Friday, May 14, 2010

Dalam Keterbatasan


12 Mei 2010

Pagi ini... Dalam perjalananku ke tempatku menuntut ilmu, ku melihat dari dalam bis, keadaan di luar... Ku melihat orang-orang memulai pekerjaannya. Ada yang tukang kayu, pembuat mebel, montir bengkel, tukang sapu jalan, ibu2 penjual surabi, satpam, penjual makanan, dll. Aku jadi berpikir, apakah pekerjaanku di masa depan nanti? Aku masih belum tahu... Mungkin mereka pun tak menginginkan pekerjaan itu, tetapi keadaan dan keterbatasan yang membuat mereka melakukan pekerjaan2 itu. Bahkan aku melihat di TV ada seorang sarjana yang bekerja menjadi petugas kebersihan di sebuah Pemda di Sumatera! Tetapi semua itu pekerjaan yang halal dan tak bisa kita anggap remeh juga. 

Aku senang mereka masih berusaha melakukan pekerjaan-pekerjaan yang halal. Untuk apa menjadi anggota DPR dan pejabat negara tetapi mereka korupsi jutaan, ratusan juta, milyaran, dan bahkan triliunan rupiah! Di mataku, mereka jauh lebih rendah daripada pencuri ayam yang dipukuli warga dan dia mencuri karena kelaparan! Para pekerja itu adalah rakyat kecil yang kadang (baca: selalu) tertindas oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Contohnya menaikkan TDL, BBM dan harga sembako. Merekalah yg paling merasakan dampaknya. Dan aku pun tak tahu dengan masa depan dan kehidupanku di masa depan. Apakah aku akan seperti mereka? 

Tapi cita-citaku yang terbesar adalah aku ingin bisa ikut membantu membangun negeri ini, membantu menyejahterakan rakyat kecil, tapi aku tak yakin aku bisa melakukan itu di masa depan dengan semua keterbatasanku saat ini. Aku sangat sedih jika di siaran berita di TV-TV nasional, isinya hanya tentang keburukan dan kesedihan di negeri ini. Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, korupsi, para pejabat korup, kelaparan, rakyat kecil yang ditindas, rakyat kecil yang menderita penyakit berat tetapi mereka tidak punya uang utk berobat, dll.

Yang paling membuatku sedih adalah rakyat kecil yang kelaparan, sampai mereka makan nasi aking, bahkan banyak yang busung lapar, sedangkan para pejabat menikmati uang ratusan juta/milyaran rupiah hasil korupsi tetapi mereka bebas dari jerat hukum! Aku juga bukan manusia sempurna, kadang aku pun tidak bersyukur dengan makanan2 yang ada di rumah. Kadang aku menggerutu karna ibu memasak makanan yang tidak aku sukai. Aku salah, aku harus bersyukur! Aku hanya dapat berharap agar rakyat kecil di Republik ini lebih sejahtera di masa mendatang.

2 comments:

  1. Tu es un bon écrivain, tu racontes très bien ce que tu vois, ce que tu ressens. Même si c'est triste, ton message est rempli d'espoir :)

    ReplyDelete
  2. Hi hi hi....Je suis gene... :p Mais j'essaye d'ecrire tous ce que je pense pour que partager mes pensees et mes idees... :) Je suis un homme qui espere souvent... MDR :p

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...