Thursday, May 31, 2012

Rokok dan Sejuta Masalahnya


Berbagai negara di dunia berusaha untuk mengatasi permasalahan rokok dan tembakau. Masalah rokok ini di Indonesia bisa dibilang sudah sampai pada tahap yang sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia sepertinya tidak terlalu serius dalam mengatasi permasalahan ini. Buktinya, kini terdapat 239.000 perokok yang merupakan anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun seperti yang diberitakan dalam artikel VOA Indonesia yang berjudul “Perokok Anak di Bawah 10 tahun di Indonesia Capai 239.000 orang” tertanggal 19 Mei 2012. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan selama tahun 2008 hingga 2012 terdapat 1,2 juta perokok anak usia 10 sampai 14 tahun.


Terdapat data yang lebih mencengangkan lagi, perokok anak di Indonesia rata-rata menghabiskan 40 batang rokok perhari dan ditemukan juga fakta terbaru yakni seorang anak bernama Aldi Suganda di Sumatera Selatan yang telah merokok sejak umur 11 bulan. Ketika melihat balita perokok yang bernama Sandi asal Malang saja kita sudah kaget dan geleng-geleng kepala. Sekarang sudah ada bayi perokok. Menurut Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Komnas Perlindungan Anak, kondisi ini yang menyebabkan Indonesia disebut-sebut sebagai negara baby smoker atau perokok anak. Berbagai pihak terkait seharusnya menyelidiki awal mula penyebab anak-anak itu menjadi perokok, apakah orang tuanya juga merokok atau lingkungan sekitar rumahnya yang perokok. Jika jawabannya iya, maka KPAI dapat bekerja dengan ibu-ibu PKK di berbagai daerah untuk melakukan penyuluhan bagi para orang tua dan perokok yang ada di lingkungan mereka. Saat mereka ingin merokok, kalau bisa merokok di tempat yang tidak dilihat anak-anak. Karena anak-anak sangat mudah meniru apa yang dilakukan orang tua.

Arist Merdeka Sirait

Indonesia adalah negara ke-3 konsumen tembakau terbesar di dunia setelah Cina dan India dengan konsumsi 220 miliar batang per tahun. Mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (Alm.) dalam sebuah artikel yang dilansir VOA yang bertajuk “Lebih 43 Juta Anak di Indonesia Terpapar Asap Rokok” pada tanggal 17 maret 2012 menyatakan bahwa "Lebih dari 43 juta anak di Indonesia itu hidup satu rumah dengan perokok. Padahal anak-anak yang terpapar asap tembakau ini dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat. Kalau dia bayi yah, lebih mudah kena bronchitis, infesksi saluran pernafasan, infeksi telinga dan juga asma.". Hal ini membuktikan bahwa memang pihak perokok sendiri yang kurang kesadaran bahwa anak-anak yang ada di rumahnya sangat beresiko akibat asap rokok yang dihasilkannya. Masih sedikit juga yang tahu bahwa perokok pasif (orang yang tidak merokok tapi terkena paparan asap rokok) malah lebih beresiko dibandingkan perokok aktif, apalagi jika perokok pasifnya adalah anak-anak atau bayi.

Lebih dari 43 juta anak di Indonesia itu hidup satu rumah dengan perokok (Foto: dok) VOA.  

Pemerintah Indonesia akan mengeluarkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengendalian tembakau yang akan segera disahkan dan diberlakukan tahun ini. Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat khususnya perempuan dan anak dari bahaya merokok. Namun menurut Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Nursila Dewi, komitmen pemerintah Indonesia untuk menanggulangi masalah rokok sudah cukup baik namun pemerintah kurang tegas dalam penegakan hukumnya. Contohnya saja seperti peraturan larangan merokok di tempat umum di Jakarta, masih banyak orang yang bisa merokok secara bebas di tempat umum tanpa mendapatkan denda atau hukumanan apapun. Tempat-tempat khusus yang sudah disediakan untuk merokok di berbagai tempat umum pun seringkali sepi. Hal yang menyebalkan bagi non perokok adalah ketika di angkutan umum ada orang-orang yang merokok tanpa mempedulikan orang di sekitarnya bahkan kadang juga di dalam angkutan umum tersebut terdapat anak-anak. Para non perokok ada yang berani untuk menegurnya tetapi ada juga yang tidak, sehingga jika tidak berani mereka hanya bisa memberikan tanda-tanda bahwa mereka terganggu dengan asap rokoknya dengan menutup hidung atau batuk-batuk misalnya. Jika peraturan pemerintah dan pemda ditegakkan dengan tegas, hal tersebut tidak akan terjadi.

Peringatan sekaligus komitmen penjual dan produsen untuk menjual rokok hanya untuk dewasa (Foto: dok  VOA ).
Iswandi Morbas dari KPAI juga menyinggung bahwa di negara maju sendiri, contohnya di Amerika, iklan rokok di televisi sudah dikurangi, malah tidak ada. Iklan-iklan di luar ruangan juga sangat dibatasi. Sedangkan jika kita lihat di negara kita, perusahaan rokok dengan kemampuan finansialnya mampu membuat iklan yang sangat menarik perhatian di berbagai media massa. Ruang-ruang publik pun tak lepas dari promosi mereka seperti terdapatnya monitor raksasa yang menayangkan iklan yang terdapat di sudut-sudut jalan yang strategis seperti di kota Jakarta dan Bandung. Jembatan-jembatan penyebrangan jalan dan lampu-lampu iklan di pinggir jalan pun sangat sering kita jumpai terdapat iklan rokok. Ditambah lagi iklan-iklan rokok di televisi Indonesia sangat menarik dan gampang diingat oleh penonton sehingga sangat mungkin menjaring para perokok baru.


Faktor lain yang menjadi penyebab banyaknya jumlah perokok adalah pergaulan. Banyak remaja yang merokok dikarenakan terpengaruh teman-temannya yang merokok sehingga awalnya coba-coba menjadi ketagihan. Ada yang bilang juga rokok dapat merekatkan persahabatan dan orang bisa saling mengenal karena rokok. Perokok lainnya beralasan bahwa rokok dapat menghilangkan stress, rasa cemas, membunuh rasa bosan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, berbagai pihak yang terkait dengan masalah rokok seperti pemerintah pusat dan daerah, KPAI, pihak orang tua, pihak sekolah dan pihak lainnya agar bekerja sama dengan para pakar psikologi untuk mengubah paradigma rokok mempunyai beberapa efek positif seperti yang telah dijelaskan di atas. Kampanye anti-rokok juga sudah harus gencar dilakukan di sekolah-sekolah dasar sejak kelas 1, dilakukan juga secara rutin di SMP dan SMA di berbagai daerah.



Pemerintah Indonesia mungkin dapat juga meniru seperti yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Pangan Amerika (FDA) yang mengharuskan perusahaan rokok mengungkap bahan kimia berbahaya dalam rokok dan produk tembakau lain. Seperti yang dilansir dalam artikel VOA berjudul “FDA Terapkan Aturan Baru bagi Perusahaan Rokok” pada tanggal 30 Maret 2012, para pakar mengatakan beberapa bahan kimia, seperti formaldahye, amonia, nikotin, dan karbon monoksida yang diproduksi ketika tembakau dibakar, membuat perokok dan mereka yang menghirup asap rokok berisiko terkena penyakit jantung dan kanker paru. Tahun ini, perusahaan-perusahaan rokok harus mulai melaporkan ke 20 bahan kimia yang diketahui berbahaya bagi kesehatan kepada FDA. Perusahaan-perusahaan akan diharuskan mengungkap 73 bahan kimia lainnya suatu saat nanti. Menurut Lawrence Deyton, kepala Pusat Produk Tembakau di FDA, aturan baru itu dirancang untuk mengurangi dampak rokok bagi kesehatan masyarakat dan mendorong kaum muda untuk jangan mulai merokok atau menggunakan produk tembakau. FDA mengatakan ada lebih dari 7000 bahan kimia dalam rokok dan asap rokok. Jadi, sudah sangat jelas bahwa rokok mengandung banyak sekali zat yang berbahaya bagi tubuh, mengapa masih ingin merokok?!


Dalam artikel VOA lainnya, “Rokok Mentol Bisa Tingkatkan Risiko Stroke” tertanggal 14 April 2012, dipaparkan efek-efek negatif lainnya dari rokok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tembakau membunuh enam juta orang per tahun. Pusat Pemberantasan dan Pengawasan Penyakit Amerika juga menyatakan bahwa merokok menjadi penyebab 80 persen kematian akibat kanker paru-paru dan meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke. Sekarang ini sedang tren rokok menthol yang dianggap tidak lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa, tetapi ternyata anggapan tersebut salah. Penelitian baru yang dilakukan ilmuwan Kanada, Nicholas Vozoris, menemukan orang yang menghisap rokok mentol berisiko lebih besar terkena stroke dibandingkan dengan yang menghisap rokok biasa. Vozoris mengatakan pokoknya tidak ada yang disebut “rokok yang baik.” Semua rokok buruk untuk kesehatan kita.


Rokok memang masalah yang sangat rumit, baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi non perokok. Dibutuhkan kesadaran, kerja sama dan tekad yang kuat dari berbagai pihak untuk mengatakan tidak pada tembakau. Kampanye anti rokok harus dimulai sejak kecil dan terus dilakukan semasa pertumbuhannya, karena sekali mereka mencoba rokok, bisa jadi mereka tak akan bisa lepas dari rokok selama bertahun-tahun. Kita sebaiknya mengenalkan juga kampanye-kampanye positif lainnya kepada anak-anak dan remaja. Misalnya “gemar menabung” atau “rajin beramal”. Kita sampaikan semua manfaat menabung dan mengamalkan uang jajan mereka dibandingkan jika harus menghabiskannya untuk membeli rokok. Ayo kita bersama-sama katakan tidak pada rokok!

References:
http://www.voaindonesia.com/content/perokok-anak-di-bawah-10-tahun-di-indonesia-capai-239000-orang/727311.html
http://www.voaindonesia.com/content/article/110908.html
http://www.voaindonesia.com/content/lebih-43-juta-anak-di-indonesia-terpapar-asap-rokok-143092006/106245.html
http://www.voaindonesia.com/content/rokok_mentol_tingkatkan_risiko_stroke/177672.html
http://desaingratis.com/info/45-poster-anti-rokok-terbaik/
http://adityaananda.com/wp-content/uploads/2011/12/KAMPANYE-ANTI-ROKOK.jpg
http://suarakhairun.org/wp-content/uploads/2012/02/anti-rokok.jpg


Tuesday, May 29, 2012

Kembali Belajar HAM dari Bangku SD


Setelah dua puluh tiga tahun hidup di dunia ini, banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah berlalu yang dapat saya renungkan kembali dan mungkin dapat dijadikan pelajaran ke depannya. Banyak juga hal yang baru saya sadari dan mengerti sekarang. Kali ini mengingatkan saya ketika saya masih kecil dan duduk di Sekolah Dasar. Ibu saya memasukkan saya ke Sekolah Dasar swasta yang letaknya agak jauh dari rumah, sekitar tiga kilometer. Padahal di dekat rumah saya ada sebuah SD Negeri yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Setelah dewasa, saya merasa beruntung bisa bersekolah di sana dan saya sadar bahwa banyak pelajaran yang saya dapatkan.

Anak-anak yang bersekolah di sana sangat beragam dan dari berbagai kalangan. Ada teman-teman yang membuat saya ingat hingga sekarang. Salah satunya sebut saja Edo. Dulu saya berpikir dia anak yang sangat aneh dan saya heran mengapa anak seperti itu bisa bersekolah di sana. Saya tidak tahu persisnya dia kenapa, tetapi dia sering berbicara sendiri, sedikit hiperaktif serta kadang suka marah-marah tidak jelas bahkan kadang sampai memukul temannya. Hal itu membuatnya jadi olok-olokan dan sering diganggu anak-anak lain. Dia juga merupakan teman satu mobil antar-jemput saya. Ketika melihat ibunya, ternyata ibunya sangat baik hati dan ramah. Entah kenapa dari dulu saya sudah merasa beliau adalah ibu yang hebat, dengan tegar dia membesarkan anaknya dan menyekolahkan anaknya ke sekolah umum meskipun ada kekurangan dalam diri anaknya. Beliau pun sering sekali menunggui dan menjemput anaknya.

Kini saya mengerti bahwa beliau termasuk ibu yang menghargai Hak Asasi Manusia anaknya, dalam hal ini termasuk ke dalam Hak Anak. Dalam dunia internasional terdapat Konvensi Hak Anak atau Convention on rights of the Child yang merupakan perjanjian internasional yang mengatur tentang hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari anak-anak. Indonesia sendiri menandatangani Konvensi ini pada 26 Januari 1990 dan melakukan ratifikasi terhadap konvensi ini melalui Keputusan Presiden No 36 Tahun 1990 yang dikeluarkan pada 25 Agustus 1990. Dalam Konvensi Hak Anak ini ada empat prinsip penting yaitu prinsip non diskriminasi, prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, prinsip kepentingan terbaik bagi anak, dan prinsip partisipasi anak.

Dalam kasus teman SD saya itu, saya sangat mengapresiasi ibunya dan juga pihak sekolah. Sang ibu ingin anaknya tidak mendapatkan diskriminasi dan beliau menyekolahkannya ke sekolah umum karena beliau ingin anaknya bisa tumbuh seperti anak-anak yang lain. Pihak sekolah pun sangat saya hargai karena pertama-tama mereka mau menerima anak tersebut untuk menuntut ilmu di sekolahnya dan secara nyata saya melihat pihak sekolah memang tidak melakukan diskriminasi dalam pengajaran dan perlakuan terhadap teman saya tersebut dan yang lainnya. Guru-guru di sana malah berusaha agar Edo bisa menjadi seperti anak lain dan sabar dalam memberikan pelajaran baginya. Pihak sekolah pun sangat menghargai prinsip partisipasi dalam kegiatan belajar dan mengajar. Meskipun tahu bahwa Edo sedikit berbeda dengan anak lainnya, tapi guru-guru juga mengajukan pertanyaan dan meminta pendapatnya meskipun seringkali jawaban Edo membuat seisi kelas tertawa.



SD saya ini juga sangat menghargai hak kebebasan beribadah bagi anak-anak di sekolah. Meskipun mayoritas pengurus sekolah beragama Nasrani, tetapi anak-anaknya mayoritas muslim dan terdapat juga anak yang beragama Hindu. Meskipun jumlah anak yang beragama Hindu bisa dihitung jari, namun setiap pelajaran agama, sekolah mendatangkan guru agama Hindu khusus untuk mereka. Begitu pula bagi penganut Katolik dan Protestan. Setiap hari Jumat pun di sekolah diadakan shalat Jumat bersama. Saya sekarang merasa sangat bersyukur bisa sekolah di SD dengan toleransi beragama yang baik.

Setelah 6 tahun berlalu dan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan SMA saya tidak pernah mendengar lagi kabarnya. Suatu hari ketika saya akan membayar uang semesteran kuliah di suatu bank, saya melihat sosok wanita yang saya rasa kenal. Ternyata dia ibunya Edo. Lalu saya menyapanya dan kami mengobrol. Ternyata Edo berkuliah di kampus yang sama seperti saya, bahkan dia memilih suatu jurusan IPA. Saya sangat terkejut dan kagum dengan beliau dan juga Edo sendiri. Ternyata ibunya terus menyekolahkannya ke jenjang SMP dan SMA umum hingga akhirnya Edo bisa lolos Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (nama SNMPTN pada waktu itu) dan kuliah di salah satu PTN di Bandung. Saya sangat kagum dengan perjuangan ibu Edo untuk memenuhi Hak Asasi Manusia anaknya karena Edo juga berhak atas kelangsungan hidup serta tumbuh kembangnya dan saya rasa ibunya memberikan yang terbaik bagi anaknya hingga kini anaknya sudah dewasa. Beberapa lama setelah itu, tak sengaja saya bertemu Edo di kampus. Meskipun sudah sama-sama dewasa, tapi mukanya masih dapat saya kenali dan ternyata dia banyak berubah. Dia sudah tidak seperti dulu lagi dan dia sudah seperti anak lainnya. Saya ikut merasa senang untuknya dan saya sangat kagum pada perjuangan ibunya selama ini.

Saya harap, bagaimanapun keadaan anak, orang tua dapat memenuhi segala Hak Anak-nya dan pihak sekolah pun dapat menghargai dan menjamin HAM anak-anak yang bersekolah di sana. Jangan sampai terjadi lagi kasus sekolah yang menolak seorang anak karena ayahnya mengaku sebagai ODHA seperti yang pernah terjadi dahulu. Saya sangat mengapresiasi ibu teman saya tersebut dan pihak SD saya dulu. Semoga banyak pihak yang belajar dari pengalaman mereka. Bagaimanapun fisik dan mental anak-anak, mereka tetap berhak untuk hidup dan dijamin kelangsungan hidupnya serta mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dalam berbagai aspek kehidupan pun, kita harus menghargai HAM orang lain jika ingin hak kita sendiri juag dihargai.


Sumber:
http://hamblogger.org/sekilas-mengenal-konvensi-hak-anak/
http://1.bp.blogspot.com/-E8TQsBNqeIE/TdZMicVll6I/AAAAAAAAADY/HWBmn65cEM4/s1600/diknas-wrn1.jpg

Monday, May 28, 2012

Agama yang Semakin Ditinggalkan


Agama ada di dunia ini berfungsi sebagai pedoman dalam menjalani hidup kita, mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan antar sesama manusia, dan dapat juga memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama. Tapi kini agama mengalami pergeseran dalam kehidupan manusia di berbagai belahan bumi, terutama di Eropa dan Amerika. Meskipun mereka memiliki agama dikarenakan keturunan dari orang tuanya, tetapi banyak orang yang tidak benar-benar mengamalkan ajaran agamanya. Bahkan mereka cenderung tidak mempercayai isi ajaran agamanya atau bahkan Tuhannya.

Menurut berita yang dilansir situs VOA Indonesia yang berjudul “Makin Banyak Kaum Muda AS Tolak Ajaran Agama Tradisional” tertanggal 16 Mei 2012, dilakukan sebuah jajak pendapat mengenai masalah agama oleh Berkley Center for Religion, Peace & World Affairs pada Universitas Georgetown. Hasilnya diketahui bahwa banyak pemuda meninggalkan agama yang mereka anut sejak kecil dan pada umumnya mereka memilih untuk tidak menganut agama tertentu. Sekitar seperempatnya malah tidak memeluk agama apapun. Hasil tersebut cukup mengejutkan dan dapat menggambarkan fenomena agama yang terjadi dalam masyarakat muda di Amerika Serikat. Selain itu hanya 23 persen responden dalam jajak pendapat tersebut yang menyatakan percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan dan harus dipahami secara harfiah.

Saya memilik beberapa teman di Eropa, seperti di Perancis, Belanda dan Italia. Ketika kami membahas masalah agama, mereka mengakui bahwa mereka beragama Katolik karena kedua orang tua dan keluarga besarnya juga Katolik tetapi sebenarnya mereka tidak terlalu meyakini ajaran agamanya. Bahkan teman yang di Belanda dan Perancis tidak terlalu yakin bahwa Tuhan itu ada. Mereka percaya ada sesuatu “kekuatan” di alam semesta ini tetapi mereka tidak menemukan kepercayaannya pada agama. Mereka berpikir bahwa kitab suci bisa saja hanya buatan manusia yang isinya direkayasa. Saya senang bisa bertukar pendapat seperti itu dan menemui pandangan yang berbeda. Sebuah keyakinan atau agama memang tidak dapat dipaksakan kepada seseorang. Kita pun tidak dapat menyalahkan pendapat mereka itu karena semua orang bebas berpikir, berpendapat, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.


Bagi kalangan pemuka agama, hal itu bisa menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan. Mungkin seharusnya sekarang agama-agama di dunia mulai memikirkan cara-cara pendekatan yang lebih nyaman dan mudah diterima bagi banyak orang karena agama-agama tradisional mulai tidak mendapatkan tempatnya di hati anak muda. Dalam berita VOA di atas juga diinformasikan bahwa kampus-kampus perguruan tinggi pada umumnya merupakan tempat yang paling tidak ramah terhadap agama di Amerika Serikat, karena banyak orang menjauh dari agama ketika masih muda, sekitar umur 18-24 tahun. Para peneliti di sana juga menemukan bahwa kurang dari 50 persen para pemuda itu yang punya akun Facebook menyebut agama pada halaman profil mereka. Banyak faktor bisa menjadi penyebabnya, misalnya karena pengaruh budaya, perkembangan ilmu pengetahuan atau juga faktor pemikiran mereka yang sangat rasional. Sedangkan agama sendiri meskipun rasional tetapi dibutuhkan kepekaan dan keyakinan yang lebih untuk bisa mempercayainya.

Agama-agama di Dunia (sumber: wikipedia)

Hal itu bukan tidak mungkin dapat juga terjadi di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Jika kita lihat fenomena akhir-akhir ini di mana terdapat sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam tetapi sering melakukan kekerasan dalam aksinya dan sering mengeluarkan ancaman. Meskipun demikian, aparat polisi dan pemerintah tidak berani untuk menindak mereka secara tegas. Menurut saya hal itu memperburuk citra Islam sendiri dan Indonesia pada umumnya. Setelah heboh dengan masalah Lady Gaga, teman-teman saya di Eropa langsung menanyakan hal tersebut dan mereka heran mengapa ancaman dan kekerasan bisa dihalalkan di Indonesia? Saya hanya dapat menjelaskan semampu saya dan sebaik mungkin agar citra Indonesia tidak semakin buruk. Saya sebagai orang Islam pun sangat malu dengan hal tersebut.

Bagaimana orang dapat simpatik terhadap agama jika dakwahnya dilakukan dengan ancaman dan kekerasan? Bukankah agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian? Bagaimana dunia ini dapat damai dan tentram jika kekerasan atas nama agama selalu dibiarkan? Kembali ke teman saya yang di Italia, dia bertanya apakah umat Buddha di Indonesia banyak? Saya menjawabnya lalu dia mengungkapkan bahwa dia tertarik dengan agama Budha karena agama itu menurutnya mengajarkan kedamaian. Kebanyakan orang tentunya menginginkan kedamaian dan ketentraman dalam hidupnya. Oleh karena itu sangat menyedihkan jika ada kekerasan yang mengatasnamakan agama dan jika terus dibiarkan bukan tidak mungkin orang-orang di Indonesia akan seperti kaum muda di Amerika Serikat yang menolak ajaran agama tradisional.


Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people 
Living for today 

Imagine there's no countries 
It isn't hard to do 
Nothing to kill or die for 
And no religion too 
Imagine all the people 
Living life in peace 
(IMAGINE - John Lennon)


Agama apapun itu seharusnya menjadi pedoman hidup yang menentramkan dan menebarkan perdamaian di muka bumi ini serta mengamalkan setiap ajarannya dengan cara yang baik dan mengikuti perkembangan jaman sehingga tidak akan ditinggalkan oleh para pemeluknya. Robert Jones, kepala Public Religion Research Institute, yang ikut dalam jajak pendapat itu mengemukakan bahwa para pemuda menolak agama yang tradisional dan lebih menyukai kehidupan spiritual yang tidak terlalu mengikat. Selain itu ada fakta yang unik yang ditemukan para peneliti. Teryata kurang dari 50 persen dari para pemuda itu yang punya akun Facebook menyebut agama pada halaman profil mereka. Semua berbagai fakta di atas hendaknya menjadi renungan bagi para pemimpin spiritual, pemuka agama, dan berbagai kelompok agama di dunia. 


Friday, May 25, 2012

Ujian dalam Mempertahankan “Bhinneka Tunggal Ika”


Para pendiri bangsa ini dengan pemikiran visionernya telah memikirkan fondasi bangsa yang kuat agar tak retak dengan berbagai cobaan dan benturan dari dalam maupun dari luar. Pancasila dan UUD 1945 diharapkan menjadi panduan yang tepat bagi kelangsungan negara besar dan majemuk ini. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika yang berarti 'berbeda-beda tetapi tetap satu' menjadi semboyan yang begitu agung dan sebuah pengakuan serta kesadaran bahwa bangsa Indonesia memang terdiri dari berbagai ras, suku, bangsa dan agama, oleh karena itu generasi-generasi terdahulu mengharapkan agar generasi sekarang dan mendatang tetap menjaga semua berpedaan itu dalam keharmonisan. Inginkah bangsa Indonesia yang merupakan negara terbesar di Asia Tenggara ini terpecah seperti negara Yugoslavia di masa lalu? Tentu saja kita tidak ingin hal itu terjadi.


Jika kita melihat keadaan sekarang dengan maraknya masalah yang terjadi dalam salah satu poin perbedaan yang dimiliki bangsa ini, yaitu agama, kita harus merasa sangat khawatir. Negara kita mengakui semua agama seperti yang juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Sidang Universal Periodical Review PBB Indonesia di Jenewa, Swiss. Beliau juga menyatakan bahwa UU no 1 PNPS 1965 adalah untuk melindungi 6 agama yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu, tetapi hingga kini benturan antara mayoritas dan minoritas agama masih terus terjadi yang dapat mengancam persatuan bangsa dan bahkan melanggar Hak Asasi Manusia.

Kasus yang baru-baru ini menjadi perhatian publik bahkan dunia adalah kasus GKI Yasmin, sebuah gereja di Bogor. Kasus intoleransi ini berawal dari penutupan gereja yang diperintahkan oleh pemerintah setempat meskipun Mahkamah Agung meminta pemda untuk membukanya. Perbedaan perintah itu menimbulkan gesekan antara jemaat gereja dan para pemrotes. Selain itu, di Bekasi juga ada permasalahan perijinan pembangunan gereja HKBP Filadelfia yang mendapatkan tentangan dari masyarakat sekitar. Hal-hal seperti itu harus diselesaikan pemerintah dengan tuntas dan baik. Jangan dibiarkan berlarut-larut karena ada kemungkinan menjadi konflik horizontal dalam masyarakat.


Memang tidak mudah dan sikap hati-hati sangat diperlukan dalam menyelesaikan konflik agama seperti itu. Para aktivis HAM, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak-pihak yang berkonflik harus berpedoman pada hukum dan aturan yang berlaku di Indonesia. Jika memang pihak minoritas benar-benar menyalahi peraturan, hukum harus tetap ditegakkan. Namun pihak mayoritas juga diharapkan tidak melakukan tindakan kekerasan dalam menyampaikan aspirasinya dan jika memang pihak minoritas melakukan prosedur yang tepat dan tidak melanggar hukum, pihak mayoritas harus legowo menerimanya, misalnya dengan mempersilahkan pembangunan rumah ibadah.

Kasus lainnya yang berhubungan dengan agama adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang mengatasnamakan agama. Kelompok tersebut telah berkali-kali melakukan tindak kekerasan kepada orang-orang yang mereka anggap “melakukan tindakan salah”. Negara harus tegas menindak para pelanggar hukum dan pelanggar HAM tersebut, meskipun pelanggar itu adalah suatu ormas yang mempunyai pendukung banyak. Jika negara melalui aparatur negaranya yakni Polri takut atau tidak bertindak tegas terhadap kelompok tersebut, akan jadi seperti apa Indonesia nanti?

Agama adalah isu yang sangat sensitif dan bagian dari Hak Asasi Manusia karena manusia bebas memilih agama apa yang akan mereka anut dan yakini. Setiap manusia pun berhak untuk beribadah apalagi negara ini telah menjaminnya dalam undang-undang. Jangan sampai kekerasan merajalela dan jangan sampai isu agama memecahbelah bangsa ini. Harus diakui memang tidak mudah mengatasi permasalahan HAM dan agama di Indonesia yang baru saja 14 tahun lepas dari belenggu otoriter. Harus diakui pula bahwa pemerintah kita banyak melakukan kemajuan.

Berbagai kelompok pembela HAM, ormas, kelompok agama, pemerintah dan masyarakat luas sebaiknya saling bekerja sama untuk mengatasi berbagai permasalahan HAM dan agama di Indonesia dengan tetap mengutamakan toleransi, persatuan dan kesatuan bangsa. Bhinekka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang dengan gagahnya dicengkram oleh burung garuda sebagai lambang negara. Semboyan ini merupakan kebanggan kita sebagai suatu negara dengan keberagaman yang sangat tinggi. Dalam sidang UPR di Swiss tersebut, negara-negara lain contohnya Srilanka mengakui Indonesia adalah negara yang multi-etnik, multi-agama, multi-budaya, dan pasti tidak mudah menegakkan HAM.



Permasalahan HAM begitu rumit sehingga negara yang dianggap merupakan penegak HAM yakni Amerika Serikat sendiri juga tak lepas dari masalah pelanggaran HAM dengan adanya laporan Amnesty Internasional yang mencatat bahwa ada penganiayaan di penjara-penjara AS yang ada di Irak, Afganistan, Guantanamo, dan ditempat-tempat lain. Meskipun demikian, dengan kerjasama berbagai pihak tadi, Indonesia pasti bisa mengatasi permasalahan HAM dan agama yang ada sebagai ujian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah negara kepulauan terbesar di dunia ini dapat tetap utuh dengan memegang semboyan Bhinneka Tunggal Ika hingga 50 atau 100 tahun ke depan? Semuanya ada di tangan kita, bangsa Indonesia sendiri.

References:
http://twitter.com/#!/hrw_id
http://www.hrw.org/asia/indonesia
http://www.indonesiancommunity.net/img/logo/Peta%20idn.png
http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/03/02/85945_suasana_sidang_tahunan_dewan_ham_pbb_di_jenewa__swiss_641_452.jpg
http://farm3.static.flickr.com/2479/3701101870_c4dae1d914.jpg 



Friday, May 18, 2012

The Story of My Graduation Day! Wisuda!

Wisuda merupakan pesta dan hari yang paling ditunggu bagi mahasiswa dan orang tuanya. Begitu juga bagi saya dan orang tua saya. Setelah berjuang 4,5 tahun lebih di jurusan Sastra Perancis yang cukup sulit (untuk keluar) ini, akhirnya saya lulus pada tanggal 15 Maret 2012 dan menunggu wisuda yang dilaksanakan tanggal 9 Mei 2012.

Gladi resik pada tanggal 7 Mei 2012 pun saya ikuti dengan senang hati. Toga dan topinya pun sudah ditangan. Pada gladi resik para wisudawan dibagi undangan yang berlaku bagi dua orang. Ternyata kalung wisudanya belum dibagi, dan harus diambil di Jatinangor. Saya dan Visarah meminta bantuan Mela untuk mengambilkannya karena kebetulan dia pun akan ke Jatinangor. 

Pada hari H, saya dan kedua orang tua saya sudah sibuk dari subuh untuk siap-siap. Setelah semuanya siap, kami lalu ke jalan raya depan rumah karena Om saya akan mengantarkan kami semua ke tempat wisuda di kampus UNPAD DU. Lalu setelah sampai di DU, kami menuju gerbang kampus dan di sana sudah banyak orang tua, wisudawan, penjual bunga dan tukang foto. Hmm...rasanya senang bercampur dengan excited. Langsung beberapa tukang foto menawari saya dan orang tua untuk berfoto. Akhirnya kami tergiur untuk berfoto. Soalnya kapan lagi momen seperti ini. 

Saya bersama keluarga

Setelah berfoto, akhirnya saya bertemu teman-teman seperjuangan saya yang lain! Jessi, Mela, Rani, Lia. Mereka semua tampil sangat cantik dengan kebayanya. Kami semua berkumpul dan berfoto bersama. Waktu terus berlalu dan pihak kampus sudah memanggil para wisudawan untuk masuk karena acara akan segera dimulai. Orang tua saya sudah masuk terlebih dulu karena bapak tidak kuat berdiri lama-lama. Saya dan Visarah tidak bisa masuk karena perlengkapan kami belum lengkap, kalung wisuda kami masih di Mela dan Mela terjebak macet! OMG. Kami pun panik dan jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih. Teman-teman yang lain menunggu kami. Lalu seorang Menwa menyuruh saya masuk, dan saya pun berkata "Tapi kalung saya masih di temen, gimana?" Lalu dia menjawab, "Oh, masuk aja, nanti ada kok cadangannya di pihak Fakultas". 

Setelah mengetahui hal tersebut, kami semua berjalan menuju gedung Graha Sanusi Harjadinata. Rasa senang, cemas, deg-degan bercampur aduk. Ternyata semua wisudawan Fakultas Ilmu Budaya sudah berbaris di depan gedung dan bersiap untuk masuk. Saya dan Visarah memberitahu seorang bapak dari pihak Fakultas bahwa kalung kami masih di temen. Beliau menjawab "Oh tenang aja, ada kok cadangannya." Huff...saya langsung merasa lega! Beliau pun memberikan kami kalung. Setelah itu kami masuk ke barisan dan merapikan toga, topi dan memakai kalung. 

Mela, Ricky dan Teh Dede

"Siap-siap, Ilmu Budaya akan masuk!" teriak seorang petugas. Lalu barisan pun mulai maju. Kami semua berjalan perlahan memasuki gedung "kramat" itu dan petugas wisuda ada di sisi kiri dan kanan. Tali topi saya ternyata letaknya kurang tepat, jadi seorang petugas merapikan letak talinya. Lalu kami masuk ke ruang utama yang sudah penuh dengan orang tua. Mereka pun memperhatikan kami. Saya melihat ibu dan bapak saya sudah duduk di sebelah kanan, dan ibu memberitahu saya dengan isyarat bahwa rambut saya masih terlihat dan saya pun merapikan letak topi saya. 

Setelah sampai di bagian kursi fakultas kami, kami pun mencari kursi kami masing-masing. Sudah ada nama dan nomor kursi di setiap kursi. Ternyata nomor itu sesuai dengan urutan nomor kami lulus dari Fakultas. Sebelah saya kosong karena teman sidang saya, Icha Ayu, sedang liburan di Perancis. Sebelah kirinya lagi adalah dua orang kakak kelas saya di jurusan. Wisuda kali ini adalah rekor bagi jurusan Sastra Perancis UNPAD yang bisa mengirimkan 12 orang untuk wisuda!! Sebelumnya, paling banyak 8 orang setiap gelombang wisuda. Di angkatan saya, angkatan 2007, yang mengikuti wisuda hanya 4 orang dan kami adalah 6 orang pertama yang lulus dari angkatan kami. Begitulah gambaran sulitnya untuk lulus dari jurusan kami tercinta. 

Di depan kampus UNPAD DU

Beberapa lama kemuadian acara pun dimulai. Kami berdiri saat para guru besar dan rektor memasuki ruangan. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya sangat senang bisa menyanyikan lagu kebangsaan lagi dan di momen yang spesial ini. Lalu kami pun duduk kembali dan setelah pembukaan, dimulailah pemanggilan wisudawan untuk diberi ijasah dan salaman dengan Rektor. Fakultas Ilmu Budaya ada di urutan kedua. Setelah semua wisudawan magister selesai maju, sekarang bagian wisudawan sarjana. Saya dapat urutan ke 25. Saya sangat senang dan bersyukur ketika nama saya dipanggil "Ricky Mardiansyah Dengan Pujian" lalu diiringi tepuk tangan dari orang-orang, sama seperti semua wisudawan yang mendapat predikat cumlaude. Saya tidak pernah berpikir dapat lulus dengan IPK seperti sekarang karena pada setahun pertama di kampus, IPK saya 2,34!! 

Dapat dibayangkan betapa bahagia dan bersyukurnya saya sekarang bisa lulus dengan cepat dengan nilai yang cukup memuaskan. Semuanya saya lakukan selain untuk saya sendiri, tapi juga untuk kedua orang tua saya yang telah berjuang dan membantu sehingga saya sekarang bisa diwisuda. Setelah mengambil ijasah, bersalaman dan difoto dengan rektor, saya kembali duduk. Setelah semuanya mendapatkan panggilan, ada ikrar wisudawan yang diwakilkan kepada wisudawan dari Fakultas Keperawatan. Ada juga penampilan nyanyi diiringi kecapi oleh dua orang wisudawan dari FIB. Kemudian ada "Persembahanku", yakni pemberian bunga dan ucapan terima kasih secara simbolis dari beberapa wisudawan yang menghampiri ke tempat kedua orang tua mereka duduk dan memberikan bunga tersebut. 

Saya dan para sahabat

Lalu ada pembacaan doa oleh Pak Fahmi. Dan saat itulah saya menangis tersedu-sedu... Saya sangat tersentuh dengan kata-kata yang Pak Fahmi ucapkan dan saya jadi membayangkan kedua orang tua saya. Hanya saya dan kedua orang tua saya yang tahu bagaimana perjalanan saya selama 4 tahun lebih ini untuk menuntut ilmu dan bagaimana cobaan datang menghadang. Namun berkat semua perjuangan dan doa mereka, akhirnya saya bisa juga meraih gelar sarjana. Semoga saya dapat membuat mereka bangga! 

Acara wisuda pun berakhir setelah para guru besar dan rektor turun dan keluar ruangan. Lalu lampu ruangan menjadi redup dan digantikan dengan lampu-lampu laser warna hijau, dan yang membuat saya terkejut ada balon-balon sabun yang keluar dari atap bagian kanan dan kiri. Wisuda UNPAD memang keren dan tak akan terlupakan! Saya bangga dan senang bisa menjadi bagian dari kampus ini dan sekarang saya menjadi almamater UNPAD. Semoga dengan semua ilmu yang saya dapatkan, saya dapat berguna dan membanggakan almamater, orang tua, bangsa dan negara. 

Setelah bubar, saya dan keluarga saya berfoto lagi di kampus DU, sahabat saya Feri sengaja membawa kamera SLR miliknya. Senangnya.... Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Christine dan Sheira datang juga dan memberikan saya bunga biru! Makasih ya Ayy n Mami! :) Lalu Ulan dan Acoco pun datang, Acoco ngasih saya bunga biru juga! :) Makasih ya So! Banyak teman-teman seangkatan lain juga datang dan Ayu memberi saya bunga mawar pink! :) Makaish Ayu! Kami pun berfoto. Lalu Pipit dan Uli, sahabat saya lainnya, datang juga dan membawa bouquet bunga! Senangnya...makasih ya Nak n Uli. Tiba-tiba Ulan permisi mau ke depan katanya, dia pergi sama Acoco. Eh tahunya waktu kembali, dia bawa balon angry bird biru buat saya!! Hahaha. Dia memang gokil! Makasih ya Lan... Dia bilang semua orang ngasih bunga, dia pengen beda sendiri, makanya ngasih saya balon gas angry bird itu! Sabahat-sabahat saya memang tahu benar bahwa saya suka warna biru! :) Setelah itu kami pergi ke Jonas Cihampelas Walk untuk berfoto studio. Di sana ketemu Bunga juga. Setelah dari Jonas, saya mengajak sahabat-sahabat saya ke rumah saya karena ibu saya mengadakan makan-makan kecil-kecilan. :) Arsya yang tidak datang ke kampus, ternyata sudah ada di rumah saya sebelum saya sampai. hehe. Makasih ya Sya!

Saya dan anak2 SasPer 2007

Terima kasih saya ucapkan untuk Allah SWT yang selalu membantu saya dan membuat semuanya menjadi mungkin, kedua orang tua tercinta atas perjuangannya, adik saya, keluarga besar saya khususnya Om dan Tante saya, pacar saya di Perancis yang selalu mendukung saya, sahabat-sahabat saya yang membuat masa-masa perkuliahan menjadi menyenangkan, tidak kalah dari masa SMA, juga untuk teman-teman seperjuangan lainnya. Oya, tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih bagi pemerintah Indonesia yang telah memberi saya subsidi uang kuliah dan juga beasiswa yang pernah diberikan bagi saya.  

@Jonas CiWalk

Untuk semua mahasiswa, jangan pernah pantang menyerah untuk memperbaiki nilai jika kita mempunyai kesempatan untuk itu sebelum kita lulus. Semoga dengan ilmu yang kita miliki, kita bisa berguna bagi sesama dan bagi negara. Untuk orang-orang yang tidak bisa merasakan pendidikan tinggi, jangan pernah menyerah dan putus asa, mungkin kita hanya berbeda kesempatan dan jalan saja. Bisa jadi juga kalian lebih beruntung dari kami. Mari kita berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik dan berusaha untuk memajukan bangsa ini.

Saturday, May 12, 2012

Botol Pipa Ajaib dari Belanda untuk Dunia


     Air adalah sumber utama kehidupan di bumi ini. Tapi, tahukah kamu bahwa setengah penduduk bumi menghabiskan 70 liter air yang dapat diminum hanya untuk menyiram toilet mereka dan ada banyak orang di belahan bumi lain yang mati kehausan? Gerardo Vallen dan Lorenzo de Rita berpikir bagaimana cara agar air dapat didistribusikan dengan lebih adil di dunia ini, sedangkan Belanda sendiri adalah negara yang “kebanyakan” air dan terus berjuang dari ancaman air.
     

     Mereka berdua berpikir bahwa kita membutuhkan pipa untuk mendistribusikan air. Berkat kreativitas mereka, maka terciptalah ide untuk membuat botol air minum berbentuk potongan pipa. Lalu didirikanlah sebuah organisasi non profit yang bernama Join the pipe pada tahun 2009. Organisasi ini merupakan komunitas peminum air keran pertama di dunia. Bekerjasama dengan sebuah agen desain, Dwars Ontwerp, mereka menciptakan botol air minum dan carafe yang sangat tahan lama, unik, menarik dan bebas Bisphenol A (senyawa berbahaya dalam plastik). Botol ini juga memenangkan Dutch Design Awards 2010 untuk kategori Sustainable Design Award. Dengan botol pipa yang “ajaib” ini, diharapkan orang-orang mengisi-ulang air minum mereka dan tidak membeli air minum dalam kemasan botol plastik.

 
     Plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan. Menurut Napcor USA, hanya 27% botol plastik yang didaur ulang. Amerika Serikat adalah negara pengonsumsi air kemasan terbesar di dunia. Hal ini menyebabkan 29 miliar botol plastik dibuang per tahunnya dan untuk membuat semua botol plastik itu diperlukan 17 juta barel minyak mentah, jumlah minyak yang cukup untuk mengisi satu juta mobil selama 12 bulan! Menurut data PBB tahun 2006, dalam setiap satu mil persegi lautan terdapat 46.000 plastik mengambang. Sepuluh persen dari plastik yang dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia dibuang ke laut dan 70%-nya mengendap ke dasar laut. Selain itu, energi yang digunakan untuk mendaur ulang satu botol plastik cukup untuk menyalakan sebuah bola lampu 60-watt selama enam jam.

 
     Komunitas Join the pipe ingin agar masyarakat dunia mulai membiasakan meminum air keran, tidak membeli air dalam botol plastik dan mereka ingin membantu menyediakan air bagi orang-orang yang tidak mempunyai akses untuk air minum di seluruh dunia. Hasil penjualan botol pipa ini didonasikan untuk membiayai pemasangan pompa, sumur dan proyek air lainnya di negara-negara Afrika dan Asia. Pada awalnya mereka hanya menjual botol pipa ini ke anggota komunitas, kini sudah ada lebih dari 3.500 orang, 67 perusahaan nasional dan multinasional, belasan universitas, bandara, 35 kota (termasuk Utrecht) dan banyak pihak lainnya yang bergabung untuk membantu menyediakan puluhan stasiun keran air minum gratis.


     Komunitas dari Belanda ini membuktikan bahwa kreativitas sangat diperlukan untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan. Dengan kreativitas, mereka menciptakan botol pipa ajaib yang tidak hanya berguna bagi pemiliknya tetapi juga menolong banyak orang dan di waktu yang bersamaan dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan akibat botol plastik. Sebanyak 10.000 orang yang sebelumnya sangat sulit mendapatkan air telah mendapatkan bantuan dari proyek ini. Botol air minum berbentuk pipa yang merupakan simbol perjuangan komunitas ini telah terjual di berbagai negara di dunia. Sebuah cara yang sangat kreatif untuk berbagi kepada sesama dan untuk menyelamatkan lingkungan! It's Dutch creativity!

 
References:
http://www.dutchdesignawards.nl/en/hall_of_fame/winners_2010/
http://jointhepipe.org/
http://www.dwarsontwerp.nl/
http://jointhepipe.blogspot.com/
http://kids.nationalgeographic.com/kids/stories/spacescience/water-bottle-pollution/
http://www.reuseit.com/learn-more/top-facts/plastic-bottle-facts
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=N-3bwABjFUs
http://www.academyofclimateinnovation.org/spark/spark-2/

Friday, May 11, 2012

Rumus E = mc², Rahasia Kesuksesan Belanda


     Sektor industri kreatif memainkan peran yang cukup signifikan bagi perekonomian Belanda. Tidak hanya menghasilkan banyak wirausahawan, tetapi berperan besar menjadikan Belanda salah satu dari 10 negara pengekspor terbesar dan negara paling kreatif di dunia. Beberapa sektor unggulan dalam industri kreatif Belanda adalah desain, media, hiburan, fashion, dan arsitektur. Apakah rahasia kesuksesan Belanda tersebut?
      Albert Einstein menemukan rumus relativitas di bidang fisika yakni E = mc². Rumus ini juga digunakan untuk mengukur besarnya energi yang dihasilkan dalam reaksi nuklir. Belanda mempunyai sudut pandang lain terhadap rumus itu dan mengaplikasikannya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. 

 
     Bagi Belanda, E = mc² adalah persamaan bagi Education = maintaining curiosity². Dalam artian, selain memberikan pendidikan yang berkualitas, sistem pendidikan Belanda benar-benar mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, menumbuhkan dan memelihara rasa keingintahuan, serta berusaha untuk menemukan jawaban kreatif dan inovatif bagi berbagai pertanyaan yang telah muncul di benak mereka. Ide-ide yang inovatif sangat dihargai dalam pendidikan Belanda dan rasa keingintahuanlah yang menjadi stimulus untuk mendapatkan ide-ide tersebut. Jean Piaget, seorang psikolog dan pionir dalam studi kepandaian anak (1896-1980) berkata “The principle goal of education is to create men who are capable of doing new things, not simply of repeating what other generations have done - men who are creative, inventive and discoverers” Dengan pendidikannya, Belanda sukses menghasilkan orang-orang yang kreatif dan inovatif. Salah satu contohnya adalah Sjoerd Smit yang merupakan lulusan TU Delft.
Sjoerd Smit
 
     Sjoerd adalah seorang industry designer VanMoof, perusahaan yang dirintis akan kecintaan terhadap sepeda. Timbul dalam benaknya mengapa ada orang-orang yang tidak suka bersepeda dan dia pun berkesimpulan bahwa mereka tidak menyukainya karena desain sepeda yang rumit. Oleh karena itulah di VanMoof, dia menciptakan sepeda dengan desain yang sesederhana mungkin tetapi memberikan kenyamanan, sistem pengamanan yang kuat, dan pencahayaan yang bagus sehingga hal itu diharapkan dapat membuatnya menjadi kendaraan alternatif pengganti mobil. Sjoerd menyembunyikan kebanyakan detail sepedanya di dalam rangka utama. 


     Rumus E = mc² juga diterapkan Belanda dalam bidang ekonomi, yakni Economy = managing creativity². Orang-orang kreatif Belanda yang menjadi wirausahawan dalam berbagai sektor juga diurus dan difasilitasi secara serius oleh pemerintah Belanda dalam naungan Kementrian Ekonomi, Pertanian dan Inovasi. Pemerintah menetapkan pajak yang rendah dan lebih sedikit birokrasi. Pengusaha dengan produk inovatif juga akan mendapatkan keuntungan pajak. Pemerintah juga telah membentuk Dutch Creative Industries Council (D-CIC). Badan ini mengkoordinasikan pelaksanaan rencana tindakan dalam industri kreatif sesuai dengan prinsip segitiga emas (kolaborasi antara industri, lembaga ilmu pengetahuan dan pemerintah). Pemerintah mengalokasikan dana tahunan sebesar € 250.000 untuk D-CIC. 

 
 
     Dengan rumus E = mc² dalam pendidikan dan ekonominya, Belanda menghasilkan orang-orang kreatif di berbagai disiplin ilmu yang berkontribusi dalam kesuksesan Belanda di dunia internasional. Keterbatasan lahan dan sumber daya alam membuat manajemen kreatifitas sangat penting bagi Belanda. Terdapat 43.000 perusahaan bergerak di sektor industri kreatif, mencakup 5% dari total seluruh perusahaan yang ada di Belanda. Industri ini menghasilkan berbagai produk inovatif yang diekspor ke seluruh dunia. Seperti halnya sepeda VanMoof yang kini dijual di berbagai negara. Mampukah negara kita mengaplikasikan juga rumus ini? 
 
References:
http://www.hollandtrade.com/sector-information/creative-industries/?bstnum=3556
http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Piaget
http://www.nuffic.nl/international-students/dutch-education/reasons-to-study-in-holland/2-be-creative
http://www.vanmoof.com/
https://www.facebook.com/VANMOOF.Bicycles
http://www.nuffic.nl/international-students/dutch-education/dutch-way-of-teaching
http://www.youtube.com/watch?v=4NRzy_g1p1A
http://www.government.nl/issues/enterpreneurship-and-innovation/investing-in-top-sectors/creative-industry
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...