Wednesday, November 14, 2012

Nonton Bareng Film Sang Perintis Memperingati Hari Pahlawan



Pada tanggal 10 November 2012 yang bertepatan dengan hari Pahlawan, Museum Konperensi Asia Afrika bekerja sama dengan Museum Geologi, Layar Kita, Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA), Pulasara Iket dan Jatinangorku.com mengadakan acara Nonton Bareng dan Diskusi Film “Sang Perintis : Pahlawan Geologi Indonesia’’. Film ini merupakan film dokumenter yang mengisahkan tentang dua pahlawan geologi Indonesia yakni Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro. 

Pengisian Buku Tamu


Pukul 18.00 tamu undangan dan penonton sudah mulai berdatangan. Acara nonton bareng ini gratis dan terbuka untuk umum, dilaksanakan di ruang pameran tetap Museum KAA. Beberapa petugas LO dari SMKAA bertugas berjaga di pintu masuk dan mengantarkan para tamu menuju ruang pameran tetap. Ternyata cukup banyak orang yang pada saat itu adalah pertama kalinya mereka mengunjungi Museum KAA. Publikasi yang dilakukan oleh MKAA dirasa cukup berhasil karena meskipun Bandung pada malam minggu itu telah diguyur hujan tetapi masyarakat Bandung tetap semangat untuk mengikuti pemutaran film ini dan kursi yang disediakan mencapai 100 buah kursi pun penuh terisi.

Pameran Foto Sanusi Hardjadinata


Sebelum acara di mulai, para tamu undangan dan penonton dapat melihat-lihat pameran foto langka yang mengangkat tokoh asal Jawa Barat, Sanusi Hardjadinata. Beliau adalah gubernur Jawa Barat (1951-1957) dan juga merupakan Ketua Komite Lokal Konferensi Asia Afrika 1955 yang ikut menyukseskan pelaksanaan konferensi orang kulit berwarna pertama di dunia itu. Pameran foto ini berlangsung selama bulan November 2012.

Pada pukul 19.00 WIB, acara mulai dibuka oleh MC Nabila. Setelah itu masuk ke acara inti dengan pertama-tama menonton video pidato Bung Tomo yang menggelorakan semangat para pejuang di Surabaya. Inggris yang ingin merebut kota Surabaya pada masa itu gagal karena kegigihan dan perjuangan Bung Tomo dan rakyat Surabaya meskipun dengan peralatan perang yang lebih sederhana dibandingkan dengan prajurit Inggris. Dalam video itu pun dibeberkan bahwa ternyata semangat Asia-Afrika sudah mulai muncul dengan ditandai membelotnya 300 tentara Inggris yang berasal dari Pakistan dan India, mereka lebih memilih untuk membantu Indonesia.

Mengheningkan Cipta


Setelah pemutaran video selesai, para hadirin mengheningkan cipta diiringi dengan lagu Gugur Bunga. Seluruh hadirin berdiri dan menundukkan kepalanya untuk menghormati para pahlawan bangsa yang telah gugur. Selanjutnya adalah pemutaran film documenter “The Reflexion of The 1955 Asian-African Conference and Beyond”. Kemudian dikumandangkan lagu “Emansipasi Asia Afrika” yang dinyanyikan oleh Ras Muhamad. Lagu ini merupakan theme song Bandung, Ibukota Asia Afrika. 


Penyampaian keynotes speech oleh Ely Nughara T


Acara dilanjutkan dengan penyampaian keynotes speech oleh Ely Nughara T. selaku Pelaksana harian Kepala Museum KAA. Setelah itu dimulailah pemutaran film dokumenter ‘’Sang Perintis’’ yang berdurasi sekitar 15 menit. Film ini mengisahkan tentang perjuangan dua geologis Indonesia pada masa itu yakni Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro. Menjelang Perang Dunia Kedua, pemerintah colonial Belanda mengalami kekurangan tenaga menengah di bidang geologi dan pertambangan. Para insinyur Belanda membutuhkan tenaga terlatih yang dapat membantu mereka di lapangan. Maka dari itu, pemerintah Belanda membuka kursus untuk asisten geologi di Bandung. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti kursus itu, hanya terdapat dua pemuda bumiputera yakni Arie F. Lasut dan Soenoe Soemosoesastro.


Pemutaran video pidato Bung Tomo


Di awal masa kemerdekaan Arie dan Soenoe berjuang dalam penyelamatan dokumen geologi dan tambang Indonesia dengan cara membawa dokumen-dokumen penting itu berpindah tempat mulai dari Bandung ke Tasikmalaya, lalu dibawa ke Magelang, kemudian ke Yogyakarta dan kini dokumen-dokumen itu sudah kembali lagi ke Bandung. Arie gugur ditembak mati oleh tentara Belanda di dusun Pakem, Yogyakarta. Pada tanggal 20 Mei 1969, Arie Frederik Lasut dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Setelah pemutaran film selesai, diskusi pun dimulai yang dimoderatori oleh Rany Dwi dengan para pembicara Tobing, jr dari Layar Kita, Julianty Martadiradja seorang antropolog dan bekerja di Museum Geologi, dan Ir. Danny Z. Herman, M.Sc merupakan seorang geolog. Dari hasil paparan para narasumber kita dapat mengetahui bahwa dokumen geologi adalah dokumen yang sangat penting. Selama dijajah, alam Indonesia dieksploitasi habis-habisan dan dokumen tersebut diselamatkan agar tidak jatuh ke tangan Belanda sehingga alam kita tidak dieksploitasi lagi. Data-data geologi pada saat itu sangat langka dan didapatkan dengan sangat sulit ditambah para ahli geologi juga jumlahnya masih sangat sedikit. 

Moderator dan Para Narasumber


Ibu Julianty menjelaskan bahwa cukup sulit membuat film documenter “Sang Perintis” ini karena kekurangan dokumentasi dan data-data. Dalam waktu setahun film documenter ini dapat diselesaikan. Pak Danny juga menjelaskan tantangan baru bagi para geologis Indonesia pada khususnya untuk menemukan sumber energi baru. Energi panas matahari, angin, dan panas bumi pun belum optimal dikembangkan. Pak Tobing dari Komunitas Layar Kita menekankan bahwa dokumentasi itu sangat penting. Orang Indonesia lemah terhadap dokumentasi dan merasa tidak perlu dengan dokumentasi sehingga banyak dokumen-dokumen penting bangsa Indonesia yang kini tersimpan di berbagai tempat dan museum di seluruh dunia. 


Suasana Nonton Bareng dan Diskusi Film “Sang Perintis”
Acara Makan Malam

Penyerahan kenang-kenangan kepada keluarga 
Sanusi Hardjadinata
.


Setelah pemaparan dari para narasumber, penonton diberikan kesempatan untuk bertanya. Penanya pertama adalah Pak Mamun dari Asian-African Reading Club yang menanyakan tiga pertanyaan mengenai geologi, dokumentasi dan Gunung Padang menurut pandangan antopolog dan geolog. Masih banyak yang ingin mengajukan pertanyaannya tetapi karena waktunya sudah habis makanya terpaksa tidak dapat diterima. Setelah sesi diskusi selesai, lalu diadakan penyerahan kenang-kenangan dari pihak MKAA yang diberikan oleh Ely Nugraha T kepada perwakilan keluarga Arie F. Lasut dan Soenoe Soemosoesastro. Kemudian Bu Ely juga memberikan kenang-kenangan dari MKAA untuk para narasumber. Terakhir acara ditutup dengan pemanjatan doa oleh Excecutive Coordinator Sahabat MKAA yakni Gilang A. Jabbar dan makan malam. Dengan dilaksanakannya acara ini, membuka khazanah kita tentang sisi lain para pahlawan yang tidak hanyak berjuang melalui pertempuran tetapi juga berjuang menyelamatkan dokumen penting bangsa dalam bidang geologi.

(Ditulis oleh Ricky Mardiansyah : Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika dan Tutor Klab Maghribi MKAA)

Ayo ikuti acara-acara yang diadakan oleh Museum Konperensi Asia Afrika lainnya. Ikuti tweets nya di @AsiAfricaMuseum 


4 comments:

  1. Terima kasih telah menulis tentang diskusi film SANG PERINTIS. Sayangnya anda tidak cermat menulis, khususnya ketika menuliskan nama narasumber dan peristiwa yang terjadi. Untuk nama narasumber adalah JULIANTY MARTADIRADJA (BUKAN Martadinata). Kedua, pada foto penyerahan kenang-kenangan dari Ibu Ely Nugraha, yang diserahi kenang-kenangan adalah keluarga Sanusi Hardjadinata. Lain kali hati-hati dan lebih cermat lagi dalam menulis berita. Terima kasih

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak Bu sudah mengunjungi blog saya dan memberikan koreksinya. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan dan sudah saya perbaiki kesalahan tersebut. Terima kasih banyak :)

    ReplyDelete
  3. Pa Ricky , perkenalkan saya AviantyMartadiradja , adik kandung ibu Julianty. Saya ingin menginformasikan bhw kakak saya tsb telah wafat dgn tenang pd hr selasa 20 Mei 2014 di RS.Santosa Bandung, akibat sakit kanker lever stadium IV yg tlh dideritanya slm sethn terahir. Mohon kiranya Pa Ricky dpt memaafkan kesalahannya dan mendo'akannya. Juga mohon pertolongannya utk menginfokan wafatnya ini pd teman2 komunitas museum lainnya yg mungkin blm tau. Makasih pa Ricky

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yth Bu Avianty, saya sangat terkejut mendngar berita duka ini dan saya pribadi mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya ibu Julianty. Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT. Amiin. Saya akan informasikan mengenai berita ini kepada Sahabat Museum lainnya.
      Terima kasih banyak atas infonya Bu.
      Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberikan kekuatan dan ketabahan.
      Terima kasih Bu.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...