Friday, April 27, 2012

Perpustakaan Konvensional dan Digital Harus Berkembang Bersama


     Kemajuan teknologi dunia sekarang ini telah mengubah kehidupan manusia dan gaya hidupnya serta menimbulkan pengaruh di berbagai aspek. Dengan peningkatan penggunaan internet, peningkatan jumlah pemilik ponsel cerdas, dan semakin canggihnya berbagai perangkat gagdet menyebabkan penurunan jumlah orang yang menggunakan layanan pos. Sekarang orang-orang merasa lebih mudah berkiriman pesan singkat (SMS), chatting atau saling berkomentar di berbagai media sosial dibandingkan dengan berkomunikasi via surat atau saling berkirim kartu ucapan. Selain sektor pos yang cukup terpukul karena sekarang semuanya serba digital, kini terdapat juga wacana untuk pengadaan perpustakaan digital. Apakah perpustakaan konvensional pun akan ikut terpukul? Mari kita lihat bagaimana perkembangannya di negeri Paman Sam, negeri yang menjadi kiblat kemajuan teknologi informasi.
      Menurut sebuah artikel di situs VOA (Voice of America) Indonesia yang berjudul “Perpustakaan Digital Tak akan Gantikan Perpustakaan Konvensional” tertanggal 3 April 2012, kampus-kampus di Amerika sudah memulai melakukan digitalisasi koleksi buku-buku yang dimilikinya, seperti yang dilakukan di Universitas California, Northridge. Lebih dari satu juta buku dan seperempat juta jurnal berkala disimpan di kampus yang terletak di pinggiran kota Los Angeles itu. Katalog-katalog itu berbentuk digital dan para mahasiswa menggunakannya untuk menunjang studi mereka. Dekan perpustakaan itu, Mark Stover, menyatakan bahwa jurnal-jurnal akademik modern kebanyakan dalam bentuk digital dan 90 persen dari jurnal langganan perpustakaan sekarang juga datang dalam format elektronik. Meskipun banyak jurnal yang berformat digital, tetapi sebagian besar buku baru di perpustakaan itu berbentuk kertas. 

Seseorang memperlihatkan notebook yang berisi eBooks (buku-buku digital) di sebuah perpustakaan umum di Amerika. (sumber: artikel VOA)
 
      Sebenarnya banyak keuntungan yang akan kita dapatkan dengan digitalisasi perpustakaan. Di dalam artikel, Steve Kutay, seorang pustakawan digital, menyebutkan bahwa buku-buku yang sudah digitalkan akan mempunyai cadangannya dan bisa disimpan di luar perpustakaan. Mereka bisa terlindungi dengan baik. Mark Stover mengungkapkan kelebihan dengan konversi dari bentuk konvensional ke bentuk digital akan memberikan lebih banyak ruang di perpustakaan dan kesempatan untuk mendesain ulang tata letak fisiknya. Banyak perpustakaan di Indonesia yang koleksi bukunya kurang memadai dan bahkan banyak daerah yang tidak terdapat perpustakaan, maka dengan adanya perpustakaan digital, akan semakin banyak orang yang dapat mengakses buku dan mendapatkan ilmu pengetahuan dengan lebih mudah. Jika mempunyai komputer dan koneksi internet di rumah, kita bisa dengan mudah mencari dan mengakses buku-buku yang diperlukan. Di kota-kota besar, kemacetan dan kesibukan akan menjadi penghalang orang-orang untuk berkunjung ke perpustakaan sehingga meskipun perpustakaan di kota besar cukup memadai dan banyak tetapi tak jarang sepi pengunjung. Maka dengan adanya perpustakaan digital, kapanpun dan dimanapun selagi terdapat koneksi internet, kita dapat mengaksesnya.

Beinecke Rare Books Library in Yale, USA.

      Di Indonesia, sebenarnya ITB sudah menerapkan perpustakaan digital sejak tahun 2000. Perpustakaan tersebut berisi karya ilmiah dan tugas akhir para mahasiswa SI, S2, hingga S3. Dalam setahun rata-rata terdapat 3.000 karya ilmiah produk dari mahasiswa yang wajib diserahkan dalam format digital sebagai tugas akhir mereka untuk kemudian disumbangkan ke perpustakaan digital ITB. UNPAD pun menerapkan hal yang sama untuk tugas akhir para mahasiswanya.
      
     Tahun lalu tepatnya pada tanggal 8-10 November 2011 di Samarinda digelar Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) Ke-4 yang bertujuan untuk membangun kesadaran para pengelola perpustakaan akan pentingnya mewujudkan interoperabilitas antaranggota jejaring agar Perpustakaan Digital Nasional Indonesia segera dapat terwujud dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia juga cukup serius untuk menerapkan perpustakaan digital. Pusat Dokumentasi Ilmiah Indonesia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI) pun mendukung pengembangan perpustakaan digital Indonesia. Teknologi perpustakaan digital juga bermanfaat membuka peluang bagi perpustakaan untuk memanfaatkan bersama (sharing) sumber informasi digital yang dimiliki, yaitu dengan menyediakan akses bagi perpustakaan lain ke koleksi digital miliknya dan sebaliknya. Dengan demikian peluang suatu perpustakaan untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka masing-masing semakin besar. Selain menghemat ruang bagi perpustakaan, perpustakaan digital juga akan mengurangi konsumsi kertas yang digunakan untuk produksi buku. Mungkin perpustakaan digital juga akan bisa mewadahi para penulis indie sehingga karya mereka bisa dibaca oleh banyak orang tanpa harus diterbitkan terlebih dahulu secara konvensional tetapi tentu saja tetap melalui proses editing.

Salt Lake City Library, USA (sumber: Wikipedia)
      
     Hal negatif dari perpustakaan digital juga tidak dapat dihindari dan masih harus dicari solusinya. Kepala layanan teknis perpustakaan di Los Angeles, Helen Heinrich bertugas mengawasi katalog buku dan majalah baru, dan memindahkan buku yang telah diubah secara elektronik. Dia menjelaskan bahwa banyak universitas di Amerika Serikat bekerja sama untuk menyimpan buku dalam bentuk asli meskipun telah dikonversi ke bentuk digital karena jika suatu hari ada serangan cyber dan semua data hilang dalam sekejap maka mereka akan masih mempunyai salinannya. Mark Stover, dekan perpustakaan Universitas California, juga mengatakan bahwa banyak file digital tidak tersedia karena penulis atau ahli waris penulis yang memegang hak cipta tidak mengijinkan karya mereka disebarluaskan secara elektronik. Di Indonesia sendiri peran perpustakaan digital belum besar di masyarakat. Pengguna perpustakaan digital masih terbatas kepada peneliti dan akademisi. Selain itu perpustakaan digital juga harus hati-hati, jangan sampai melanggar hak cipta penerbit dan penulis buku.
      Perkembangan perpustakaan baik itu yang konvensional maupun digital sebenarnya tak lepas dari para pembaca dan para pengunjungnya. Ada orang yang lebih suka membaca versi digital melalui laptop, PC, smartphone atau notebook-nya sambil bersantai di rumah. Tetapi banyak juga yang lebih menyukai buku konvensional karena mereka tidak merasakan sensasi membaca yang sesungguhnya jika membaca versi digital. Belum lagi mata juga akan cepat lelah jika memandang layar komputer berlama-lama. Seorang mahasiswi biologi Universitas California, Lisa Ochoa, mengaku lebih menyukai buku-buku dalam bentuk kertas seperti pendapatnya dikutip dari artikel VOA sebagai berikut, "Saya juga suka komputer, tapi saya lebih suka buku dan kertas." 
The U.S. Library of Congress
 
      The U.S. Library of Congress atau Perpustakaan Kongres Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai perpustakaan konvensional terbesar di dunia. Sekarang perpustakaan itu juga sedang bertransformasi untuk menjadi perpustakaan yang mempunyai koleksi digital terbesar di dunia. Menurut laporan VOA dalam sebuah video resminya di Youtube tertanggal 9 Oktober 2009 menginformasikan bahwa Perpustakaan Kongres sekarang mempunyai 700 terabita data tetapi karena masalah hak cipta hanya 200 terabita yang tersedia di situs internetnya. Jumlah itu kira-kira sama dengan sekitar 330.jam menonton TV dan sekitar 2000 buku. Di Perpustakaan Kongres terdapat sekitar 120.000.000 buku dan 36000 feature film. Thomas Yako, seorang senior system engineer, mengatakan bahwa terdapat scan lab di sana yang dapat memindai 4 hingga 6 juta item per tahun. Dia tidak bisa menjamin bahwa semuanya itu bisa dipublikasikan di web, tapi kebanyakan sudah dilakukan. Mayoritas koleksi digital perpustakaan adalah untuk alasan jaga-jaga. 

 
      Digitalisasi Perpustakaan Kongres adalah pekerjaan yang sangat lama dan mahal. Di sana terdapat 205 jilid dokumen Abraham Lincoln dari tahun 1800-an. Pemindaian yang ekstra hati-hati terhadap manuskrip-manuskrip tersebut membuat itu menjadi pekerjaan yang sangat lambat. 65 juta manuskrip menjadi dokumen yang sangat berharga bagi perpustakaan. James Hudson dari bagian pengelolaan manuskrip mengatakan sejak jaman komputer berlangsung, proses penciptaan manuskrip menjadi hilang. Kita mungkin tidak akan punya coretan-coretan awal yang asli dari orang seperti Shakespeare atau Beethoven di masa yang akan datang karena semuanya serba digital. Di Perpustakaan Kongres, 5 juta peta juga didigitalkan, bentuknya banyak yang besar sehingga membutuhkan alat pemindai yang juga besar dan untuk peta dalam bentuk buku dibutuhkan teknologi yang lain sehingga memutuhkan banyak teknologi dan dana. Ada 1,5 juta foto yang sudah disimpan di web yang dapat dinikmati masyarakat luas. Tantangan terbesar bagi Perpustakaan Kongres adalah cepatnya perubahan teknologi. Contohnya dalam teknologi alat tempat penyimpanan data. Hal tersebut merupakan sebuah proses yang tak akan pernah berhenti. 

New York Public Library
      
     Melihat kekurangan dan kelebihan dari perpustakaan digital seperti yang telah diungkapkan di atas baik di Amerika Serikat maupun di negeri kita, akan lebih baik jika pemerintah Indonesia tetap berusaha untuk mengembangkan perpustakaan digital sebagai sarana memublikasikan karya ilmiah dan sebagai penyimpanan data base aset-aset nasional, tetapi juga pemerintah harus tetap membantu pengembangan, pengelolaan dan pertumbuhan perpustakaan konvensional di berbagai daerah. Apakah kita tidak iri atau malu jika melihat perpustakaan-perpustakaan di negeri lain memiliki bangunan yang bagus, megah, bersih dan terawat bahkan mungkin lebih indah dibanding bangunan-bangunan pemerintahan di Indonesia?! Mungkin dengan perbaikan kondisi perpustakaan konvensional di tanah air disertai pengembangan perpustakaan digital seperti di Amerika akan membuat minat baca anak-anak dan rakyat Indonesia secara umum semakin meningkat.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...