Wednesday, March 6, 2013

Pancasila di Hatiku, Indonesia Utuh Selalu



Ada sebuah negeri nan jauh di sana yang masyarakatnya terdiri atas penutur dua bahasa, akibat perbedaannya itu sempat mengalami kebuntuan dalam pemerintahannya. Ada juga sebuah negeri yang dahulunya besar dan cukup disegani, kini terpecah menjadi beberapa negara kecil karena perbedaan etnis dan konflik lainnya. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237.556.363 orang dan merupakan negara keempat dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Hampir seperempat milyar orang tersebut terdiri dari enam agama berbeda, 1.128 suku bangsa yang berbeda, dan menggunakan sekitar 743 bahasa berbeda yang merupakan 10 persen dari seluruh bahasa di dunia. Hal tersebut membuat budaya Indonesia sangat kaya dan beragam. Sebagai individu yang merupakan salah satu entitas dari seribu lebih suku bangsa tersebut, tentunya kita menyadari bahwa kita hidup di komunitas yang multikultural dan syukurnya hingga kini Negara Kesatuan Republik Indonesia masih tetap utuh.

Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia

Berdasarkan harapan agar negeri ini kekal dan abadi dengan segala kemajemukannya, para bapak bangsa Indonesia telah membuat Pancasila sebagai pedoman dan prinsip hidup yang tak akan lekang oleh waktu. Prinsip hidup ini harus dipegang teguh oleh seluruh rakyat Indonesia agar negeri ini tetap utuh dan kuat hingga akhir zaman.  Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan lebih bernilai jika diaplikasikan tidak hanya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, tapi dalam kehidupan kita sehari-hari karena Pancasila juga merupakan identitas bangsa Indonesia yang unik dan tidak dimiliki oleh negara lain.

Kini dengan derasnya arus globalisasi dan majunya teknologi informasi, kita dapat dengan mudah untuk bergaul dengan orang asing dari berbagai penjuru dunia. Informasi terkini dari berbagai pelosok daerah maupun dari berbagai negara dapat tersebar dan diketahui dengan lebih mudah dan cepat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa selain memberikan berbagai manfaat, arus globalisasi juga memberikan berbagai pengaruh negatif. Jika kita tidak mempunyai identitas yang kuat, karakter, budaya, bahkan ideologi bangsa Indonesia akan tergerus dan dipengaruhi oleh identitas asing yang masuk tak terbendung. Terbentuknya organisasi regional ASEAN, berbagai kerjasama bilateral dan multilateral yang dijalin Indonesia, kiprah Indonesia di PBB, serta masuknya Indonesia dalam 20 negara dengan ekonomi terkuat yakni G20, mengharuskan Indonesia juga mempunyai identitas yang kuat jika ingin menjadi negara besar dan dihormati bangsa lain.

Belajar kepada sejarah, pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan bahwa Pancasila mencakup prinsip kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan. Prinsip internasionalisme Pancasila itu dapat dijadikan pedoman dalam pergaulan internasional. Pada era Soekarno juga, Pancasila sering diperkenalkan ke dunia internasional sebagai identitas bangsa Indonesia seperti pada pidato Indonesia pertama kali di Sidang Majelis Umum PBB ke-6 pada bulan November 1951 yang disampaikan oleh Menlu Ahmad Subarjo. Selain itu Pancasila juga diperkenalkan kembali melalui pidato legendaris Soekarno yang berjudul “To Build the World Anew” pada Sidang Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960 serta pidato Menlu Adam Malik pada 1 Oktober 1969 di Sidang Umum PBB ke-24. Suatu identitas bangsa tidak akan kuat jika hanya dipromosikan, identitas itu harus diimplementasikan. Konferensi orang kulit berwarna pertama di dunia yakni Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955 di kota Bandung diinspirasi oleh Pancasila. Konferensi yang mewakili mayoritas penduduk bumi pada masa itu menghasilkan Dasasila Bandung yang juga mempunyai nilai-nilai Pancasila di dalamnya. Sejumlah negara di Afrika pun menjadi merdeka setelah KAA berlangsung.

Pancasila mempunyai beberapa nilai penting yang dapat dijadikan pedoman hubungan dan kerjasama dalam komunitas global dan multikultural, diantaranya hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia, dan mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Selain itu bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Perisai Pancasila dan kelima lambang Pancasila 


Semua nilai-nilai Pancasila di atas juga telah diaplikasikan dalam penyelenggaraan KAA yang diikuti 29 negara di benua Asia dan Afrika dengan kepercayaan dan agama berbeda. Masalah-masalah politik yang timbul selama KAA dapat juga diselesaikan dengan jalan musyawarah mufakat sehingga KAA dapat berjalan dengan baik dan menjadi salah satu prestasi diplomasi Indonesia. Selain pelaksaan KAA 1955, pengamalan nilai-nilai Pancasila pun menginspirasi Indonesia untuk berperan aktif dalam pendirian Gerakan Non-Blok yang dengan gagah berani memutuskan untuk menentukan nasib sendiri dan tidak memihak blok Barat maupun blok Timur pada masa Perang Dingin. 

Masa kini, penguatan identitas bangsa dapat dilakukan dengan terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan kehidupan sehari-hari. Misalnya kita sebagai individu harus mempunyai sikap hormat menghormati terhadap pemeluk agama dengan penganut kepercayaan lainnya. Kita tidak boleh memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain karena agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan seperti yang tercakup dalam sila pertama Pancasila. 

Kita juga harus mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya seperti yang tercakup dalam sila kedua Pancasila. Jika kita tidak mempunyai sikap seperti di atas, kita akan mengalami culture shock atau kekagetan dalam bergaul di komunitas global dan multikultural karena di dunia ini banyak orang yang menganut agama dan kepercayaan selain dari enam agama yang diakui di Indonesia. Bahkan banyak juga orang yang tidak beragama tetapi mempercayai Tuhan (agnostik) maupun orang yang tidak mempercayai Tuhan sama sekali (atheis). Justru kita harus menunjukkan pada dunia bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang toleran dan dapat menerima perbedaan sehingga Pancasila sebagai identitas bangsa ini semakin kuat.

Di era globalisasi, kita dapat mengenal bahasa, budaya dan kemajuan negara lain dengan mudah. Meskipun kita terpukau dengan hal itu, tetapi kita harus tetap bangga berkebangsaan dan bertanah air Indonesia dan tetap cinta Indonesia sebagai pengamalan sila ketiga Pancasila. Jika kita tetap cinta Indonesia dan bangga menggunakan produk Indonesia misalnya, bangsa Indonesia akan mempunyai identitas yang kuat di mata dunia dan tidak akan mudah digerus oleh budaya dari luar. Kebudayaan-kebudayaan asli Indonesia pun tidak akan punah. 

Jika setiap orang Indonesia mengamalkan salah satu nilai dari sila keempat Pancasila yakni mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama, di televisi kita tidak akan melihat banyaknya tawuran dan baku hantam yang dilakukan oleh para pelajar, mahasiswa, atau bahkan anggota dewan yang terhormat di DPR. Apakah identitas bangsa Indonesia identik dengan kekerasan?

Indonesia mendapat apresiasi baik dari dunia karena Indonesia memegang teguh prinsip demokrasi, bahkan negara ini merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Tetapi pada kenyataannya bangsa Indonesia masih harus belajar banyak dari nilai-nilai sila keempat Pancasila agar proses demokrasi benar-benar berjalan baik, jujur, dan bermanfaat bagi kemajuan negeri. 

Indonesia sering dilanda bencana seperti gunung meletus, banjir, gempa bumi dan tsunami. Bencana seperti itu harus dipikul bersama, kita jangan sampai bersikap individualis. Misalnya yang dapat kita lakukan adalah meluangkan waktu atau menyisihkan sebagian uang kita untuk membantu para korban. Hal itu merupakan pengamalan nilai dari sila kelima Pancasila. Sikap suka menolong dapat memperkuat identitas dan citra bangsa Indonesia di mata dunia. Sikap tersebut sangat dibutuhkan juga dalam komunitas global karena dapat mempererat hubungan diplomatis dan historis dua bangsa contohnya bangsa Indonesia dan bangsa Palestina.

Seorang mantan pemimpin Yugoslavia, Slobodan Milošević, pernah berujar “Kehilangan identitas nasional adalah kekalahan terbesar yang dapat diketahui sebuah bangsa”. Apakah kita ingin kehilangan identitas penting bangsa besar ini, yakni Pancasila? Apakah kita ingin bangsa Indonesia mengalami kekalahan terbesarnya? Jika tidak, mari kita belajar dari sejarah negeri lain yang pernah hancur, mulai sekarang mari kita kenali Pancasila dengan lebih baik dan mencoba mengamalkan nilai-nilainya dalam keseharian kita. Andaikan di setiap hati rakyat Indonesia terdapat Pancasila, maka bangsa Indonesia akan semakin maju, utuh, kuat dan sejahtera di era globalisasi ini. Pancasila-lah yang membedakan kita dibandingkan ratusan bangsa lainnya di dunia. Pancasila di hatiku, Indonesia utuh selalu!




Referensi:
http://www.bps.go.id/
http://www.pusakaindonesia.org/
http://www.brainyquote.com/quotes/authors/s/slobodan_milosevic.html
Republika (3 Oktober 2011), artikel “Pancasila dan Diplomasi RI” karya AM Sidqi
Buku “The Bandung Connection” karya Roeslan Abdoelgani tentang sejarah KAA 1955
http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...