Tuesday, April 10, 2012

TITANIC, The Best Movie of All Time


Pertama kali saya menonton film pada tahun 1998. Waktu itu ibu dan bapa saya mengajak saya dan adik saya untuk menonton di sebuah bioskop di kota Bandung pada suatu malam. Pada saat itu saya masih berumur 9 tahun, sedangkan adik saya berumur 7 tahun. Karena film ini adalah film dewasa, saya masih ingat ketika itu ibu saya ragu apakah saya dan adik saya bisa masuk ke dalam bioskop melewati pemeriksa karcis, tetapi berkat ayah saya yang melakukan sedikit lobi dengan pemeriksa karcis akhirnya saya dan adik saya bisa masuk ke teater ! Itu adalah pertama kalinya saya dan adik saya menonton film di bioskop.

 
Sambil memakan popcorn yang kami beli, saya menonton film itu dengan penasaran. Tentu saja karena saya masih kecil, saya tidak terlalu mengerti jalan ceritanya sehingga saya hanya menikmati tampilan visualnya. Dan saya juga masih ingat, ibu dan bapak saya menutupi mata saya dan adik saya ketika dalam film itu ada adegan ciuman dan dewasa. Pada masa itu tentu saja saya tidak tahu adegan seperti apa yang ditampilkan itu. Saya hanya patuh untuk tidak melihat. Tetapi sebagai anak kecil, setelah menonton film itu secara keseluruhan, saya sangat terkesan dengan film Titanic ini dan juga dengan kapal laut yang megah ini. Saya terkesan secara visualnya dan adegan-adegan di saat Titanic tenggelam. Begitu memukau.

Sekitar dua atau tiga tahun kemudian, di daerah rumah saya biasanya ada layar tancep yang digelar di lapangan di belakang rumah saya. Kebetulan pada suatu hari, layar tancapnya menayangkan film Titanic ! Tentu saja saya mengajak semua genk bermain saya sewaktu itu untuk menonton layar tancap sekitar jam 7 malam. Kami hanya membayar beberapa ratus rupiah untuk bisa menonton layar tancep itu. Kami memakai jaket dan membawa alas duduk dan membawa beberapa cemilan. Pada saat itu, saya lebih mengerti jalan ceritanya dan lebih terpukau akan film yang luar biasa ini. 

 
Beberapa tahun setelah itu film ini hadir di sebuah stasiun TV nasional dan saya pun tak bosan untuk terus menontonnya. Setiap tahun, stasiun TV itu memutarkan film ini dalam dua bagian dan saya terus menontonnya. Saya pun menontonnya beberapa kali di VCD ketika itu dan kalau dihitung-hitung saya sudah menonton film ini lebih dari 16 kali ! Tetapi saya tak pernah bosan. Bahkan seiring pertumbuhan pikiran dan kedewasaan saya, saya semakin kagum akan film ini dan juga jalan ceritanya dan bahkan beberapa kali saya menitikkan air mata menonton film yang menyentuh ini.

Rose yang diperankan Kate Winslet dan Jack yang diperankan Leonardo DiCaprio begitu pas dan sangat hebat aktingnya. Saya membayangkan dan berpikir, pasti banyak orang yang juga merasa hidupnya begitu hampa sehingga mereka memutuskan untuk bunuh diri seperti Rose. Saya termasuk orang yang sempat berpikir untuk melakukan itu. Namun, saya masih memikirkan keluarga dan saya punya seseorang yang selalu membuat saya kuat dan menerima saya apa adanya, yakni kekasih saya yang sekarang. Saya pun belajar dari Jack, meskipun dia orang yang miskin, tetapi dia menikmati hidup apa adanya dengan senang hati dan berkat keberuntungan dan takdir, dia berhasil mendapatkan kesempatan untuk naik kapal semewah Titanic. Dengan segala keterbatasan finansial, saya masih beruntung dapat merasakan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan yang Tuhan berikan untuk saya, juga keberuntungan-keberuntungan yang sudah saya dapatkan. 

 
Beberapa adegan yang membuat saya terharu juga adalah ada sepasang suami istri lanjut usia yang pasrah menghadapi kematian dengan berbaring di tempat tidur sambil berpelukan, sebuah cinta sejati... Juga ada seorang ibu yang di saat-saat kapal akan tenggelam, dia berusaha menidurkan kedua anaknya yang masih kecil dan akhirnya mereka tenggelam bersama. Juga di saat kapten kapal Titanic (Edward John Smith) dan pembuat kapal Titanic (Thomas Andrews) memilih untuk tenggelam bersama kapalnya. Terutama di saat Rose ketika sudah berada di sekoci, dia memutuskan untuk loncat kembali ke kapal karena dia tidak ingin pergi tanpa orang yang dicintainya dan yang telah menyelamatkan hidupnya ketika dia berusaha untuk bunuh diri sebelumnya. Meskipun itu cerita dalam film, namun saya yakin orang-orang seperti itu ada dalam kehidupan nyata. Orang-orang baik, orang-orang yang bertanggung jawab atas kesalahannya, orang-orang yang tidak bisa pergi tanpa orang yang dicintainya. Saya yakin orang-orang seperti itu ada. Bukan hanya ada orang-orang yang egois yang ingin menyelamatkan diri di saat seperti itu dengan menghalalkan berbagai cara seperti Joseph Bruce Ismay dan Caledon Nathan "Cal" Hockley.

 
Dari film ini, saya juga belajar untuk tidak sombong. Karena White Star Line pada masa itu mengklaim kapal adalah kapal terbesar yang pernah dibuat manusia dan kapal ini tidak bisa tenggelam dan bahkan Joseph Bruce Ismay berkata « Bahkan Tuhan pun tidak bisa menenggelamkan kapal ini ! ». Manusia sebenarnya tidak berhak sombong, hanya Tuhanlah yang berhak sombong. Tetapi sebagai manusia, adalah hal yang manusiawi jika berbuat salah dan kadang-kadang merasa sombong, bahkan saya sendiri. Namun kita harus berusaha untuk terus rendah hati dan mengurangi terus rasa sombong yang kita miliki. 

 
Saya pun terpukau dengan sekelompok pemain musik yang terus memainkan untaian nada-nada indah meskipun di saat-saat kapal itu akan tenggelam. Saya sangat suka dengan semua musik dalam film ini. Sangat pas dan sangat menyentuh. Fisual efeknya juga sangat keren ! Ketika menggambarkan suasana saat tenggelamnya Titanic, orang-orang berjatuhan ketika Titanic terbelah dua, juga menggambarkan begitu besar, megah dan mewahnya kapal ini, ketika air mengepung seisi kapal, sangat memesona ! Yang membuat saya sedih adalah ketika Jack Dawson meninggal karena kedinginan dan dia berhasil mensugesti dan membuat Rose untuk bertahan hidup dan berusaha untuk selamat. Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Selain itu hal yang menyedihkan adalah dari 20 sekoci yang ada, tetapi hanya 1 sekoci yang memutuskan untuk kembali dan berusaha menolong para penumpang yang mengapung di lautan tapi mereka hanya berhasil menolong 6 orang yang masih selamat dari dinginnya samudera Atlantik.

 
Begitu banyak hal yang membuat saya kagum akan film ini yang tidak bisa saya jelaskan satu per satu karena saking banyaknya. Salut untuk James Cameron ! Bukan hanya saya yang menilai film ini sangat luar biasa, buktinya film yang pernah menjadi film dengan biaya produksi termahal di dunia yakni senilai sekitar 200 juta dollar Amerika ini meraih 14 nominasi Academy Awards (Oscar) dan berhasil mendapatkan 11 Oscar, termasuk untuk Best Picture dan Best Director. Selain itu, film Box Office ini pernah menjadi film terlaku sepanjang masa dengan perolehan $1,843,201,268 di seluruh dunia. Hal itu dikalahkan oleh fil Avatar yang juga disutradarai James Cameron pada tahun 2010. Namun saya rasa film Avatar tidak terlalu membekas seperti Titanic dan tidak bisa seberhasil Titanic di Oscar. Film Avatar hanya mendapatkan 9 nominasi Oscar dan hanya berhasil mememenangkan 3 Oscar. Oleh karena itu bagi saya film Titanic ini merupakan film terbaik sepanjang masa. 

 
Pada tanggal 9 April 2012 kemarin, saya menonton film Titanic 3D di bioskop Blitz Megaplex Paris van Java Bandung dengan sahabat-sahabat saya. Entah keberapakalinya saya menonton film ini dan masih terpukau oleh film ini dan tidak bosan untuk menontonnya. Film Titanic 3D rilis untuk merayakan 100 tahun berlayar dan tenggelamnya kapal ini. Saya senang bisa ikut menyaksikannya lagi di bioskop.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...