Hmm...akhirnya saya memutuskan untuk ganti destinasi. Setelah melihat beberapa destinasi potensial buat liburan akhirnya saya memilih Amsterdam. Selain karena saya suka ma kota ini, saya juga kangen banget ma Belanda. 




Saya terbang dari Bordeaux ke Amsterdam menggunakan pesawat EasyJet. Sempet delay 2 jam di bandara Bordeaux dan bikin sedikit bete. Tapi untungnya di Eropa ada hukum yang mengharuskan pihak maskapai memberikan ganti rugi kalau ada delay minimum 2 jam. Sehingga mereka pun memberikan kami kartu yang berisikan top up 4,5 euro. Lumayan buat beli minuman di bandara. Harga makanan dan minuman di bandara bisa berkali-kali lipat lebih mahal. Setelah 2 jam menunggu akhirnya pesawat pun berangkat dan sampai di Amsterdam dalam waktu 1 jam 40 menit. Bandara Schipol meningatkan saya akan kenangan tahun 2012 saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Eropa. FYI, bandara ini dipilih sebagai bandara ke 13 terbaik di dunia. 

Saya pun langsung menuju hotel karena tak ingin lama-lama menggendong backpack yang lumayan berat ini. Dari bandara untuk menuju kota Amsterdam kita bisa pakai kereta. Ada stasiun kereta yang terletak di bawah tanah bandara Schipol. Kalau kamu punya kartu kredit Eropa, kamu bisa langsung beli di mesin penjual tiket otomatis. Gampang banget. Harga tiketnya sekitar 4 euro sekali jalan. Amsterdam bisa kita capai dalam waktu sekitar 15 menit. Jangan lupa perhatikan pengumuman suara di kereta atau papan penunjuk di stasiun yang kita lewati, jangan sampai stasiun tujuan kita terlewatkan. Kita harus turun di Stasiun Amsterdam Centraal. Stasiun ini gedeee banget dan bagus banget bangunannya. Berasa seperti istana kalau dilihat dari luar. Saya pun berjalan kaki menuju hotel yang sudah saya pesan sebulan sebelumnya. Saya akan tidur di Hotel NH Carlton Amsterdam, hotel bintang 4 di pusat kota Amsterdam. Harga per malamnya cukup mahal tapi untungnya saya dapet promosi jadinya lebih murah. Setelah check in dan masuk kamar, saya pikir kamarnya jauh lebih besar ternyata lebih kecil dari perkiraan saya. Jauh lebih kecil dibandingkan hotel NH yang pernah saya coba di Jenewa dan Barcelona. 



Setelah menyimpan tas dan barang-barang, saya pun menyempatkan untuk mandi karena ternyata suhu di Amsterdam cukup panas. Setelah mandi, saya menuju pusat kota. Amsterdam saat ini sedang menjadi tuan rumah EuroPride, sebuah Gay Pride skala Eropa. Di semua sudut kota berhiaskan bendera EuroPride. Ada banyak acara selama dua minggu. Mulai dari konser musik gratis, Pride Walk, Pride Canal Amsterdam yang sangat terkenal itu dan acara lainnya. Setelah berkeliling sebentar di pusat kota Amsterdam, saya pun menuju Dam Square. Alun-alun terpopuler Amsterdam, di sana ada konser EuroPride gratis. Saya lewatkan malam pertama di Amsterdam di sana, menari sampai tengah malam diiringi musik tekno. 



Di hari kedua, saya kembali jalan-jalan ke pusat kota Amsterdam untuk hunting foto dan mengunjungi bangunan-bangunan indah di ibukota Belanda ini. Arsitektur Amsterdam sangat khas dengan bangunan-bangunan sempit dengan dinding berwarna-warni. Kemana pun kaki melangkah di Amsterdam, kamu pasti menemukan kanal. Kanal di Amsterdam cukup sibuk, banyak banget perahu turis, perahu pribadi, dan rumah-rumah perahu. Kadang juga ada kemacetan di kanal buat melewati sebuah jembatan. Pokoknya Amsterdam keren banget. Lihat video di bawah ini buat liat lalu-lintas di kanal Amsterdam. 




Saya juga melewati Red Light District sebuah daerah prostitusi yang legal. Kita bisa melihat banyak perempuan di balik jendela menggoda para lelaki yang lewat di depannya. Mereka berpakaian sangat seksi. Saya baru melihat hal seperti ini hanya di Amsterdam! Di kota ini, banyak juga kita temui coffee shop. Eits hati-hati, coffee shop di sini bukan buat minum kopi seperti Starbucks tapi buat merokok ganja. Ya, di Belanda ganja dilegalkan juga. Kita hanya bisa membeli ganja di coffee shop ini. Dan semua orang yang berumur di bawah 18 tahun dilarang membeli ganja. Orang-orang biasanya membeli ganja dalam bentuk bubuk daun atau yang sudah jadi rokok dan mereka merokok di pinggir kanal sambil melihat perahu-perahu berlalu-lalang.  



Selama di Amsterdam saya juga mencoba tur perahu selama satu jam mengelilingi kanal. Harga tiketnya 16 euro per orang. Kita diajak berkeliling dengan kapal yang cukup besar dan bisa memuat banyak turis. Di dalam kapal, kita diberi headphone untuk mendengarkan rekaman tur guide yang akan menjelaskan berbagai bangunan yang akan kita lewati. Kita juga bisa memilih bahasa yang ingin kita dengarkan, dan ada pilihan bahasa Indonesia loh! :) Kalau kalian ada waktu, tur perahu kanal ini sangat direkomendasikan. Karena kita bisa melihat kota Amsterdam dari sisi lain. Akan sangat berbeda saat kita jalan-jalan di jalanan pinggir kanal dan di atas perahu di dalam kanal. Keren banget pokoknya kanal-kanal Amsterdam.


Di hari terakhir, saya mempertimbangkan antara masuk museum Madame Tussaud's atau menyewa canal bike (pedallo) untuk berkeliling di kanal selama satu jam. Saya pikir kalau Madame Tussaud's isinya cuma patung lilin dan rasanya membosankan. Jadi saya putuskan untuk berkeliling kanal dengan canal bike. Awalnya saya agak takut karena saya belum pernah nyoba canal bike. Takut ga bisa mengontrol dan mengganggu perahu lain. Tapi saya nekat buat coba, sepertinya asik. Per orangnya bayar 8 euro buat 1 jam atau 11 euro 1,5 jam. Awalnya susah banget buat dikendalikan, tapi setelah beberapa menit akhirnya tau juga gimana caranya. Setelah sejam berkeliling kanal, saya pun mengembalikan canal bike ke tempat semula. Kita sendiri yang harus memarkirkan canal bikenya dan mengaitkannya ke dinding pelabuhan. Jangan sampai canal bikenya terlepas. Pokoknya canal bike asik banget, kita dapet pandangan yang berbeda dibandingkan saat naik perahu turis. Canal bike, salah satu aktivitas yang harus kalian coba kalo ke Amsterdam.


Saya juga sempat mencoba poffertjes di salah satu cafe, salah satu kue khas Belanda. Enaaaak banget! Harganya 4,5 euro per piring. Amsterdam, kota yang dihuni 700.000 orang ini ga terlalu besar, kita bisa jalan kaki buat pergi dari utara ke selatan dan dari barat ke timur. Tram kota Amsterdam ada banyak ke segala penjuru kota tapi saya ga ambil tram soalnya dengan berjalan kaki, kita bisa liat bangunan-bangunan atau gang-gang indah yang ga bisa kita lihat kalau kita naik tram. Saya selalu ingat kata-kata lagunya Trio Kwek-kwek "Katanya", di situ dibilang Belanda negeri kincir. Ketika lihat di peta kota Amsterdam ada kincir angin yang bisa kita kunjungi, saya pun langsung jalan kaki menuju sana. Seneng banget rasanya lihat kincir angin khas Belanda! 


Ada dua teman orang Belanda yang tinggal di Amstedam, saya menghubungi mereka buat ketemuan. Untungnya mereka juga ada waktu luang jadinya saya bisa ketemuan ama Lex dan Twan. Seneng banget! ^^ Sayangnya saya ga bisa ketemuan ama Matthijs yang tinggal di kota lain. Liburan selama 4 hari 3 malam di Amsterdam sangat berkesan buat saya dan saya sangat senang bisa kembali ke Belanda. Semoga bisa balik lagi ke sini. Setelah tahun 2012, 2014 dan sekarang 2016, mungkin saya bisa kembali ke Amsterdam tahun 2018 ? :D Siapa yang pengen mengunjungi kota Amsterdam ?? :D 


Sunday, May 29, 2016

Jalan-jalan ke Carcassonne, Perpignan, dan Andorra

Semenjak tinggal di Prancis, saya ingin sekali mengunjungi negara Andorra. Ya, salah satu negara terkecil di dunia yang terletak di perbatasan Perancis dan Spanyol. Saya sangat penasaran dengan negara ini. Ingin tahu seperti apa bangunan-bangunannya, orangnya, makanannya, dll. Soalnya belum pernah sekalipun melihat di berita di TV mengenai negara ini. 

Karena sekarang saya kuliah S2 di bidang pariwisata, sempet saya mengunjungi situs resmi pariwisata Andorra. Tentu saja di sana dipasang gambar tempat-tempat wisata yang keren dan indah. Buat orang Perancis sih Andorra terkenal sebagai tempat belanja. Kelebihan Andorra dibanding Perancis adalah di sana ga ada pajak yang besar seperti di Perancis, jadinya harga barang-barang jauh lebih murah. Banyak orang Perancis yang pergi ke Andorra buat belanja di perbatasan Andorra-Perancis kemudian mereka balik lagi ke Perancis tanpa menyempatkan buat jalan-jalan dan mengekplorasi Andorra. Mayoritas orang Perancis ke Andorra buat beli rokok sama alkohol. Hmm...inget alkohol dan rokok ga baik buat kesehatan! ;D


Pemerintah Perancis tentu aja tau banyak warganya yang pergi ke Andorra buat belanja. Jadinya pemerintah Perancis nyiapin pegawai bea cukai di perbatasan buat menyisir orang-orang yang belanjanya kebanyakan. Haha. Iya soalnya ada batasan jumlah alkohol dan rokok yang boleh dibawa pulang ke Perancis. Kalo kita belinya kebanyakan, bisa dikenakan pajak tambahan atau ga bisa disita ma pemerintah Perancis. Gondok kan kalo kena razia. 

Bref. Saya sekarang magang di kota Angers dan dapet long week-end di awal bulan Mei 2016 soalnya ada tanggal merah hari Kamis dan Jumatnya saya ijin buat ga kerja dan diapprove ama bos, jadinya saya bisa pulang ke Bordeaux deh. Dari Bordeaux, saya dan teman saya merencanakan buat pergi ke Perpignan, salah satu kota besar di Barat Daya Perancis, deket ma laut Mediterania. Awalnya saya ga tau kalau bakalan mampir ke Andorra juga, jadinya suprise banget. Bordeaux-Andorra bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan mobil.

Bordeaux-Andorra

Dari Bordeaux, kami mampir ke kota Middle Age yang bernama Carcassonne. Kotanya keren banget karena berumur ribuan tahun dan kota kecil ini dikelilingi benteng. Ada istana di pusat kotanya yang bisa kita kunjungi, meskipun ga gratis. Kami melewatkan siang hari di Carcassonne buat jalan-jalan, foto-foto dan makan siang. Abis itu dari Carcassonne menuju Perpignan buat ke tempat penginapan. Sebenernya nginepnya di kota kecil deket Perpignan, nyewa apartemen di sebuah kawasan wisata gitu. Di awal bulan Mei masih belum banyak turis dan mereka baru buka jadinya saya bisa nyewa sebuah apartemen luas dan nyaman hanya dengan 55 euro plus dengan sarapan gratis. Biasanya kalau musim panas di sini mahal banget. Beruntung banget bisa dapetin dengan harga segitu. Karena apartemennya ga jauh dari pantai, kami pun nyempetin pergi ke pantai dan untuk pertama kalinya tahun ini, pakai celana renang! haha. Meskipun air lautnya masih dingin banget tapi yang penting tetep foto2 dulu. haha


Seneng bisa nyemplungin kaki di laut Mediterania buat kedua kalinya. Keesokan harinya pagi-pagi buta kami langsung menuju ke Andorra dari kota Perpignan. Perjalanan berasa jauh dan lama soalnya lewatin jalan gunung gitu. Jalannya berkelok-kelok, dan ga bisa ditempuh dengan kecepatan seperti di jalan tol. Tapi pemandangannya sumpah keren banget! :) 

Untuk pergi ke Andorra kami melewati sebuah terowongan berbayar, ini salah satu jalan biar bisa cepet sampe ke Andorra. 
Dari jauh kami udah bisa liat gunung bersalju. Mengagumkan banget rasanya bisa lihat gunung bersalju di musim semi. 

Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di perbatasan Andorra-Perancis. Orang bilang bakal ada pemeriksaan identitas diri gara-gara terorisme tapi ternyata ga ada. Kita cuma lewatin pos perbatasan kayak pintu tol, tapi ada polisi perbatasan yang ngelihatin wajah setiap pengendara. Mungkin kalo wajah kita kayak teroris mereka bisa menyetop kita dan menggeledah mobil kita. Tapi untungnya kami berdua bisa melewati perbatasan tanpa masalah. Akhirnya kamipun sampai di Andorra! 

Bangunan-bangunan di Andorra beda banget dengan Perancis. Tulisan di papan jalannya juga pakai bahasa Catalan, bahasa resmi Andorra. Bahasa catalan bisa kita temui juga di Barcelona (Spanyol), Perpignan dan Toulouse (Perancis). Bahasanya beda banget dengan bahasa Perancis, tapi buat orang yang bisa berbicara bahasa Perancis dan Spanyol, kalau baca papan jalan di Andorra masih bisa mengerti lah.  

Kami mengunjungi sebuah gereja yang terkenal di Andorra. Gerejanya sebenernya jauh lebih simpel dibandingkan gereja di Prancis yang besar, mewah dan arsitekturnya wah! Tapi yang saya gak nyangka, mereka menawarkan jasa tour guide gratis! Jarang banget nemu hal yang gratis di Prancis, pas ditawarin tour gratis ya ga bisa nolak. haha
Sesudah mengunjungi gereja, kami langsung menuju ke ibukota Andorra: Andorra la Vella. Kotanya besar, modern, dan banyak orang ! Tapi tetep kerasa beda dengan Perancis atau negara lain dan menurut saya kotanya indah. Dikelilingi pegunungan. Andorra la Vella adalah ibukota yang berlokasi di tempat tertinggi di Eropa, lebih dari 2000m di atas permukaan laut. Udaranya cukup dingin tapi ga ada salju di pusat kotanya. 
Setelah beberapa jam jalan-jalan dan foto-foto, kami pun menyempatkan buat mampir ke sebuah toko buat belanja. Dan ternyata memang harga di sini jauh lebih murah! Saya pun kehilangan kontrol, jadinya saya belanja parfum Chanel dan kamera DSLR yang sudah lama banget saya inginkan. Padahal saya ga merencakan buat belanja dua barang itu di sini. Tapi mumpung lagi di Andorra jadinya saya gesek kartu kredit deh! :D 
Meninggalkan ibukota, kami mampir ke gunung bersalju di Andorra. Saat menemukan tempat pemberhentian, kami pun berhenti di tengah jalan. Kami keluar dari mobil dan berlari menuju salju! Kayak anak kecil, saya kegirangan ngeliat salju. Haha. Ini kedua kalinya saya liat salju. Pertama kali di Cauteret, Perancis. Kami pun main lempar-lemparan salju dan foto-foto di salju. Meskipun dingin banget tapi tidak menghalangi niat kami untuk bersenang-senang dan narsis di salju. Haha. Pokoknya Andorra keren dan indah banget! Semoga bisa balik lagi ke sini buat jalan-jalan dan belanja! Hehe

Friday, January 29, 2016

Week end in Paris !

Paris adalah kota impian sejuta umat. Setidaknya hampir semua temen2 saya pengen jalan-jalan ke Paris. Siapa sih yang ga mau mengunjungi Paris ? :D
Akhir pekan tanggal 16 Januari 2016, saya menyempatkan datang ke Paris sebenarnya untuk mengurus suatu dokumen. Tapi kesempatan itu saya manfaatkan juga untuk jalan-jalan di ibukota Prancis ini. Saya sudah tinggal di Prancis hampir 1,5 tahun tapi belum sempat maen ke Paris, terakhir kali ke sana tahun 2012. 4 tahun yang lalu ! Hmm...waktu terasa begitu cepat berlalu!

Saya pergi dari Bordeaux naik kereta TGV (Train a Grande Vitesse), kereta berkecepatan tinggi kebanggaan Prancis yang bisa melaju dengan kecepatan sampai dengan 300km/jam. Perjalanan menggunakan kereta dari Bordeaux ke Paris memakan waktu 3 jam 20 menit. Seperti Bandung-Jakarta lah pakai kereta api Parahyangan, tapi ini jaraknya 500 km lebih. Saat ini sedang dibangun jalur kereta api yang bisa melaju lebih cepat lagi sehingga Bordeaux-Paris bisa dicapai hanya dengan 2 jam saja.

Saya pergi ke Paris rencananya buat ngurus sebuah dokumen. Tapi jauh-jauh ke Paris ya sekalian aja buat jalan-jalan. Dari Bordeaux ke Paris, saya nemu tiket kereta api seharga 60 euros PP. Itu tiket yang paling murah dan tidak bisa diganti jadwal keberangkatannya. Buat ke Paris, kita bisa juga pake covoiturage (naik mobil orang lain dan kita bayar mereka dengan harga murah). Harga "tiket" covoiturage sebenernya jauh lebih murah tapi kalian harus siap juga berada di dalam mobil selama 8 jam ! Masalah penginapan, sekarang kita bisa pake AirBnb atau situs sewa apartemen lainnya. Tapi karena saya ingin lebih bebas, untuk kali ini saya cari hotel di Booking.com. Syukur masih bisa nemu hotel yang tidak terlalu mahal untuk menginap dua malam, harganya sekitar 90 euro untuk hotel bintang 3 di daerah Hopitan Saint Louis dekat pemberhentian metro Goncourt. 

Begitu tiba di Paris di stasiun KA Montparnasse, saya langsung menuju hotel karena tidak ingin memanggul terlalu lama tas pinggang yang cukup berat ini. Untuk bepergian dengan menggunakan transportasi umum di Paris, kita harus beli tiket metro (kereta bawah tanah) yang bisa kita gunakan juga untuk naik tram atau bis. Tiket transportasi di Paris menurut saya harganya mahal banget! Tiket buat 3 hari harganya 20 euros ! Tapi mau ga mau harus beli tiket ini soalnya kalau kalian ingin jalan-jalan lebih mudah di Paris kalian harus pake metro.  

Paris emang salah satu kota yang paling indah di dunia. Banyak banget bangunanan bersejarah yang indah yang bisa kita temui di berbagai sudut kota. Kedatangan saya yang pertama kali ke Paris pada tahun 2012, saya sudah mengunjungi cukup banyak "must visit places" di Paris. Dan kali ini saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. 

Setelah check-in di hotel, saya menuju daerah Hotel de Ville dan Le Marais. Karena saat ini sedang musim sale (solde d'hiver) maka saya berniat untuk mengunjungi sebuah toko khusus pakaian dalam pria. Di toko itu kita bisa menemukan cukup banyak variasi celana dalam, boxer, tanktop, kaos, dll dari berbagai merk terkenal dan pengunjung dibuai dengan diskon dari 40 sampai 70% ! Buat saya untuk harga celana dalam masih terlalu mahal jadinya ga ada celana dalam yang menarik untuk saya, tapi saat melihat kaos Armani yang didiskon 60% saya tidak bisa menolak ! Well...baru aja datang ke Paris udah belanja lagi... :/ 

Biar tidak terbuai dengan produk lainnya, saya langsung keluar dari toko itu dan menuju bangunan impian semua orang di dunia, La Tour Eiffel (Menara Eiffel) ! Hari sudah mulai gelap dan saya ingin melihat menara cantik ini di malam hari. Dulu rencananya saya ingin naik ke atas menara ini tetapi ketika lihat di internet, katanya saat ini sedang perbaikan jadi tidak bisa naik ke atas. Setiap jam, lampu-lampu  menara Eiffel "menari-nari", indah banget ! Setelah mengambil foto menara Eiffel dari jauh, saya jalan kaki menuju kaki menara Eiffel. Sampai di sana saya lihat ada banyak orang yang antri... Hmm...katanya tutup kok ada orang yang antri...?! Lalu saya pun memutuskan untuk ikut antri meskipun belum tau antri untuk apa. Haha

Ternyata menara Eiffel tetap buka, kita bisa naik ke atas menara ini hanya saja sampai lantai dua. Yang tutup ternyata lantai tiga alias bagian menara yang paling tinggi. Hmm...cukup kecewa karena lantai 3 tutup tapi menariknya harga tiket masuknya jadi didiskon. Kita cukup membayar 11 euro per orang. Kalau kalian berumur kurang dari 25 tahun, harga tiketnya jauh lebih murah. Malam itu suhu kota Paris dingin banget dan banyak angin. Meskipun sudah pakai jaket, kaos, mantel, tetep aja dingin banget. Tapi tidak menyurutkan niat saya untuk mengantri dan naik ke menara Eiffel. Beruntungnya kali ini bukan musim liburan jadi antriannya tidak terlalu panjang. Kalau musim panas, kita harus mengantri berjam-jam. Saya hanya mengantri setengah jam.

Setelah membeli tiket dan melewati pemeriksaan keamanan, akhirnya saya masuk ke elevator. Ada seorang perempuan muda yang terlihat sangat excited ketika berada di dalam elevator. Dia senyum-senyum sendiri dan merekam dirinya dalam lift. Mungkin naik ke menara ini adalah impian terbesar dia. Saya ikut seneng lihatnya. Kami dibawa ke lantai 2 dan saat keluar dari elevator, kami langsung disuguhkan pemandangan kota Paris yang sangat indah dengan lampu-lampu kotanya. Saya masih tidak percaya bisa naik ke atas menara Eiffel. Hanya kata-kata alhamdulillah yang bisa saya ucapkan dalam hati untuk berterima kasih kepada Tuhan. Saya cukup terharu karena menara ini adalah simbol perjuangan saya juga selama menempuh studi S1 dan simbol impian saya untuk bisa kuliah di Prancis. 

Puas menikmati pemandangan ibukota Prancis dari lantai 2, saya turun ke lantai 1 dengan menggunakan tangga. Sensasinya tentu saja beda dengan elevator. Kalian juga harus coba anak tangga menara Eiffel karena kalian bisa benar-benar merasakan dan melihat konstruksi menara ini. Saat sampai di lantai satu, saya cukup terkejut karena ternyata di sana ada tempat ice-skating ! :o Banyak orang yang ber-ice-skating ria ditemani dengan house-music. Salah satu hal yang menarik juga adalah di laintai 1 ini ada bagian lantai yang terbuat dari kaca, jadinya kaki kita menginjak lantai kaca dan kita bisa melihat pemandangan langsung di bawah menara Eiffel, orang-orang lalu lalang. Kalau kalian punya fobia ketinggian mungkin ini akan sedikit menakutkan. Haha
Saya juga menemukan tulisan "Place to kiss" di lantai. Hmm...romantis banget kalau bisa ciuman ma orang yang kamu cintai di atas menara Eiffel ! 

Well...ternyata saya sudah menulis artikel ini terlalu panjang, mungkin akan saya buat tulisan lengkapnya lain waktu. Semoga kalian bisa juga menikmati keindahan kota Paris dari foto-foto saya di bawah ini yang saya upload di akun Instagram saya @rickymardiansyah !  :) 
Voilà, Paris !!! Je reviens dans cette ville romantique en hiver ❄️ En été 2012 devant la Tour Eiffel, j'ai prié et rêvé de revenir en France et à Paris. C'est devenu la réalité ! Je suis en France depuis 2014 mais j'ai le temps de venir ici que maintenant ! ^^ 😝 Voilà, Paris !!! Je reviens dans cette ville romantique en hiver ❄️ En été 2012 devant la Tour Eiffel, j'ai prié et rêvé de revenir en France et à Paris. C'est devenu la réalité ! Je suis en France depuis 2014 mais j'ai le temps de venir ici que maintenant ! ^^ 😝#LaTourEiffel #MenaraEiffel #Paris #Parijs #Parigi #ParisJeTaime #igersParis #Parisian #France #Prancis #Perancis #Eropa #Europe #vsco #vscocam #like4like #likeforlike #follow4follow #happy #instagood #instadaily #me #iphonesia #iphoneonly #backpacker #backpacking #travel #voyage #travelgram
A video posted by Ricky Mardiansyah (@rickymardiansyah) on
















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...