Thursday, April 26, 2012

Remaja Butuh Wadah Positif Agar Tidak “Nakal”!


     Ketika membaca sebuah artikel berita di VOA yang berjudul Hindari Kenakalan Remaja, Sekolah Dasar Baltimore Luncurkan Program Yoga tertanggal 22 April 2012, saya menjadi teringat saat saya masih remaja dulu, tepatnya ketika SMA. Bukan karena dulu saat saya masih bersekolah saya adalah remaja yang nakal, tapi karena dulu sempat mengalami langsung kenakalan remaja. Di bangku SD, saya masih polos mengenai kenakalan remaja dan ketika SMP saya hanya tahu bahwa beberapa teman masuk menjadi anggota berbagai genk motor, tentu saja pihak sekolah tidak tahu akan hal itu. Ketika SMA saya lebih sadar lagi akan kenakalan remaja, contohnya ada beberapa genk di sekolah yang selalu berkumpul hingga larut malam entah melakukan apa, ada “perseteruan” antara SMA “A” dengan SMA “B”, SMA “C” dengan SMA “D”, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari di siang bolong, SMA saya diserang oleh sekelompok gerombolan bermotor yang juga menggunakan seragam SMA! Mereka melempari sekolah saya dengan batu, mereka pun membawa berbagai “alat” seperti mau tawuran. Ada teman yang bilang bahwa mereka dari SMA “X” yang memang dikenal tidak suka kepada sekolah kami.
      SMA saya yang dijaga oleh satu satpam tentu tidak bisa berbuat apa-apa dan langsung mengunci gerbang sekolah serta menyuruh semua anak untuk masuk ke ruang kelas. Ada beberapa siswa yang terluka dan ada mobil dan motor yang diparkir di luar gerbang sekolah rusak akibat penyerangan itu. Pihak sekolah memanggil polisi dan polisi tiba di saat gerombolan itu sudah menghilang. Kami baru bisa pulang beberapa jam setelahnya. Pihak sekolah menghimbau siswa untuk tidak menyerang balik dan tidak melakukan hal-hal negatif lainnya.

      Sekarang dipikir-pikir apa sih untungnya melakukan penyerangan itu, menurut saya itu hanya faktor emosi saja, apalagi remaja seusia itu masih menggebu-gebu semangat maupun emosinya dan masih labil. Sepengetahuan saya, di Bandung tidak pernah ada tawuran antarpelajar secara terbuka seperti di Jakarta misalnya. Bahkan banyak juga siswa yang tak terlibat tawuran namun menjadi korban. Kemungkinan ke arah sana bisa saja terjadi suatu saat di Bandung ataupun kota lainnya. Masalah terbesar mengenai kenakalan remaja di Bandung saat ini mungkin salah satunya adalah genk motor yang sangat meresahkan masyarakat dan juga sudah banyak menimbulkan korban.
      Apa sih makna sebenarnya dari kenakalan remaja? Menurut Kartono, seorang ilmuwan sosiologi, kenakalan remaja atau dalam bahasa Inggris disebut dengan juvenile deliquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. Banyak bentuk kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat seperti seks bebas, penggunaan narkoba dan alkohol. Saya membaca satu berita yang membuat saya kaget yaitu ada remaja yang membunuh temannya gara-gara sebuah smartphone! Pastinya masalah-masalah yang dialami remaja sekarang berbeda dengan remaja dulu sehingga para orangtua, pihak sekolah dan berbagai pihak terkait harus pandai-pandai mencari cara untuk mengatasinya.
      Ketika membaca artikel berita VOA tentang sebuah SD di Baltimore, Amerika Serikat yang bernama SD Robert W. Coleman, saya berpikir mungkin ini bisa menjadi salah satu solusi untuk kenakalan remaja. Sekolah itu mengadakan sebuah program yang sangat bermanfaat. Seusai sekolah, anak-anak SD di sana mengerjakan PR dan setelahnya mereka duduk bersama untuk bermeditasi dan mempraktekkan yoga. Kepala sekolah SD tersebut mengatakan bahwa ia memasukkan anak-anak yang bermasalah ke dalam program yoga itu untuk menghindari menghukum mereka. Menurut saya, itu adalah pikiran yang sangat bagus! Seringkali hukuman tidak dapat mencegah terulangnya kesalahan atau kenakalan yang dilakukan remaja, tetapi justru menimbulkan dendam terhadap si penghukum atau malah kenakalan mereka akan semakin menjadi-jadi. Atman Smith yang merupakan salah seorang pendiri yayasan Holistic Life Foundation berpendapat bahwa program yoga usai sekolah ini berusaha membantu anak-anak melengkapi diri dengan keterampilan untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup. 

      Saya kagum dengan pemikiran mereka! Mereka sudah berpikiran untuk melengkapi diri anak-anak dengan keterampilan untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup, padahal anak-anak itu masih SD! Memang akan lebih baik jika hal positif itu dilakukan sejak dini sehingga mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih baik mental maupun fisiknya. Seharusnya di Indonesia pun mengadakan program yoga seperti itu untuk anak-anak SMP dan SMA sehingga mereka tidak cepat emosi, bersikap dan berpikir lebih tenang, dan mempunyai kegiatan yang positif. Memang sekarang juga di berbagai sekolah ada banyak kegiatan ekstrakulikuler sebagai wadah kegiatan para siswa tetapi saya rasa hal itu belum cukup. Sejak saya SD sampai SMA pun saya hanya bisa memilih kegiatan ekskul yang sudah ada di sekolah saja dan banyak siswa yang tidak ikut ekskul karena tidak sesuai dengan minat mereka sehingga mereka mencari wadah lain di luar sekolah dan tidak menutup kemungkinan mereka ikut kegiatan yang negatif. Akan lebih baik jika sekolah juga melihat minat para siswanya dan menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan positif tersebut. Misalnya sekolah bisa mengadakan ekskul berbagai bahasa asing bekerjasama dengan para mahasiswa dari Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya di universitas terdekat dengan sekolah. Saya sebagai mahasiswa sastra Perancis pun akan senang hati berbagi ilmu dengan para siswa. Apalagi di era globalisasi ini, kemampuan bahasa asing menjadi semakin penting. 

 
      Selain program bahasa ataupun program lain sesuai minat siswa, program yoga seperti yang dilakukan SD Robert W. Coleman di Baltimore tersebut saya rasa akan cocok dilakukan di sini, selain bermanfaat bagi fisik dan mental, yoga pun sudah booming sejak beberapa tahun lalu di Indonesia tetapi sayangnya tidak banyak orang yang mempunyai akses atau mampu untuk mengikuti program seperti itu. Menurut kepala SD Robert W. Coleman, Carlillian Thompson, program yoga tidak mengubah perilaku anak dengan segera, tetapi setelah beberapa lama, anak-anak itu jadi mampu mengatasi berbagai situasi. Siapa tahu program yoga pun akan mampu berdampak positif bagi anak-anak Indonesia karena akan mengajarkan kesabaran dan ketenangan. Semoga saja orang tua, berbagai sekolah dan juga pihak pemerintah mampu mengayomi remaja dan menyediakan berbagai wadah positif bagi para remaja sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam kenakalan remaja.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...