Saturday, November 17, 2012

Energi Alternatif, Warisan Bagi Generasi Masa Depan


Pemerintah Indonesia memperkirakan cadangan minyak akan habis dalam 10 tahun lagi. Sebuah berita yang sangat menyedihkan bagi generasi mendatang, generasi yang hanya akan menerima dampak negatif dari seluruh eksploitasi energi yang dilakukan oleh generasi sekarang dan generasi terdahulu. Apakah kita hanya akan mewariskan mereka pemanasan global akibat alam yang kita rusak dan emisi yang kita hasilkan sekarang serta mewariskan isi perut bumi yang telah kosong karena ekploitasi habis-habisan yang telah kita lakukan?  Tidak, kita harus mewariskan sebuah energi alternatif yang membuat mereka dapat bertahan hidup untuk puluhan tahun hingga ratusan tahun mendatang.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung karena Tuhan telah menganugerahi kita kepulauan terbesar di dunia yang tak hanya cantik, tapi juga kaya akan isi perut bumi yang berharga seperti minyak bumi, gas, batu bara, emas, timah, dan masih banyak lainnya. Jika kita berpikir lebih jauh lagi, negara ini sebenarnya kaya juga akan energi alternatif yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini kita menggunakan emas hitam, gas, atau batu bara sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik dan bahan bakar kendaraan, tapi bagaimana jika ketiga Sumber Daya Alam itu habis ? Energi panas matahari, energi panas bumi atau bahkan limbah bisa jadi solusinya !

Negara kita terletak di khatulistiwa dan mendapatkan panas matahari sepanjang tahun sehingga energi panas matahari sangat berpotensi untuk dapat menghasilkan energi listrik. Sekarang Eropa saja yang tak punya sinar matahari sepanjang tahun mencari panas matahari sampai ke gurun Sahara di Afrika Utara. Beberapa negara dari Benua Biru bekerjasama dan berencana untuk membangun instalasi panel surya di gurun pasir terluas di Afrika itu untuk menghasilkan energi listrik dan diproyeksikan dapat menggantikan energi nuklir yang mereka gunakan sekarang. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) juga dikenal ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi.

Panel Surya
 Namun terdapat kendala dalam implementasi PLTS di Indonesia karena negara kita masih mengimpor sel surya yang merupakan komponen termahal dalam PLTS. Tetapi riset dan pengembangan sel surya harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan dengan Sumber Daya Manusia yang kita miliki, kita pasti mampu mengembangkan sel surya apalagi jika didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti PT Pertamina misalnya. Dana yang besar yang dibutuhkan untuk pengembangan sel surya dan PLTS seharusnya dianggap sebagai investasi masa depan. Jika minyak dan gas habis toh pemerintah tak harus mengeluarkan dana untuk subsidi BBM lagi dan dana itu bisa digunakan untuk pengembangan energi terbarukan ini.

Energi potensial kedua adalah panas bumi atau geothermal. Indonesia terletak di zona gunung berapi atau sering disebut ring of fire zone karena itu dari pulau Sumatera hingga ke Kepulauan Maluku terdapat banyak gunung berapi. Hal itu membuat kita dianugerahi potensi energi panas bumi terbesar di dunia, 40% dari energi panas bumi dunia ada di negara kita. Sayangnya energi ini belum dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembangkit listrik.

Potensi Panas Bumi Indonesia tersebar di 253 lokasi dengan total potensi sebesar 27 ribu MW

Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi  (PLTP) juga ramah lingkungan karena hampir tidak menimpulkan polusi atau emisi gas rumah kaca, selain itu tidak menimbulkan polusi suara. Pembangkit listik tenaga geothermal dapat menghasilkan listrik sekitar 90%, lebih efisien jika dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang hanya 65-75%. Beberapa fakta di atas sudah cukup membuktikan bahwa panas bumi akan sangat menguntungkan untuk dimanfaatkan apalagi ketika minyak dan gas sudah habis. Agar pembangunan PLTP berjalan lancar, pemerintah harus mengajak partisipasi masyarakat sekitar tempat PLTP dibangun serta mereka harus merasakan manfaatnya.

PLTP Wayang Windu di Kabupaten Bandung

Untuk membangun PLTP, kita harus menggali hingga kedalaman 1,5 KM atau lebih untuk mencapai cadangan panas bumi itu. Teknologi penggaliannya pun sama seperti penggalian sumur minyak bumi sehingga PT Pertamina dapat membantu pembuatan PLTP ini karena PT Pertamina mempunyai banyak geologis handal dan Pertamina sudah berpengalaman di bidang penggalian perut bumi. Contoh PLTP yang sudah dibangun adalah di Kabupaten Bandung. Wilayah ini memiliki potensi panas bumi sebesar 2.681 megawatt (mW) tetapi baru 26% yang sudah dimanfaatkan. Meskipun demikian, energi geothermal dari Kabupaten Bandung ini sudah mampu menyuplai kebutuhan energi listrik Jawa-Madura-Bali. Bayangkan jika semua potensi panas bumi yang Indonesia miliki dimanfaatkan sebaik-baiknya, negeri ini tidak akan lagi mengalami krisis energi.

Energi alternatif lainnya yang bisa dimanfaatkan ketika minyak dan gas habis adalah biofuel. Biofuel adalah bahan bakar yang berupa cair, padat, atau gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik berupa tanaman atau limbah industri dan rumah tangga. Semakin padatnya penduduk dunia dari tahun ke tahun membuat limbah yang dihasilkan pun semakin banyak. Jika kita memanfaatkan limbah ini untuk menghasilkan biofuel, kita tidak hanya akan mendapatkan sumber energi tetapi kita dapat juga melestarikan bumi yang sudah semakin rusak ini. Limbah yang kita hasilkan tidak terbuang percuma dan menjadi bencana bagi bumi namun menjadi manfaat jika dikelola dengan baik.
      
Salah satu contoh produk dari biofuel adalah biogas. Gas ini diperoleh melalui proses anaerobik digestion dari berbagai macam limbah organik seperti sampah dapur, sampah restoran, sampah pertanian, kotoran manusia, dan kotoran hewan. Kotoran manusia sekarang terbuang percuma dan bahkan sampah dan kotoran hewan menghasilkan gas metana yang merusak lapisan ozon. Jika limbah-limbah tersebut kita kumpulkan, kita proses dan kita ubah menjadi biogas, maka biogas itu bisa kita gunakan sebagai bahan bakar kendaraan. 

Proses Biogas
Dengan proses yang baik, biogas ini 97% mirip dengan gas alam.  Biogas pun tidak menghasilkan efek rumah kaca seperti energi yang dihasilkan dari fosil, Di kota Linkoping, Swedia, sekitar 1000 kendaraan seperti bus, taksi dan kendaraan pribadi menggunakan biogas sebagai bahan bakar. Ketika suatu saat gas alam habis, Indonesia seharusnya tidak perlu khawatir jika pemerintah mulai sekarang serius mengembangkan dan mendukung teknologi biofuel/biogas ini karena negara kita juga merupakan penghasil limbah yang luar biasa besar.

Panas matahari dan geothermal adalah sumber energi yang masih kita sia-siakan sekarang ini padahal kedua energi itu dapat menjadi energi alternatif di masa depan karena mau atau tidak mau energi fosil pasti akan habis. Di saat yang sama kita pun terus menghasilkan limbah yang mengotori dan merusak bumi yang sudah tua ini. Dengan pemanfaatan limbah untuk menghasilkan biofuel maka kita bisa mendapatkan energi alternatif sekaligus melestarikan alam. Sudah seharusnya kita mulai memanfaatkan ketiga sumber energi itu secara optimal agar kelak anak-cucu kita dapat hidup dengan tenang dan lebih baik berkat lingkungan yang lebih hijau dan pasokan energi yang cukup meskipun energi fosil telah habis kita gunakan di masa kini. 


Referensi dan Gambar:
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-global/Energi-Bersih/geothermal/
http://www.wwf.or.id/?25540/WWF-Indonesia-Saatnya-panas-bumi-menjadi-prioritas-pengembangan-energi-nasional-yang-berkelanjutan


4 comments:

  1. Sebenarnya kalau mau dibilang tidak menimbulkan polusi suara itu tidak bener juga mas. Karena bagaimanapun juga aliran udara itu selalu menimbulkan getaran, terlebih kalau mengalami turbulensi dalam pipa. Belum lagi nanti putaran turbinnya itu sangat keras sekali. Salah satu turbin yang tenaganya dari geotermal itu pada jarak 10m dari turbin saja tingkat kebisingannya bisa sampai 120dB lho.

    ReplyDelete
  2. Makasih mas buat komennya :)
    Oh begitu ya... Itu saya dapetin dari sumber yang saya baca sih... Tapi apakah ada teknologi yang bisa meredam kebisingan itu? Harusnya sih ada, soalnya kan kebanyakan sumber gheotermal tuh ada di deket masyarakat juga. Nanti mereka merasa terganggu dan ga mau dibangun PLTP lagi. Tapi harusnya masalah kebisingan bisa diatasi ma pengelola PLTP, apalagi kalau mau geothermal dioptimalkan pemanfaatannya di Indonesia. Mungkin perusahaan sekelas PT Pertamina punya solusinya :)

    ReplyDelete
  3. Sebenarnya justru sumber geotermal itu biasanya jauh dari pemukiman mas. Karena sumber panas magmatik biasanya diperoleh di gunung api yang dormant menuju mati atau post volcano. Coba dilihat yang di gambar PLTP Wayang Windu itu kan jauh dari pemukiman. CMIW

    ReplyDelete
  4. Tapi hal sebaliknya justru terjadi di PLTP Kamojang Garut, "...sebelum adanya PLTP itu masyarakat yang bermukim di sana itu sedikit, tetapi kini sudah banyak, ini menunjukan kalau alam disana tidak terganggu dengan adanya PLTP tersebut..."
    http://sumedangonline.com/camat-proyek-geothermal-banyak-manfaatnya/6275/

    Atau malah masih banyak warga yang takut dengan pembangunan PLTP di daerahnya seperti di PLTP Baturaden http://desa.bloggerbanyumas.net/kekhawatiran-warga-terhadap-pltp-baturaden/

    Kalau pemerintah benar-benar serius memanfaatkan geothermal dan sosialisasi ke masyarakat jg dilakukan dgn gencar dan benar pasti masyarakat tidak akan menolak dan tidak akan merasa terganggu oleh PLTP ini

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...