Friday, January 6, 2012

Bandungku Indah Dengan Segala Potensinya


Bandung adalah kota kelahiranku dan tempat aku dibesarkan. Aku sangat bersyukur dilahirkan dan besar di kota ini. Kota yang didirikan oleh Bupati R. A. Wiranatakusumah II dan diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810 kini berkembang menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia yang indah dan mempunyai banyak keunikan. Jaman sekarang, sangat mudah untuk mencari tahu segala sesuatu, termasuk untuk mengenal kota Bandung. Jika kita memasukkan kata kunci “Bandung” di situs mesin pencari internet, maka akan ditemukan 293.000.000 hasil pencarian. Dengan semangat kecintaan terhadap kota Bandung, maka saya buat tulisan ini di blog saya.

Bandung adalah salah satu dari sedikit kota besar yang letaknya jauh dari pantai. Kota ini dikelilingi pegunungan dan menjadikan kota ini kota besar dengan udara yang sejuk dibandingkan kota-kota besar lainnya. Pada jaman kolonial Belanda, Bandung pernah direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung pada masa itu. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum. Untuk rencana tersebut, berbagai instansi dan BUMN memindahkan kantornya dari Batavia ke Bandung, sampai sekarang ada beberapa BUMN yang berpusat di kota Kembang ini.



































Selain itu, rencana pemindahan ibukota juga diwarnai dengan pembangunan berbagai bangunan contohnya pembangunan Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan, yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB). Sekarang Gedung Sate menjadi landmark kota Bandung dan Jawa Barat. D. Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, “Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia”. Ir. H.P.Berlage, sewaktu kunjungan ke Gedung Sate April 1923 menyatakan, “Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis”. Kota ini juga sampai saat ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco. Gaya arsitektur art deco yang banyak jumlahnya bisa dijumpai di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan paling bergengsi di Kota Bandung.

 


























Meskipun Bandung tidak jadi menjadi ibukota Hindia Belanda pada saat itu karena kekalahan Belanda atas Jepang, kota yang merupakan ibukota provinsi Jawa Barat ini tetap istimewa dan mempunyai banyak keunggulan. Kota berjulukan Parijs van Java ini tepat terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat dan merupakan kota dinamis yang terus berkembang mengikuti perubahan jaman. Banyak sekali keindahan dan keunggulan kota ini yang menarik wisatawan maupun pendatang dari dalam dan luar negeri. Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, hingga September 2011 tercatat sebanyak 3.917.390 orang wisatawan berkunjung ke kota ini.

Keindahan Alam
Bandung dikelilingi oleh pegunungan sehingga membuat kota ini lebih sejuk dibandingkan kota besar lainnya dengan suhu rata-rata pada bulan Maret 2011 adalah 23,1 derajat celcius. Banyak tempat-tempat wisata alam yang terdapat di kota Bandung. Di wilayah Bandung Utara kita dapat berwisata ke Lembang dengan Gunung Tangkuban Parahu, Hutan Jayagiri, Bumi Perkemahan Cikole, Maribaya, Sari Ater, Punclut, THR Juanda (Dago Pakar). Di wilayah Bandung Selatan misalnya Ciwidey dengan hutan dan perkebunan tehnya yang sangat indah, Ciwalini, Situ Patenggang, Kawah Putih, Ranca Upas, dan lain-lain. THR Juanda atau lebih dikenal dengan Dago Pakar adalah salah satu tempat wisata alam yang terletak di Bandung Utara yang dekat dengan pusat kota. Kita dapat menghirup udara segar, menikmati rimbunnya pepohonan dan dapat mengunjungi Goa Jepang dan Goa Belanda yang terdapat di dalamnya. Jika Anda mempunyai semangat yang lebih, Anda dapat menyusuri jalan sejauh 5 km dari Dago Pakar menuju Maribaya, Lembang. Karena Bandung dikelilingi oleh pegunungan, kita dapat menikmati indahnya pemandangan kota Bandung pada malam hari dari kawasan yang lebih tinggi, misalnya dari Dago Atas. Jauh dari pantai justru menjadikan Bandung itu kota besar yang unik dan indah.














Surga Kuliner
Bandung adalah surga kuliner! Banyak sekali pilihan makanan yang tersebar di segala penjuru Kota Kembang yang akan memanjakan lidah kita. Ada ratusan tempat makan mulai dari yang mewah hingga jajanan pinggiran jalan, mulai dari makanan Eropa, Amerika, China, Jepang, Thailand, berbagai makanan Indonesia, masakan Sunda, hingga makanan khas kota Bandung seperti batagor, siomay, nasi bakar, nasi tutug oncom, soto Bandung, mie yamien, mie kocok kaki sapi, colenak, cilok, dan surabi (serabi) dengan berbagai pilihan rasa. Kita dapat menikmati berbagai kuliner tersebut mulai dari subuh hingga tengah malam. Di Punclut dan di Caringin Tilu (Padasuka Atas), kita dapat mencicipi menu khas berupa nasi merah dan nasi hitam sambil menikmati pemandangan indah kota Bandung dari ketinggian. Jika kita senang nongkrong, banyak sekali café yang bisa jadi pilihan di kota ini. 













 Kota Fashion
Saya teringat pendapat beberapa teman saya (orang luar kota) yang mengatakan bahwa orang Bandung tuh fashionable! Mungkin mereka ada benarnya juga. Fashion mungkin sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota berjulukan Paris van java ini. Bandung merupakan tempat pertama muncul dan berkembangnya distro (distribution outlet), tempat di mana kita bisa mendapatkan kaos-kaos dengan desain yang unik dan khas. Bahkan tidak hanya kaos, kita dapat membeli tas, sepatu, kemeja, hingga celana di distro. Usaha ini dirintis oleh anak-anak muda kreatif. Pada tahun 1997 di Bandung hanya terdapat enam distro. Sampai tahun 2011 ini, jumlah distro di Kota Bandung mencapai 1.200 buah. Industri kreatif ini terus bertahan dan berkembang, bahkan sekarang mempunyai peran dalam pertumbuhan pariwisata di kota Bandung dan perkembangan industri kreatif Indonesia. Distro dapat kita temui di sepanjang Jalan Trunojoyo hingga Jalan Sultan Agung. Tidak hanya anak muda Bandung yang menjadi konsumen produk-produk distro tetapi juga dari luar kota hingga dari Malaysia dan Singapura. Selain distro, kota ini juga merupakan tempat pertama berkembangnya Factory Outlet. Di FO kita bisa mendapatkan fashion item dengan harga yang relatif murah tapi dengan mode yang keren dan kualitas juga tidak kalah bagus. FO-FO tersebar di penjuru Kota Bandung, seperti di Jalan Riau, Jalan Dago, Jalan Cihampelas, dan Jalan Setiabudi. Setiap weekend dan liburan, FO-FO tersebut selalu dipadati pengunjung dari luar kota, bahkan juga dari Malaysia. Melihat semua hal itu, tak salah jika Bandung mendapat julukan kota mode Indonesia.

Kota Pendidikan
Tak hanya cocok untuk berlibur dan bersenang-senang, Bandung juga merupakan destinasi pendidikan ternama. Di kota ini terdapat banyak perguruan tinggi terkenal dan berkualitas, dengan 4 Perguruan Tinggi Negeri yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, serta berbagai Perguruan Tinggi Swasta ternama seperti Universitas Islam Bandung (UNISBA), Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Kristen Maranatha, STT Telkom, IMB Telkom, Universitas Komputer Indonesia (Unikom) dan masih banyak lagi. Terdapat sekitar 50 perguruan tinggi di kota ini. Puluhan ribu mahasiswa datang dari berbagai kota di Indonesia untuk menuntut ilmu di Kota Bandung. Tahun ini tercatat ada 20.000 mahasiswa Minang (asal Sumatera Barat) yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Bandung. Berbagai tokoh besar negeri ini juga pernah belajar di Kota Kembang, contohnya Ir. Soekarno, BJ Habibie, Andrea Hirata dan Hatta Rajasa yang pernah menuntut ilmu di ITB, Megawati Soekarno Putri juga pernah kuliah di Unpad meskipun tidak selesai. Dengan berbagai kampus favorit, suhu yang relatif sejuk serta banyaknya tempat hiburan dan tempat hang out menjadikan Bandung merupakan destinasi pendidikan yang berkualitas tapi tidak membosankan. 



Kota Bersejarah
    Bandung adalah kota besar yang berumur 201 tahun, relatif muda dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, namun kota ini kota yang bersejarah. Pada bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Pembumihangusan kota Bandung dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia  dan dikarenakan kekuatan pejuang yang kalah jauh dengan musuh. Peristiwa Bandung Lautan Api ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.
Bandung juga dipilih sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika pada tanggal 18 April 1955 yang mengundang 25 negara Asia dan Afrika dan menghasilkan Dasa Sila Bandung. Bandung kemudian dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Di Bandung, kita juga dapat belajar perjuangan bangsa dengan mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat. Gedung Indonesia Menggugat merupakan situs sejarah bangsa Indonesia yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No 5 di mana Soekarno muda memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan di hadapan pengadilan kolonial Belanda (Landraad) bersama Maskoen, Gatot Mangkoepradja, Soepriadinata, Sastromolejono, Sartono pada tahun 1930. Selain itu di Bandung terdapat Museum Pos untuk belajar sejarah pos Indonesia dan Museum Geologi untuk belajar sejarah purbakala dan geologi Indonesia.

Kota Seni dan Budaya
    Tak dipungkiri Bandung juga adalah kota seni dan budaya, tradisional dan modern. Salah satu kesenian original Jawa Barat, khususnya Bandung yang menyita perhatian dunia adalah keberadaan Saung Angklung Udjo (SAU) yang merupakan tempat workshop kebudayaan,  tempat pertunjukan, pusat kerajinan tangan dari bambu, dan workshop instrumen musik dari bambu. Selain itu, Saung Angklung Udjo mempunyai tujuan sebagai laboratorium kependidikan dan pusat belajar untuk memelihara kebudayaan Sunda, khususnya angklung. Saung Angklung Udjo berlokasi di jalan Padasuka No. 118. Belum lama ini, SAU telah berhasil memecahkan "Guinness World Records"  memainkan angklung dengan pemain terbanyak di dunia yakni lebih dari 5.000 orang yang di lakukan di Washington DC, Amerika Serikat.
    Di dunia seni lukis pada tahun 30an terdapat kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Niasari Roedyat Martadiradja, pelukis asal Bandung menorehkan prestasi dunia dan menjadi satu-satunya pelukis Indonesia yang mampu menyisihkan 350 pelukis dari seluruh mancanegara yang ikut serta dalam ajang Exhibition World Art Expo pada Juni 2009, di California, Amerika Serikat. Seniman Indonesia asal Bandung lainnya, Syagini Ratna Wulan, menjadi finalis dalam penghargaan Celeste Prize 2011 untuk kategori instalation/sculpture lewat karyanya yang berjudul Bibliotea. Dalam penghargaan Celeste Prize 2011 ini, Cagi adalah satu-satunya finalis dari Indonesia.

Kota Musik
Di bidang seni musik juga kota Bandung sangat banyak menghasilkan musisi-musisi yang sukses di kancah nusantara, diantaranya adalah The Changcuters, Peterpan, Cokelat, Gigi, Kahitna, ST12, SHE, T2, Ruth Sahanaya, Melly Goeslaw, Trie Utami, Nicky Astria, Nike Ardila, ada juga grup musik Krakatau dibentuk pada tahun 1984 di Cipaganti, Bandung atas prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan dan Donny Suhendra. Terdapat juga band-band yang tumbuh di musik indie seperti Mocca, The S.I.G.I.T, Homogenic, Polyester Embassy, Rock And Roll Mafia, dan Hollwood Nobody. Mereka tak hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga di luar negeri, misalnya Mocca, band bergenre pop/jazz/swing yang memiliki komunitas fans fanatik di Korea Selatan. Demikian pula dengan The S.I.G.I.T yang mengguncang panggung SXSW (South by South West) di Austin, Texas, Amerika Serikat dan serangkaian konser di Australia. Seperti Sandy Sandoro yang sukses di luar negeri, ada juga Nungki, penyanyi asal Bandung yang berhasil menembus dunia rekaman dan memasarkan albumnya di Finlandia. Ketika masih di Bandung, Nungki menngeluti kariernya dari kafe ke kafe.

Kota Kreatif
Kota yang dihuni oleh sekitar 60% kalangan muda berusia di bawah 40 tahun dan banyak terdapat tempat pendidikan, Bandung berkembang pesat dalam industri kreatif. Julukan baru Bandung Kota Kreatif berawal dari pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif, yang dilaksanakan di Yokohama Jepang pada akhir Juli 2007. Pada pertemuan itu, Bandung memperoleh penghargaan  dengan terpilih sebagai projek rintisan (pilot project) kota kreatif se-Asia Timur. Pada pertengahan tahun 2008, digelar "Helarfest 2008" selama satu bulan penuh yang mengakomodasi 33 kegiatan kreatif dalam berbagai bentuk dan komunitas. Di dalam acara sebulan tersebut diadakan, antara lain, "Kickfest 2008" di Lapangan Gasibu yang merupakan kegiatan akbar komunitas industri pakaian (clothing) dan distribution outlet (distro). Bandung banyak mempunyai talenta muda yang berlimpah, jumlah perguruan tinggi yang mencapai 50 buah, kemudahan mengakses teknologi, dan karakteristik masyarakat yang terbuka akan perbedaan dan perubahan, merupakan faktor pendorong munculnya kreativitas urang Bandung. Tidak kalah kreatifnya adalah seorang Iwan Lonceng yang menciptakan rongsokan skuter sebagai alat musik. Iwan yang bernama asli Iwan Setiawan itu telah berhasil membuat 23 jenis alat musik dari rongsokan skuter (vespa) seperti alat musik tiup, petik, gesek dan pukul. 

Kota Bandung yang secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. Van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, kini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, memesona dengan semua keunggulannya, dan terus berjuang mengatasi segala kekurangan dan keterbatasannya. Bandung akan terus berkembang dengan memanfaatkan semua potensinya dan menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Bandung téa...!


 “Anak Bandung itu jago menyerap desain ‘arsitektur’ global, dibanding dengan anak muda di kota lain. apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi trend. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu.” (Hikmat Budiman -  penulis buku “Lubang Hitam Kebudayaan”)


Sumber: 
http://www.infobandung.org/gedung-sate-841.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bandung
http://www.bandung.go.id
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10883:bkmm-jabar-gagas-pembangunan-asrama-mahasiswa-&catid=7:rantau&Itemid=72
http://www.celesteprize.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...