Thursday, February 28, 2013

Saya Cinta Berbatik!


Sejak kecil saya sudah dekat dengan batik karena sewaktu saya bersekolah di sebuah Sekolah Dasar swasta, setiap hari Rabu SD saya mewajibkan siswanya memakai seragam batik sekolah. Meskipun saya waktu itu tidak tahu sejarah batik, cara pembuatan batik, dan bahkan saya tidak tahu bahwa batik merupakan warisan budaya bangsa yang berharga, tetapi setidaknya sejak kecil saya sudah mengenal kata “batik” dan berbatik setiap minggu. Entah kenapa dulu saya merasa bangga setiap hari memakai batik di SD saya. Bisa jadi karena SD saya mempunyai seragam batik yang khas dan cukup bagus pada masa itu. Sampai sekarang saya pun masih menyimpan seragam batik merah SD saya. Saya tidak akan pernah membuangnya karena itu adalah salah satu kenangan berarti dalam hidup saya. Meskipun warnanya mulai memudar, saya berusaha agar pakaian ini tidak rusak.

Seragam batik SD saya
Sangat disayangkan seragam batik SMP saya sekarang menghilang entah kemana, tapi selama SMP pun saya memakai batik setiap minggunya. Kemudian saya melanjutkan sekolah ke SMA, yakni SMA Negeri 20 Bandung. Sekolah saya ini juga punya seragam batik khusus. Warnanya cukup unik, perpaduan putih, hijau tua dan hitam. Kami diwajibkan untuk berbatik setiap hari Kamis, meskipun kadang-kadang ada siswa yang lupa untuk berbatik dan malah memakai seragam putih abu-abu. Dengan senang hati sewaktu SMA selama tiga tahun saya berbatik setiap minggu dan bahkan agar terlihat lebih modis, saya mengecilkan seragam batik saya yang kebesaran itu. Hasilnya seragam batik itu pas di tubuh saya, tetapi saya pun tidak terkena razia seragam. Hingga kini seragam batik SMA saya masih saya simpan rapi di lemari, sama seperti seragam batik SD, seragam batik SMA ini pun saya jadikan kenang-kenangan. Siapa tahu nanti ketika saya sudah tua, saya melihat kembali seragam-seragam batik sekolah itu sambil tersenyum karena teringat semua kenangan manis bersamanya.

Seragam batik SMA saya
Seiring perkembangan usia, saya pun lebih paham mengenai batik. Ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Padjadjaran, saya pun mengikuti perkembangan berita mengenai usaha pemerintah Indonesia agar batik dapat diakui UNESCO. Saya akui bahwa setelah lepas masa SMA, saya sudah jarang memakai batik selain untuk menghadiri acara pernikahan. Di kampus kami bebas memakai kaos dan celana jeans, sehingga akan terasa aneh kalau kami memakai batik. Tapi pada tanggal 2 Oktober 2009, ketika saya duduk di semester 4, muncul berita yang sangat menggembirakan bagi Indonesia. Ya, hari itu batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO sebagai budaya Tak-Benda Warisan Manusia dalam sidang ke-4 tentang Warisan Budaya Tak-Benda di Abu Dhabi.

Berita itu adalah berita yang sangat baik bagi pengrajin batik, pengusaha batik, pemerintah, rakyat Indonesia dan bahkan saya sendiri. Saya bangga budaya bangsa saya diakui oleh dunia sehingga tidak ada negara lain yang bisa mengaku-akui batik. Setelah pengakuan tersebut, saya amati semakin banyak orang yang berbatik, toko batik dan butik batik pun bertebaran di tempat-tempat perbelanjaan. Waktu itu saya meminta ibu saya untuk membelikan saya batik baru. Dulu batik identik dengan harga yang sangat mahal, tapi pada saat itu harganya cukup terjangkau oleh ibu saya.

Lalu beberapa hari setelah pengakuan itu munculah gerakan di dunia maya agar semua orang dianjurkan untuk memakai batik. Kalau saya tidak salah hari itu tanggal 16 Oktober 2009. Saya pergi kuliah ke kampus dengan menggunakan batik untuk pertama kalinya. Agak aneh sih waktu itu rasanya, soalnya tidak biasa menggunakan batik untuk kuliah. Tapi ternyata beberapa teman saya pun ada yang memakai batik, jadinya sambil menunggu kelas kami foto-foto sebagai kenang-kenangan.

Saya dan teman-teman sedang berbatik di kampus (16 Oktober 2009)
Pengalaman saya mengenai batik tidak sampai di situ, saya bahkan memberikan beberapa batik sebagai oleh-oleh untuk teman saya dan keluarganya di Perancis. Mereka pun sangat senang diberikan hadiah baju batik dan mereka kagum akan keindahan desain batik. Saya ikut senang dan bangga jika orang asing saja menyukai dan mengagumi budaya kita. Lalu saya mendapatkan kesempatan untuk Summer Course di Utrecht University, Belanda selama dua minggu. Saya membawa dua kemeja batik dan satu kaos batik. Ketika saya memakai batik ke kampus, beberapa teman dari Hong Kong dan Rusia bilang “Wah baju kamu unik dan bagus!” lalu saya bilang dengan bangga “Makasih, iya ini namanya batik. Khas Indonesia.

Berbatik ria di Utrecht, Belanda
Kayaknya sih satu teman dari Hong Kong itu pengen punya batik, tapi sayangnya saya ga bawa batik baru lagi. Masa mau ngasih dia batik yang bekas saya pakai? Hehe. Pihak Universitas Utrecht waktu itu juga mengadakan studi tour ke markas NATO dan European Parliament di Brussels, Belgia. Waktu itu saya pakai kemeja batik kesayangan saya, selain agar lebih resmi sekaligus memperkenalkan batik di Eropa. Mahasiswa asing lainnya ternyata malah banyak yang hanya memakai kaos dan celana pendek, saya cukup heran waktu itu.

Setelah dari Belanda, saya mendapatkan kesempatan untuk menetap beberapa hari di Perancis dan tidak diduga-duga saya mendapat panggilan interview untuk program Master di Universitas Bordeaux. Saya tidak membawa pakaian dan celana resmi karena niatnya hanya Summer Course dan liburan, untungnya saya membawa kemeja batik. Setelah melewati interview yang cukup menegangkan itu, sorenya saya jalan-jalan keliling kota Bordeaux masih memakai kemeja batik kesayangan saya dan tak jarang banyak orang yang memperhatikan pakaian saya itu.

Berbatik ria di Bordeaux (Perancis) setelah interview
Itulah cerita kecintaan saya terhadap batik dan pengalaman berbatik saya. Sekarang kita bisa menemukan batik di mana-mana, mau itu di toko batik, butik batik, atau toko pakaian lainnya. Bahkan ada juga toko batik online, jadi kita bisa belanja batik baik itu siang maupun malam tanpa batasan waktu dan tanpa perlu meninggalkan rumah. Salah satu toko batik online yang kita bisa kunjungi adalah www.berbatik.com yang menyediakan berbagai macam kain batik tulis asli, digambar dengan menggunakan canting dan malam. Ada juga kain batik tulis kombinasi cap dan kain batik cap. Kain batik yang dijual pun berasal dari berbagai daerah penghasil batik seperti Cirebon, Solo, Pekalongan, Sragen dan Madura, serta tersedia dalam banyak pilihan warna. Selain kain dan baju batik, tersedia juga berbagai perhiasan, tas dan bahkan sepatu yang bermotif batik.

Saya sangat berharap para pengrajin batik dan pengusaha batik Indonesia tidak kalah dibandingkan batik yang berasal dari luar Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kepedulian kita sebagai bangsa Indonesia untuk ikut menjaga kelestarian warisan dunia dari negeri kita ini, setidaknya dengan cara terus memakai produk batik buatan Indonesia dan kalau bisa ikut mempromosikannya ke luar Indonesia. Ayo rakyat Indonesia, kita bangga berbatik!


Wednesday, February 27, 2013

If Food Had Feelings...

Since I was a kid, my mom taught me to finish my meals. I asked her why? She said that it’s not good if we waste the food and every pieces of rice which are left on our plate will cry. Sounds silly right? But as a child, I believed that and I tried to finish my foods. Now, I am mature and of course I know that the rice can’t cry but my mom is not completely wrong. For me it’s very philosophical, the point is we have to appreciate food and people who made it come to our plate. It’s not easy for my mom to buy the foods, she works hard. In spit of that, at home I always take an appropriate portion of foods and I try to finish it. If I really can’t, I’ll save it to give it later to my dogs. When I buy foods outside, I’ll think what I really want to eat and I’ll finish it.




I was curious about my friends’ foodprint. Then, I did a little survey to several friends by some social medias that I use. The questions are: “Do you always finish your meals or not? If not, what are the reasons?” Seventy-nine friends kindly responded my question honestly. From those 79 answers, I divided it into two categories: “Indonesian*” and “European*” based on my friends’ nationality because I wondered if we have different habit of eating. The result’s 76% of 42 European friends always finish their foods, 10% of them not and 14% of them admit that sometimes they waste. Meanwhile for 37 Indonesian friends, 62% of them finish their foods, 22% often waste food, and 16% of them admit sometimes waste foods with some reasons. 

The result of my little survey for European friends
The result of my little survey for Indonesian friends
A majority of my European friends replied that they don’t like to waste food. When I asked why, they answered “Because foods are expensive and there are many people who can’t eat”. They also added that they always THINK what they want to cook and EAT and if they can’t finish it, they SAVE it for later so that they won’t waste the foods & save money. Some persons replied that they were raised in poverty so now they really appreciate foods. Many of my Indonesian friends said that they didn't finish their meals because they were already full or the taste wasn't delicious because they bought the food on the street. Contrary, they who finish their meals argued that on their religion (Islam) we’re not allowed to waste our food. 


Well, if we can eat everyday, it means that we are lucky! One in every seven people all around the world go to bed hungry and more than 20,000 people die of hunger EVERY DAY. If we can’t feed hungry people, why we don’t just take attention to our foodprint? In Indonesia, they are many needy people who can’t buy rice of 0.88 USD per kilogram so they buy wasted and parched rice with only 0.21 USD. Environmentally, food waste leads to be rotting food, and it creates more methane – one of the most harmful greenhouse gases that contributes to climate change.

A merchant collects "nasi aking" or wasted and parched rice in Central Java
(source: http://regional.kompas.com/)
A family who eats wasted and parched rice in Indonesia  
(source: http://ibahbaek.wordpress.com/)


Based on those facts, I commit to reduce my foodprint, I hope you do too! If food had feelings, I believe that they would be sad, disappointed, and would cry if we waste them and they would be prefer to be eaten by the needy. Like Elizabeth Gilbert wrote, I am a better person when I have less on my plate.” Let’s be a better person by doing: THINK.EAT.SAVE and reduce our foodprint!


Information:
*Indonesian: friends who live in Bandung, Jakarta, Padang, Surabaya, Medan, Tasik, Yogyakarta, Bogor, Semarang
*European: friends who live in France, the Netherlands, Belgium, United Kingdom, Spain, Norway, Switzerland, Italy


Thursday, February 14, 2013

Mon Valentin



Je ne sais pas si ma vie est pénible ou pas
Comme un manque du sel à chaque repas
Malgré tous les soucis et la tristesse
Qui restent immobiles et qui me pressent

Ces jours et ces heures sans toi sont très durs
Je n’ai aucune envie sauf être à tes côtés
Je laisse mes autres rêves derrière les murs
Je t’aime à la folie, c’est la seule vérité

Les plus beaux souvenirs sont gravés dans ma vie
Passé nos jours à ton pays, ton appartement
Être heureux et proches comme notre envie
C’est toi qui me passionne complètement

Ressens mon cœur qui ne bat que pour toi
La dispute et la colère arrivent parfois
C’est normal pour tous les amoureux
En tout cas, on est bien heureux

Dans ce jour spécial de Saint-Valentin
Je pense fort à toi comme tous les matins
En souhaitant que notre histoire soit infinie
Verlaine et Rimbaud s’aiment en symphonie

BONNE SAINT-VALENTIN / HAPPY VALENTINE'S DAY

Wednesday, February 6, 2013

VALENTINE


Di masa lalu saya, Valentine adalah sebuah hari yang special. Spesial karena setiap tanggal 14 Februari, saya dan pacar saya (yang kini sudah menjadi mantan) selalu berusaha untuk membuat hari itu menyenangkan dan penuh cinta. Meskipun terpisahkan jarak Bandung-Jakarta, kami selalu menyempatkan untuk bertemu dan keluar makan malam sambil jalan-jalan entah itu di Bandung ataupun di Jakarta. Ritual tukar kado ataupun cokelat pun kami lakukan, bukan hanya karena itu hari Valentine tapi karena kami ingin membuktikan bahwa kami saling mencintai. Hari Valentine lah yang kami anggap pas untuk membuktikan padanya bahwa jantung saya masih berdetak penuh cinta hanya untuknya… Selain itu, dia memang orang yang sangat romantis…

Meskipun setiap Valentine yang kami lewati terasa sangat romantis menurut saya, tapi kami pun tak sempurna. Terkadang ada hal yang membuat kami sedikit bertengkar karena rencana masing-masing tak berjalan sesuai rencana atau karena ada hal kecil lainnya yang membuat saya ataupun dia bete sehingga suasana romantis itu sedikit terusik. Tapi bagi saya, semua coklat, kado, puisi-puisi cinta yang telah dia berikan untuk saya serta semua kejutan manis yang dia telah persiapkan membuat hidup saya lebih indah dan bahagia pada masa itu.

Tapi kini semuanya telah usai… Lima tahun lebih dari hidup saya, saya lewatkan dengannya. Karena sesuatu hal, kami harus berpisah… Saya putuskan untuk meninggalkannya di saat saya masih mencintainya. Pada saat itu, saya rasa itu yang paling baik. Tapi saya bukanlah orang yang gampang mencintai dan melupakan. Saya masih ingat semua hal yang telah kami lalui, semua yang dia lakukan untuk saya setiap harinya maupun di hari-hari special seperti hari jadian dan hari Valentine, bahkan sampai sekarang saya masih menyimpan semua kotak coklat, semua kado yang dia berikan dan semua puisi yang dia tulis untuk saya… Semua kenangan indah bersamanya tersimpan baik di ingatan saya.

Dalam postingan ini, saya ingin berterima kasih pada orang yang telah membuat masa lalu saya indah, saya juga berharap dia menemukan belahan jiwanya dan lebih bahagia, seperti saya sekarang… Dan bagi siapapun yang membaca postingan ini, sebenarnya memang tak perlu menunggu hari Valentine untuk membuktikan kepada orang yang kita cintai bahwa kita sangat mencintainya. Kita bisa memberikan kejutan di hari-hari yang special untuknya misalnya di hari ulang tahunnya ataupun di hari-hari biasa.

Tapi bagi saya, pembuktian cinta dengan perbuatan itu cukup penting karena ucapan saja tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa kita mencintainya. Siapa sih yang tidak senang diberikan kejutan indah dari orang yang dicintainya, entah itu pacar, sahabat ataupun keluarga? ;) Saya juga ingin mengatakan kepada seseorang yang sangat spesial di hidup saya sekarang bahwa saya sudah sangat tidak sabar untuk melewatkan hari-hari di hidup saya dengannya, melewatkan tahun baru bersama, hari Valentine bersama, hari ulang tahun kita bersama, maupun hari-hari biasa lainnya… ♥
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...