Thursday, May 31, 2012

Rokok dan Sejuta Masalahnya


Berbagai negara di dunia berusaha untuk mengatasi permasalahan rokok dan tembakau. Masalah rokok ini di Indonesia bisa dibilang sudah sampai pada tahap yang sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia sepertinya tidak terlalu serius dalam mengatasi permasalahan ini. Buktinya, kini terdapat 239.000 perokok yang merupakan anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun seperti yang diberitakan dalam artikel VOA Indonesia yang berjudul “Perokok Anak di Bawah 10 tahun di Indonesia Capai 239.000 orang” tertanggal 19 Mei 2012. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan selama tahun 2008 hingga 2012 terdapat 1,2 juta perokok anak usia 10 sampai 14 tahun.


Terdapat data yang lebih mencengangkan lagi, perokok anak di Indonesia rata-rata menghabiskan 40 batang rokok perhari dan ditemukan juga fakta terbaru yakni seorang anak bernama Aldi Suganda di Sumatera Selatan yang telah merokok sejak umur 11 bulan. Ketika melihat balita perokok yang bernama Sandi asal Malang saja kita sudah kaget dan geleng-geleng kepala. Sekarang sudah ada bayi perokok. Menurut Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Komnas Perlindungan Anak, kondisi ini yang menyebabkan Indonesia disebut-sebut sebagai negara baby smoker atau perokok anak. Berbagai pihak terkait seharusnya menyelidiki awal mula penyebab anak-anak itu menjadi perokok, apakah orang tuanya juga merokok atau lingkungan sekitar rumahnya yang perokok. Jika jawabannya iya, maka KPAI dapat bekerja dengan ibu-ibu PKK di berbagai daerah untuk melakukan penyuluhan bagi para orang tua dan perokok yang ada di lingkungan mereka. Saat mereka ingin merokok, kalau bisa merokok di tempat yang tidak dilihat anak-anak. Karena anak-anak sangat mudah meniru apa yang dilakukan orang tua.

Arist Merdeka Sirait

Indonesia adalah negara ke-3 konsumen tembakau terbesar di dunia setelah Cina dan India dengan konsumsi 220 miliar batang per tahun. Mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (Alm.) dalam sebuah artikel yang dilansir VOA yang bertajuk “Lebih 43 Juta Anak di Indonesia Terpapar Asap Rokok” pada tanggal 17 maret 2012 menyatakan bahwa "Lebih dari 43 juta anak di Indonesia itu hidup satu rumah dengan perokok. Padahal anak-anak yang terpapar asap tembakau ini dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat. Kalau dia bayi yah, lebih mudah kena bronchitis, infesksi saluran pernafasan, infeksi telinga dan juga asma.". Hal ini membuktikan bahwa memang pihak perokok sendiri yang kurang kesadaran bahwa anak-anak yang ada di rumahnya sangat beresiko akibat asap rokok yang dihasilkannya. Masih sedikit juga yang tahu bahwa perokok pasif (orang yang tidak merokok tapi terkena paparan asap rokok) malah lebih beresiko dibandingkan perokok aktif, apalagi jika perokok pasifnya adalah anak-anak atau bayi.

Lebih dari 43 juta anak di Indonesia itu hidup satu rumah dengan perokok (Foto: dok) VOA.  

Pemerintah Indonesia akan mengeluarkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengendalian tembakau yang akan segera disahkan dan diberlakukan tahun ini. Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat khususnya perempuan dan anak dari bahaya merokok. Namun menurut Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Nursila Dewi, komitmen pemerintah Indonesia untuk menanggulangi masalah rokok sudah cukup baik namun pemerintah kurang tegas dalam penegakan hukumnya. Contohnya saja seperti peraturan larangan merokok di tempat umum di Jakarta, masih banyak orang yang bisa merokok secara bebas di tempat umum tanpa mendapatkan denda atau hukumanan apapun. Tempat-tempat khusus yang sudah disediakan untuk merokok di berbagai tempat umum pun seringkali sepi. Hal yang menyebalkan bagi non perokok adalah ketika di angkutan umum ada orang-orang yang merokok tanpa mempedulikan orang di sekitarnya bahkan kadang juga di dalam angkutan umum tersebut terdapat anak-anak. Para non perokok ada yang berani untuk menegurnya tetapi ada juga yang tidak, sehingga jika tidak berani mereka hanya bisa memberikan tanda-tanda bahwa mereka terganggu dengan asap rokoknya dengan menutup hidung atau batuk-batuk misalnya. Jika peraturan pemerintah dan pemda ditegakkan dengan tegas, hal tersebut tidak akan terjadi.

Peringatan sekaligus komitmen penjual dan produsen untuk menjual rokok hanya untuk dewasa (Foto: dok  VOA ).
Iswandi Morbas dari KPAI juga menyinggung bahwa di negara maju sendiri, contohnya di Amerika, iklan rokok di televisi sudah dikurangi, malah tidak ada. Iklan-iklan di luar ruangan juga sangat dibatasi. Sedangkan jika kita lihat di negara kita, perusahaan rokok dengan kemampuan finansialnya mampu membuat iklan yang sangat menarik perhatian di berbagai media massa. Ruang-ruang publik pun tak lepas dari promosi mereka seperti terdapatnya monitor raksasa yang menayangkan iklan yang terdapat di sudut-sudut jalan yang strategis seperti di kota Jakarta dan Bandung. Jembatan-jembatan penyebrangan jalan dan lampu-lampu iklan di pinggir jalan pun sangat sering kita jumpai terdapat iklan rokok. Ditambah lagi iklan-iklan rokok di televisi Indonesia sangat menarik dan gampang diingat oleh penonton sehingga sangat mungkin menjaring para perokok baru.


Faktor lain yang menjadi penyebab banyaknya jumlah perokok adalah pergaulan. Banyak remaja yang merokok dikarenakan terpengaruh teman-temannya yang merokok sehingga awalnya coba-coba menjadi ketagihan. Ada yang bilang juga rokok dapat merekatkan persahabatan dan orang bisa saling mengenal karena rokok. Perokok lainnya beralasan bahwa rokok dapat menghilangkan stress, rasa cemas, membunuh rasa bosan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, berbagai pihak yang terkait dengan masalah rokok seperti pemerintah pusat dan daerah, KPAI, pihak orang tua, pihak sekolah dan pihak lainnya agar bekerja sama dengan para pakar psikologi untuk mengubah paradigma rokok mempunyai beberapa efek positif seperti yang telah dijelaskan di atas. Kampanye anti-rokok juga sudah harus gencar dilakukan di sekolah-sekolah dasar sejak kelas 1, dilakukan juga secara rutin di SMP dan SMA di berbagai daerah.



Pemerintah Indonesia mungkin dapat juga meniru seperti yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Pangan Amerika (FDA) yang mengharuskan perusahaan rokok mengungkap bahan kimia berbahaya dalam rokok dan produk tembakau lain. Seperti yang dilansir dalam artikel VOA berjudul “FDA Terapkan Aturan Baru bagi Perusahaan Rokok” pada tanggal 30 Maret 2012, para pakar mengatakan beberapa bahan kimia, seperti formaldahye, amonia, nikotin, dan karbon monoksida yang diproduksi ketika tembakau dibakar, membuat perokok dan mereka yang menghirup asap rokok berisiko terkena penyakit jantung dan kanker paru. Tahun ini, perusahaan-perusahaan rokok harus mulai melaporkan ke 20 bahan kimia yang diketahui berbahaya bagi kesehatan kepada FDA. Perusahaan-perusahaan akan diharuskan mengungkap 73 bahan kimia lainnya suatu saat nanti. Menurut Lawrence Deyton, kepala Pusat Produk Tembakau di FDA, aturan baru itu dirancang untuk mengurangi dampak rokok bagi kesehatan masyarakat dan mendorong kaum muda untuk jangan mulai merokok atau menggunakan produk tembakau. FDA mengatakan ada lebih dari 7000 bahan kimia dalam rokok dan asap rokok. Jadi, sudah sangat jelas bahwa rokok mengandung banyak sekali zat yang berbahaya bagi tubuh, mengapa masih ingin merokok?!


Dalam artikel VOA lainnya, “Rokok Mentol Bisa Tingkatkan Risiko Stroke” tertanggal 14 April 2012, dipaparkan efek-efek negatif lainnya dari rokok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tembakau membunuh enam juta orang per tahun. Pusat Pemberantasan dan Pengawasan Penyakit Amerika juga menyatakan bahwa merokok menjadi penyebab 80 persen kematian akibat kanker paru-paru dan meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke. Sekarang ini sedang tren rokok menthol yang dianggap tidak lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa, tetapi ternyata anggapan tersebut salah. Penelitian baru yang dilakukan ilmuwan Kanada, Nicholas Vozoris, menemukan orang yang menghisap rokok mentol berisiko lebih besar terkena stroke dibandingkan dengan yang menghisap rokok biasa. Vozoris mengatakan pokoknya tidak ada yang disebut “rokok yang baik.” Semua rokok buruk untuk kesehatan kita.


Rokok memang masalah yang sangat rumit, baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi non perokok. Dibutuhkan kesadaran, kerja sama dan tekad yang kuat dari berbagai pihak untuk mengatakan tidak pada tembakau. Kampanye anti rokok harus dimulai sejak kecil dan terus dilakukan semasa pertumbuhannya, karena sekali mereka mencoba rokok, bisa jadi mereka tak akan bisa lepas dari rokok selama bertahun-tahun. Kita sebaiknya mengenalkan juga kampanye-kampanye positif lainnya kepada anak-anak dan remaja. Misalnya “gemar menabung” atau “rajin beramal”. Kita sampaikan semua manfaat menabung dan mengamalkan uang jajan mereka dibandingkan jika harus menghabiskannya untuk membeli rokok. Ayo kita bersama-sama katakan tidak pada rokok!

References:
http://www.voaindonesia.com/content/perokok-anak-di-bawah-10-tahun-di-indonesia-capai-239000-orang/727311.html
http://www.voaindonesia.com/content/article/110908.html
http://www.voaindonesia.com/content/lebih-43-juta-anak-di-indonesia-terpapar-asap-rokok-143092006/106245.html
http://www.voaindonesia.com/content/rokok_mentol_tingkatkan_risiko_stroke/177672.html
http://desaingratis.com/info/45-poster-anti-rokok-terbaik/
http://adityaananda.com/wp-content/uploads/2011/12/KAMPANYE-ANTI-ROKOK.jpg
http://suarakhairun.org/wp-content/uploads/2012/02/anti-rokok.jpg


2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...