Friday, November 30, 2012

Linimassa 2, Cerita Luar Biasa dari Linimasa Bangsa


          Film adalah media yang ampuh yang tak hanya berperan sebagai hiburan semata, tetapi lebih dari itu film bahkan bisa menjadi alat propaganda politik pada masa Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur atau sebagai alat penyebaran budaya dan pengaruh dari negara adikuasa seperti sekarang ini. Jika diproduksi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepedulian, film dapat juga menjadi alat edukasi dan penyebar energi-energi positif bagi masyarakat luas. Sudah sejak lama saya suka menonton film dari berbagai genre tapi untuk genre film dokumenter, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dari satu tangan.

Nonton Bareng di MKAA
 Linimassa 2 adalah sebuah film dokumenter yang diproduksi secara crowd funding atau patungan yang disutradarai Dandy Laksono. Sebuah istilah yang baru saja saya ketahui. Ternyata biaya produksi film ini berasal dari hasil patungan berbagai kalangan baik itu perseorangan maupun institusi dan uang yang terkumpul adalah senilai Rp 167.884.707. Bukan hanya masalah patungan itu saja yang menjadi keunikan film ini, tapi juga pemutaran serentak film Linimassa 2 di 50 titik di seluruh Indonesia! Kedua hal tersebut membuat saya semakin penasaran dengan isi film ini. Kemudian saya menonton film ini di acara Nonton Bareng Linimassa 2 di Museum Konperensi Asia Afrika, Bandung. 

Adegan-adegan pertama film Linimassa 2 ini diisi dengan cuplikan-cuplikan siaran berita dari berbagai media massa nasional yang memberitakan mengenai konflik Ambon 11 September lalu. Saya semakin penasaran apakah maksud dibalik itu. Pada akhirnya saya tergugah dengan kenyataan yang cukup mengejutkan. Saya adalah orang yang senang menonton berita di beberapa TV nasional dan dengan film ini saya tersadar ternyata media mainstream tersebut memberitakan sesuatu yang belum tentu benar terjadi di lapangan. Saya pun suka dengan kata-kata dalam film itu “Musuh terbesar media adalah dirinya sendiri, musuh yang mestinya diajak berdamai. Berdamai dengan rating dan iklan”. 

Di era reformasi dan kebebasan berpendapat ini, kebanyakan media massa di Indonesia masih kalah oleh musuhnya dan lebih mementingkan rating dan iklan. Pemberitaan mengenai Ambon pun tak sesuai dengan kenyataan sebenarnya dan malah semakin memperpanas keadaan. Untungnya ada orang-orang yang peduli dan melawan menggunakan teknologi terkini, yakni sosial media. Almas contohnya, seorang pemuda dari Ambon yang menggunakan Twitter untuk mengklarifikasi keadaan yang sebenarnya terjadi di sana. Ada juga berbagai komunitas berbeda di Maluku yang berkomitmen untuk menciptakan perdamaian. Film Linimassa 2 ini membuat saya kagum dengan orang-orang seperti mereka dan bermimpi bahwa suatu saat nanti media massa di Indonesia akan didominasi oleh peace journalism.
Masyarakat mungkin sudah lelah dan bosan dengan pemberitaan-pemberitaan media yang selalu menampilkan kericuhan, tawuran, kericuhan, lalu tawuran, lalu kericuhan lagi yang terjadi di berbagai daerah di tanah air. Kita butuh informasi positif yang akan membuat pikiran kita menjadi positif juga sehingga kita akan melakukan hal-hal positif dalam kehidupan ini. Untungnya film Linimassa 2 ini menampilkan segudang hal hebat yang digambarkan dengan perjalanan seorang jurnalis bernama Manda. Ia berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk bertemu orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa dengan bantuan teknologi.
Setelah dari Maluku, perjalanan Manda berlanjut ke Yogyakarta untuk mendatangi sebuah cyber village di sana. Hal ini mengungkapkan fakta bahwa RT/RWnet Mandiri rintisan Onno W. Purbo sudah cukup berhasil  sehingga di kampung itu 90% rumahnya mempunyai akses internet. Bahkan di pos kamling kampung tersebut ada akses internet! Hal itu yang membuat saya terkejut dan penonton pun tertawa. Warga di sana juga terbantu dengan kehadiran internet, mulai dari anak-anak yang menggunakan internet sebagai alat bantu belajar maupun sebagai hiburan, sampai orang yang menggunakan internet untuk berniaga. Film ini mengajarkan satu poin penting bagi orang tua yakni mereka harus menemani anak-anaknya saat mengakses internet agar anak-anak tidak terpengaruh dampak buruk dari internet.
Penggunaan internet yang sehat ternyata malah dapat menguntungkan kita, seperti yang dicontohkan Lek Iwon yang menggunakan Facebook dan blog sebagai media promosi jualan batiknya. Batik Lek Iwon pun terjual hingga ke mancanegara. Bukan hanya komersil yang menjadi tujuannya, tapi juga keinginan untuk melestarikan batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Selain Lek Iwon, masih banyak orang yang menjadikan teknologi sebagai sahabat, bahkan juga sebagai sarana untuk melestarikan bumi. Di pedalaman Jawa Barat, lebih tepatnya di Tasikmalaya terdapat sebuah radio komunitas bernama Ruyuk FM yang mempunyai misi mengajak orang untuk melakukan penghijauan. Mereka juga mempunyai website dan menggunakan perangkat lunak berbasis open source, sebuah sistem operasi yang gratis dan aman dari virus.
Kita yang tinggal di kota besar yang mayoritas mendapatkan akses internet dengan mudah patut bersyukur. Saudara kita di pedalaman Tasikmalaya sana bahkan harus mencari sinyal internet hingga ke tengah sawah. Di tengah keterbatasannya itu, mereka tidak menggunakan internet untuk hal yang sia-sia, tapi untuk menginformasikan kegiatan warga desa, program pemerintah, dan laporan desa. Bahkan warga kampung sendiri yang menjadi kontributornya. Patut diacungi jempol!

Srikandi-srikandi Indonesia pun tak tinggal diam. Mereka melihat peluang dan menjadikan internet dan sosial media sebagai alat perjuangan, perjuangan melawan stigma, diskriminasi dan kekurangtahuan masyarakat. Perjalanan Manda Sang Jurnalis berlanjut di Jakarta dan di sana ia bertemu dengan para srikandi hebat, mereka adalah Ayu Oktariani dari komunitas ODHA Berhak Sehat, Angkie Yudistia dari komunitas disabilitas dan komunitas Emak-emak Blogger,
Ayu menjadikan Facebook dan Twitter sebagai sarana sosialisasi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) kepada masyarakat. Selama ini masih sangat banyak orang yang tidak tahu apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya dan bahkan masyarakat masih mendiskriminasi ODHA. Dengan adanya komunitas ODHA Berhak Sehat di film Linimassa 2 ini setidaknya masyarakat yang menonton menjadi tahu bahwa wanita maupun pria dengan HIV/AIDS masih bisa menikah dan mempunyai anak seperti orang biasa lainnya. Selain itu ODHA pun sama dengan orang sehat lainnya, yang membedakan hanyalah virus. Oleh karena itu sudah selayaknya masyarakat tidak lagi mendiskriminasi ODHA.
Ada juga srikandi hebat lainnya dari komunitas disabilitas yang diwakili oleh Angkie Yudistia. DIa menyadari bahwa diskriminasi akan selalu ada dan sebagai perempuan penyandang disabilitas dia mendapatkan diskriminasi yang berlipat ganda tapi dia tidak ingin dikasihani. Lalu Angkie menggunakan sosial media untuk melawan diskriminasi terhadap hak yang seharusnya penyandang disabilitas dapatkan. Kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan tidak kurang suatu apapun seharusnya bersyukur dan malu apalagi jika kita mendiskriminasi sahabat kita penyandang disabilitas. Sahabat disabailitas hanya ingin diperlakukan dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti orang lain.
Film Linimassa 2 ini juga membuat saya kembali tertegun ketika srikandi lainnya hadir, seorang wanita paruh baya berusia 72 tahun bernama Yati Rachmat yang tetap produktif dengan berbisnis online melalui blog. Beliau salah-satu anggota dari Emak-emak Blogger. Pernyataannya yang mengatakan bahwa beliau takut cepat pikun sehingga beliau terjun ke sosial media membuat saya berpikir apakah yang akan saya lakukan jika saya diberi umur hingga 72 tahun. Apakah saya bisa tetap produktif seperti beliau? Kita semua patut mencontoh beliau yang mempunyai keinginan dan semangat yang kuat untuk belajar sesuatu yang baru dalam hal ini internet dan sosial media dan tetap produktif. Orang awam yang belum tahu banyak tentang internet yang melihat film ini mungkin bisa mengetahui bahwa internet dapat menjadi peluang bisnis yang baik.

Perjalanan Manda kembali berlanjut ke pulau Lombok. Di sana ia bertemu komunitas radio Primadona FM yang diciptakan masyarakat Kampung Bajo dengan segala keterbatasannya. Para pendengar radio itu dapat menyampaikan keluh kesahnya mengenai pelayanan publik maupun keadaan sekitarnya. Film Linimassa 2 ini juga membuktikan bahwa kondisi pendidikan di daerah terpencil masih sangat memprihatinkan, terlihat dari kondisi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Pawang Tumpas Barat yang beratapkan terpal dan bertiang bambu dekat kandang sapi! Meskipun begitu, beruntung kita masih memiliki orang-orang hebat yang bekerja dengan ikhlas tanpa bayaran seperti ibu guru SIoni. Kemendikbud dan para wakil rakyat yang duduk di gedung megah di ibukota sana seharusnya melihat film ini agar mereka sadar dan malu itupun apabila mereka masih punya (rasa malu). 
Ibu guru Sioni hanya bisa mengeluh ke Primadona FM itu, entah bagaimana kelanjutan ceritanya di Lombok sana. Saya hanya berharap semoga PAUD-nya mendapatkan bantuan yang semestinya. Lalu hadir sosok Pak Kitanep, seorang penjaga hutan Taman Nasional Rinjani yang juga harus menjaga pasokan air bagi sebuah dusun di sana. Untuk kerja kerasnya selama sebulan, Pak Kitanep hanya digaji total Rp. 315.000. Ketika pipa bocor dan warga menderita kekurangan air, Pak Kitanep juga mengadu ke Primadona FM sehingga pemerintah turun tangan memberikan bantuan. Berkat bantuan internet, foto-foto pipa bocor yang diambil Pak Kitanep diunggah ke dunia maya oleh komunitas Primadona FM sehingga bantuan semakin mengalir. Gaji yang kecil tak menghalangi Pak Kitanep untuk bekerja dengan baik dan ikhlas, hal yang patut dijadikan contoh oleh kita semua khususnya Anggota Dewan yang terhormat.
Banyak pengetahuan yang kita dapatkan dengan menonton film Linimassa 2 ini. Kita jadi tahu bahwa ada banyak orang biasa di berbagai daerah di Indonesia yang melakukan hal-hal luar biasa berkat penggunaan bijak teknologi dan internet. Meskipun hidup dengan segala kekurangannya tetapi mereka tetap bisa melakukan hal yang berguna bagi banyak orang. Selain itu kita juga tahu data statistik pengguna internet, sosial media, dan telepon selular di Indonesia yang luar biasa banyaknya. Ditambah kita harus pandai-pandai menyerap informasi khususnya yang dikeluarkan oleh media mainstream dan kita jangan mudah terprovokasi. Film Linimassa 2 pun ditutup dengan lantunan indah nan merdu lagu berjudul Maluku Tanah Pusaka yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly.
Linimassa2 yang dipersembahkan oleh ICT Watch merupakan sebuah film dokumenter yang sangat bagus, ceritanya begitu menarik dan berbobot disertai beberapa gambaran alam Indonesia yang indah. Film ini bagaikan gambaran linimasa bangsa Indonesia yang menampilkan cerita-cerita luar biasa. Film ini seharusnya diputar juga di semua sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia agar mereka tertular energi positif dari film ini. Linimassa 2 juga menggugah kesadaran kita semua khususnya saya sebagai orang yang tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas yang ada. Ayo kita belajar dari sosok-sosok hebat di film ini dan kita gunakan teknologi serta internet sebaik-baiknya agar berguna bagi orang banyak demi kemajuan Indonesia tercinta!

http://youtube.com/internetsehat 

5 comments:

  1. Saya belum pernah nonton. Cuma punya DVD originalnya yang Linimassa 1 tok...

    ReplyDelete
  2. Saya malah belum nonton yang Linimassa 1 :D Rame ga?
    Oya untuk Linimassa 2, nonton aja di Youtube Internet Sehat :)

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum, Mas Ricky Mardiansyah, setelah sekian tahun berlalu, baru hari ini berkunjung ke blog Mas Ricky. Kenapa? Karena bunda sedang membuat sebuah tulisan untuk diikutkan dalam lomba menulis dalam ranggka ultah ke-4 Kumpulan Emak2 Blogger, sebuah komunitas yang meng-orbitkan bunda untuk berada di film dokumenter Linimassa#2 - Sebuah kebanggaan yang tak terbayar dengan nilai rupiah. Singkat saja, apakah boleh bunda kutip pernyataan/komentar Mas Ricky tentang bunda di postingan ini? Boleh, ya, ya, ya? #maksasibunda. Sementara menunggu approval dari Mas Ricky,buda akan memuat yang ini untuk melengkapi postingan bunda. (akan bunda sebutkan link url blog Mas Ricky koq. Terimakasih sebelumnya. Salam hangat dari blogger renta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum salam Bunda ! Wah...boleh banget kok Bunda ! Kalau tulisan bunda udah jadi, Ricky boleh baca? hehe
      Semangat ya Bun! Dan semoga sukses. Makasih udah berkunjung ke blog Ricky :)

      Delete
  4. Mas Ricky, maaf balasan dari Mas Ricky ini baru bunda liat siang ini, hehe...sudah hampir 5 bulan, ya. Gapapa, Insya Allah bunda akan share tulisan Mas Ricky di postingan bunda terkini plus bunda ambil gambar dvd-nya. Terima kasih banyak.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...