Saturday, March 2, 2013

Maukah Kita Punah Seperti Dinosaurus?


Sebelum manusia ada, hidup, berkembang, memanfaatkan, hingga mengeruk kekayaan alam di planet ini, dinosaurus-lah yang berkuasa selama jutaan tahun lamanya. Ratusan jenis dinosaurus mulai yang berukuran lebih kecil dari tubuh manusia hingga puluhan kali lebih besar hidup, berkembang biak, serta beradaptasi di planet hijau ini. Manusia kini hanya bisa melihat mereka dari sisa-sisa fosil yang ditemukan dan penggambaran visual dengan bantuan teknologi canggih. Para ahli dinosaurus pun masih banyak yang memperdebatkan penyebab kepunahan mereka. Zaman es, aktivitas gunung berapi, hingga hantaman asteroid ke bumi banyak dipercaya sebagai penyebab utama kepunahan mereka. Tapi menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peniliti Inggris, gas metana yang dikeluarkan oleh dinosaurus-lah yang menyebabkan kepunahan mereka.
Dinosaurus (sumber: Wikipedia)

Berdasarkan perhitungan, dinosaurus telah menghasilkan lebih dari 520 juta ton metana per tahun ke udara dan angka tersebut cukup untuk menghangatkan planet bumi. Menurut peneliti David Wilkinson dari Liverpool John Moores University, dinosaurus sauropod telah menghasilkan gas metana yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan gabungan seluruh metana yang diproduksi oleh alam dan manusia masa kini dan hal itu menyebabkan efek yang signifikan bagi iklim era Mesozoikum. Menurut para peneliti, 520 juta ton metana tersebut memerangkap suhu panas di permukaan bumi dan menyebabkan perubahan iklim. Sebagai perbandingan pada masa kini, seluruh hewan ternak yang ada di muka bumi sekarang hanya memproduksi 100 juta ton metana per tahun. Bisa jadi perubahan iklim yang ekstrem dan ketidakmampuan dinosaurus untuk beradaptasi menyebabkan kepunahan mereka.

Perubahan iklim telah dirasakan juga oleh penguasa bumi sekarang, manusia, yang mendiami bumi belum sampai jutaan tahun lamanya. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan, manusia masih dapat terus bertahan dan berkembang hingga kini mencapai 7 miliar orang. Manusia juga bisa mengekplorasi dan memanfaatkan kekayaan planet ketiga di sistem tata surya Bimasakti ini, tetapi sayangnya manusia juga menyebabkan berbagai kerusakan. Kegiatan industri manusia dan perusakan alam berkontibusi besar terhadap rusaknya lapisan ozon dan perubahan iklim yang terjadi sekarang. Musim-musim mulai tidak menentu, cuaca sulit untuk diprediksi, suhu permukaan bumi meningkat, permukaan air laut pun meningkat, suhu air laut memanas, itulah beberapa tanda perubahan iklim.

Manusia tentu sangat merasakan dampak dari perubahan iklim tersebut, golongan yang paling parah terkena dampak perubahan iklim adalah para petani dan nelayan. Para petani kini sulit untuk menentukan masa tanam dan masa panen, seringkali mereka pun mengalami gagal panen. Sedangkan para nelayan kini semakin sulit untuk mencari ikan karena seringkali ada gelombang tinggi yang membahayakan nyawa mereka jika mereka tetap melaut. Berdasarkan laporan FAO bertajuk "The State of World Fisheries and Aquaculture 2008", sebanyak 24 ribu nelayan tewas di laut. Selain itu ikan-ikan di laut pun semakin menipis karena suhu air laut meningkat dan mempengaruhi perkembangbiakan ikan. Terumbu karang banyak yang mengalami kerusakan akibat perubahan iklim. Terumbu karang adalah tempat berkembangbiaknya ikan, dan jika terumbu karang rusak sudah pasti mempengaruhi jumlah ikan di laut.

Manusia yang tinggal di Indonesia alias bangsa dan rakyat Indonesia wajib bersyukur karena diberikan kekayaan alam darat, laut, dan perut bumi yang luar biasa besarnya. Indonesia bersama Brazil dikenal sebagai paru-paru dunia yang mempunyai hutan tropis terluas di dunia, kekayaan hutan tersebut tidak hanya menghasilkan oksigen bagi seluruh penduduk bumi tetapi juga memberikan hasil hutan bagi masyarakat sekitar jika dikelola dengan baik. Indonesia pun mempunyai wilayah lautan yang lebih luas daripada wilayah daratannya dan terlebih lagi Indonesia terletak di segitiga terumbu karang (The Coral Triangle) dunia. Hal tersebut membuat laut Indonesia kaya akan ikan. Sayangnya nelayan Indonesia kebanyakan adalah nelayan tradisional yang menggunakan perahu sederhana dan mereka sangat merasakan dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Sebagai makhluk yang mempunyai akal dan pikiran, tentu manusia mempunyai tingkat adaptasi yang tinggi. Kita juga harus bisa beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi. Meskipun perubahan iklim dapat mengganggu kegiatan perekonomian dan menyebabkan semakin tingginya angka kemiskinan, tapi beradaptasi dapat membuat kita dapat tetap bertahan hidup. Banyak negara di dunia menyadari bahwa proses beradaptasi terhadap perubahan iklim sangatlah penting dan negara harus membantu rakyatnya untuk beradaptasi. Proses beradaptasi terhadap perubahan iklim pun telah dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Pengarung lautan menjadi pembudidaya rumput laut untuk bertahan hidup

Akibat perubahan iklim yang menyebabkan adanya gelombang besar dan tidak menentunya arah angin laut, nelayan-nelayan di dusun Grupuk, Lombok Tengah tidak bisa lagi terlalu mengandalkan hasil tangkapan ikan di laut. Apalagi mereka hanya menggunakan alat tangkap dan perahu mesin berukuran kecil, Para nelayan sempat terpuruk namun untungnya pemprov Nusa Tenggara Barat memperkenalkan mereka budidaya rumput laut. Warga diberi bantuan perlengkapan dan modal usaha, serta dilatih kemampuan teknis budidaya rumput laut, usaha budidaya rumput laut di Dusun Gerupuk pun semakin berkembang. Awalnya di sana hanya ada dua kelompok nelayan pembudidaya rumput laut, kini sudah ada sembilan kelompok nelayan, setiap kelompoknya beranggotakan 10-15 orang nelayan. Amaq Eko, ketua kelompok Nelayan Bangkit Bersama II, mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan aktifitas nelayan tangkap seperti tahun-tahun sebelumnya, budidaya rumput laut menghasilkan pendapatan jauh lebih besar. Dengan menggeliatnya usaha budidaya rumput laut di sana, pemprov NTB menargetkan jumlah produksi rumput laut tahun 2013 ini bisa menembus angka satu juta ton dengan kualitas standar ekspor.

Masyarakat pesisir Bali Barat memulai usaha budidaya rumput laut sejak tahun 2003. Awalnya budidaya tersebut dilakukan oleh seorang nelayan saja, tetapi pada tahun 2006 sudah didukung oleh 91 orang nelayan dari 6 kelompok nelayan dari Desa Sumber Kima dan Desa Pejarakan. Budidaya rumput laut mempunyai tujuan selain untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, tapi juga membantu pelestarian terumbu karang di wilayah Bali Barat.


Selain masyarakat Lombok Tengah dan Bali Barat, sejak tahun 2008 masyarakat di Kabupaten Nunukan juga mulai mengembangkan budidaya rumput laut. Awalnya masyarakat di sana berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sekarang rumput laut bahkan menjadi komoditi unggulan dari Kabupaten Nunukan. Akibat banyaknya masyarakat yang antusias untuk membudidayakan rumput laut, harga rumput laut pun sempat turun di pasaran. Untungnya usaha masyarakat tersebut dibantu oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nunukan yang berusaha untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait agar para petani rumput laut dapat terus berproduksi dan menjual hasil produksinya hingga ke luar negeri.

Adaptasi mengurangi dampak perubahan iklim


Selain beradaptasi akibat dampak perubahan iklim, masyarakat juga sebaiknya beradaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Seperti yang dilakukan masyarakat di Kalimantan Barat. Forum kerjasama pun dijalin berbagai pihak untuk memperkuat gerakan aksi adaptasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan kehutanan masyarakat di Kalimantan Barat. Masyarakat hukum adat dayak dan Melayu yang hidup di sana adalah komunitas yang juga menggantungkan hidupnya kepada hutan. Partisipasi mereka untuk menjaga dan memanfaatkan hutan sangat penting bagi kelestarian hutan sebagai penyerap emisi karbon. 

Di Pulau Jawa juga terdapat kelompok yang beradaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satunya adalah masyarakat pesisir di wilayah Tapak, Semarang. Peningkatan cuaca ekstrim dan kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim mengakibatkan abrasi menjadi lebih besar dan berdampak terhadap degradasi mangrove dan pesisir di Tapak. Degradasi pesisir tersebut berdampak bagi masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya adalah petani tambak dan nelayan. Rusaknya hutan mangrove sebagai pelindung pantai mengakibatkan hilangnya tambak dan menurunnya produktivitas tambak. Oleh karena itu sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim, masyarakat di sana bekerja sama dengan beberapa pihak melakukan rehabilitasi kawasan pantai dengan melakukan pembibitan dan penanaman mangrove. Untuk perlindungan pantai dari erosi, selain konservasi mangrove masyarakat juga membangun penahan ombak yang sederhana dan berbiaya murah terbuat dari ban bekas dan bambu. Usaha masyarakat Tapak patut dicontoh oleh masyarakat pesisir lainnya yang juga terancam abrasi.

Adaptasi terhadap perubahan iklim selain membutuhkan niat dan kerjasama sesama anggota masyarakat di daerah, dibutuhkan juga bantuan dan kerjasama dari pemerintah, baik itu pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, serta berbagai pihak yang peduli dan mengurusi masalah perubahan iklim. Banyak organisasi non pemerintah yang terjun langsung ke lapangan bergerak membantu masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan iklim, Oxfam salah satu contohnya. Oxfam adalah konfederasi internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Cara Oxfam membantu masyarakat diantaranya adalah dengan memberikan pinjaman usaha dan memberikan dukungan kepada masyarakat pertanian dengan memberikan sesi pelatihan pertanian dan Oxfam mendukung pembentukan koperasi lokal.

Melihat kondisi sekarang rasanya tidak mungkin dan terlalu ekstrem jika manusia akan punah seperti dinosaurus akibat perubahan iklim. Tapi bukan berarti manusia bisa menyepelekan perubahan iklim yang terjadi sekarang. Selain kita harus terus beradaptasi untuk meminimalisir akibat yang ditimbulkan dari perubahan iklim tersebut, kita juga harus beradaptasi dan mengubah kebiasaan kita masing-masing untuk tidak terus merusak alam. Sebaliknya, kita harus beradaptasi untuk bisa lebih ramah terhadap alam dan melestarikannya. Sudah banyak korban dan kerugian yang ditimbulkan akibat berbagai efek samping dari perubahan iklim. Jangan sampai planet bumi ini semakin rusak di usianya yang sudah sangat renta dan manusia yang menghuninya semakin banyak yang menderita. Jika manusia tidak ingin punah seperti dinosaurus, beradaptasilah mulai dari sekarang!


Referensi:

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...