Friday, November 30, 2012

Sedikit Cerita Tentang HIV/AIDS



HIV/AIDS beberapa tahun kebelakang bukan sebuah istilah yang akrab di telinga saya dan saya juga ga ngerti banget apa itu HIV/AIDS. Tapi berkat kampanye-kampanye yang gencar dilakukan oleh para aktivis HIV/AIDS dan peringatan Hari AIDS Sedunia setiap tanggal 1 Desember yang sering diliput media, saya pun jadi tertarik buat tahu lebih dalem apa itu HIV/AIDS. Apalagi sekarang dengan kemajuan teknologi dan hadirnya internet, kita bisa nemuin dengan gampang semua hal tentang HIV/AIDS

Virus HIV


Dulu yang ada di pikiran saya, HIV/AIDS tuh penyakit yang sangat menakutkan karena orang-orang bilang kalo penyakit ini belom ada obatnya. Tapi berkat internet saya jadi tahu secara mendetil tentang HIV/AIDS dan itu mengubah pemikiran saya. HIV adalah kependekan dari Human Immunodeficiency Virus yaitu virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini akan membuat penderitanya jadi rentan terkena penyakit lain. Terus kalo AIDS itu apa? AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Jadi orang yang terinfeksi HIV belom tentu dia AIDS juga selama dia minum obat secara teratur dan hidup sehat trus ga terinfeksi penyakit berat lainnya. Ada ukuran tertentu buat mengategorikan seseorang itu masuk ke fase AIDS atau bukan. Orang yang tertular virus HIV juga bisa terlihat sehat-sehat aja kayak orang lain, kita bisa tahu kita tertular HIV atau nggak hanya dengan cara pemeriksaan darah.


Emang bener kalo virus HIV ini belom ada obatnya, tapi kalo kita pikirkan lebih jauh, toh penyakit kanker juga belom ada obatnya kan? Banyak juga orang yang meninggal karena kanker, bahkan kakek saya sendiri dan omnya pacar saya. Jadi, kenapa kita mesti takut dan mengucilkan orang yang menderita HIV atau sering disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)? Mungkin masyarakat banyak yang menganggap HIV/AIDS adalah penyakit yang kotor dan hina karena mereka berpikir kalo orang yang terkena HIV/AIDS adalah orang yang suka gonta-ganti pasangan seks atau pengguna narkoba. Bahkan salah satu Menteri kita pun pernah berkicau sembarangan dan ngasih stigma negatif buat ODHA.

Red Ribbon

Kenyataannya emang bener kalo HIV bisa menular jika kita gonta-ganti pasangan (melakukan hubungan seks) tanpa kondom dan melalui jarum suntik yang digunakan secara bersamaan. Tapi bukan berarti kita bisa menstigma ODHA seperti itu kan? ODHA bukan hanya tertular HIV melalui dua cara itu aja, ada juga yang tertular melalui donor darah meskipun angkanya kecil, proses persalinan, ataupun penularan dari suami ke istrinya. Coba bayangin anak yang baru lahir yang gak berdosa dan gak tau apa-apa bisa juga terinfeksi virus HIV melalui proses persalinan karena ibunya adalah seorang ODHA. Terus apa kita mau menstigma anak itu juga? Apa salah dia dan bayangkan gimana perasaannya saat dia besar nanti kalau dia dapet stigma negatif dari masyarakat yang picik itu?! Sebenernya ibu yang terinfeksi HIV bisa melahirkan anak tanpa HIV dengan proses persalinan tertentu, tapi banyak orang yang masih blom tahu hal ini.


Ada juga istri yang jadi ibu rumah tangga ternyata tertular HIV dari suaminya yang suka “jajan sembarangan” di luar tanpa sepengetahuan dia dan ternyata suami telah terinfeksi HIV. Setiap suaminya minta berhubungan suami-istri tentu aja istrinya ga bisa nolak dong? Kalau sang istri itu jadi tertular HIV dengan cara seperti itu lalu apa kita bakalan menstigma negatif juga dan menyamaratakan semua ODHA? Rasanya picik banget kalau kita seperti itu. Diskriminasi dan stigma udah seharusnya dihapuskan dan dijauhkan dari pikiran kita masing-masing. Tambahan info nih, menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), sampai akhir 2010, jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS jauh lebih banyak dibanding pekerja seks komersial. 


ODHA adalah manusia biasa yang sama seperti kita, yang ngebedain cuma virus yang ada di tubuh mereka, selebihnya mereka sama. Lagian virus HIV gak bisa menular sembarangan kok. Virus HIV cuma bisa menular lewat kontak darah dan cairan tubuh lainnya kayak sperma, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Virus ini ga bisa menular melalui kontak biasa melalui kulit. Bahkan kita bisa berpelukan, pake gelas, alat makan, kamar mandi dan alat olah raga barengan sama ODHA. Jadi jangan takut buat berinteraksi dengan ODHA. 

Jauhi Virusnya bukan ODHAnya!


Bahkan menurut saya, ODHA adalah orang-orang yang tangguh! Kenapa? Coba bayangkan gimana kalau diri kita divonis terinfeksi HIV? Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana perasaan kita? Mungkin kita akan merasa dunia kita berakhir, atau bahkan bakalan ada yang putus asa sampe berani melakukan hal nekat? Tapi sahabat-sabahat ODHA kita, mereka sudah merasakan bagaimana ketika mereka divonis sesuatu yang sangat berat tapi kini mereka menerima itu dan hidup dengan virus itu. Mereka juga tetap berkarya dan mencoba untuk hidup di dunia yang keras ini ditengah-tengah terpaan badai diskriminasi dan stigma dari orang-orang awam yang entah mereka gak tahu, belum tahu, atau gak mau tahu tentang HIV/AIDS yang sebenernya.


Mereka juga harus hidup dengan meminum obat setiap hari agar virus HIV yang ada ditubuhnya dapat dikontrol. Mereka harus meminum obat ARV (Anti Retroviral Drugs) obat yang dapat menekan pertumbuhan virus HIV dalam tubuh ODHA. Obat ini harus dikonsumsi dua kali sehari setiap 12 jam dan harus tepat waktu seumur hidup. Bayangkan gimana kalau kita harus minum obat seumur hidup kita sehari dua kali dan gak boleh telat, apa kita sanggup? Kalau tidak, maka berempatilah pada ODHA! Jangan lagi diskriminasi mereka. 


Selain itu ODHA juga harus memeriksakan darahnya setiap 6 bulan sekali karena akan diperiksa kandungan CD4 dalam darah mereka. CD4 (cluster of differensiation 4) merupakan limfosit sel darah putih yang bertugas bagi pertahanan kekebalan tubuh yang ada di dalam darah dan getah bening. Mayoritas ODHA harus bayar sendiri untuk tes CD4 ini meskipun ada juga yang dibayarin pemerintah.


Ada jutaan sel CD4 dalam tubuh kita. HIV mengurangi jumlah sel CD4 tersebut, jadi tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan kuman yang seharusnya dilawan oleh sel CD4 tersebut. Jika ini terjadi, tubuh akan mudah terinfeksi penyakit lainnya. Tapi dengan adanya obat ARV, perkembangan virus HIV dapat ditekan dan CD4 dapat dinaikkan sehingga ODHA bisa hidup sehat. Jadi, paradigma HIV/AIDS adalah hukuman mati bagi penderitanya sekarang udah gak berlaku lagi karena ODHA bisa hidup hingga puluhan tahun dengan bantuan obat ARV ini. Obat ARV juga bisa didapetin secara gratis karena pemerintah Indonesia mensubsidi obat ini. Dulu sebelum pemerintah mensubsidi, ODHA harus ngeluarin uang Rp. 800.000 atau lebih tiap bulannya buat dapetin obat ARV ini. Pemerintah harus terus menjamin ketersediaan obat ARV ini karena ODHA juga berhak sehat.


Setelah tahu semua info tentang HIV/AIDS di atas, gak gampang kan buat jadi ODHA? Jadi, setelah tahu itu semua berhentilah buat mendiskriminasi ODHA dan berempatilah. Mungkin seharusnya kita lihat juga ODHA yang terus berkarya bahkan berprestasi. Contohnya Ginandjar Koesmayadi, salah seorang pemain tim futsal dari komunitas Rumah Cemara yang mewakili Indonesia dalam “Homeless World Cup 2011 di Paris, Perancis. Ginan dan timnya berhasil menyandang tiga gelar sekaligus dalam ajang berskala internasional tersebut. Ketiga gelar yang diraih adalah Tim Pendatang Baru Terbaik (The Best New Comer Team), peringkat keenam, dan Pemain Terbaik (The Most Valuable Player) yang jatuh pada kapten Timnas yaitu Ginan sendiri. HIV yang menggerogoti kesehatannya tak menyurutkan semangat Ginan dan kawan-kawannya untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 


Bahkan tahun ini mereka kembali berjuang sekuat tenaga untuk kembali mengharumkan nama bangsa di “Homeless World Cup 2012 di Mexico City, Mexico. Ginan dan kawan-kawan berhasil mendapatkan prestasi yang lebih baik dibandingkan tahun lalu sehingga Indonesia berada di peringkat keempat dari 43 negara yang bermain di kejuaraan itu. Selain Ginan dkk, ada juga Ayu Oktariani dari komunitas ODHA Berhak Sehat yang terus memperjuangkan perlawanan terhadap diskriminasi bagi seluruh ODHA di Indonesia. Hal yang gak gampang dilakukan! Seperti yang saya lihat di film Linimassa 2 juga, Ayu menyebarkan berbagai informasi mengenai HIV/AIDS melalui berbagai akun sosial media karena masih sedikit orang yang tahu mengenai isu ini. Kita sebagai orang yang “merasa” sehat, apa yang sudah kita lakukan buat mengharumkan negara ini seperti Ginan atau berbuat sesuatu bagi orang banyak seperti Ayu?

Zero AIDS? Bisa!


Menurut Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, di Indonesia kasus HIV/AIDS terus meningkat. Pada tahun 2011 terdapat 21.031 kasus HIV dan 4.162 kasus AIDS. Hingga Mei 2012, jumlah penderita HIV tercatat naik 5.991 kasus dan AIDS 551 kasus. Kasus HIV/AIDS tuh sebenernya mirip fenomena “gunung es”, cuma sedikit yang diketahui tapi yang gak diketahui jauh lebih banyak lagi. Itu semua karena kurang informasi di masyarakat Indonesia mengenai HIV/AIDS

    Oleh karena itu, ayolah kita perangi bersama HIV/AIDS bukannya malah menjauhi ODHA-nya. Kita dukung gerakan dunia melawan virus ini agar tujuan UNAIDS (Badan AIDS PBB) pun dapat tercapai, yaitu: “Getting to zero”; zero new HIV infections, zero discrimination and zero AIDS-deaths atau Mencapai nol: menghentikan infeksi baru HIV, menghentikan diskriminasi dan menghentikan kematian karena AIDS. Ya, itu semua mungkin jika penelitian terus dilakukan ditunjang dengan bantuan teknologi yang semakin canggih dan jika semua orang mendukung gerakan ini dengan tidak mendiskriminasi ODHA. Semoga dalam waktu dekat obat penyembuh HIV akan segera ditemukan! 

Referensi:
http://www.odhaberhaksehat.org
http://www.tempo.co/read/news/2012/06/25/173412771/HIVAIDS-Tinggi-karena-Pria-Doyan-Jajan-Seks

Gambar:
http://www.theexaminingroom.com/
http://topnews.in/health
http://www.odhaberhaksehat.org/
http://thechart.blogs.cnn.com/

Linimassa 2, Cerita Luar Biasa dari Linimasa Bangsa


          Film adalah media yang ampuh yang tak hanya berperan sebagai hiburan semata, tetapi lebih dari itu film bahkan bisa menjadi alat propaganda politik pada masa Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur atau sebagai alat penyebaran budaya dan pengaruh dari negara adikuasa seperti sekarang ini. Jika diproduksi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepedulian, film dapat juga menjadi alat edukasi dan penyebar energi-energi positif bagi masyarakat luas. Sudah sejak lama saya suka menonton film dari berbagai genre tapi untuk genre film dokumenter, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dari satu tangan.

Nonton Bareng di MKAA
 Linimassa 2 adalah sebuah film dokumenter yang diproduksi secara crowd funding atau patungan yang disutradarai Dandy Laksono. Sebuah istilah yang baru saja saya ketahui. Ternyata biaya produksi film ini berasal dari hasil patungan berbagai kalangan baik itu perseorangan maupun institusi dan uang yang terkumpul adalah senilai Rp 167.884.707. Bukan hanya masalah patungan itu saja yang menjadi keunikan film ini, tapi juga pemutaran serentak film Linimassa 2 di 50 titik di seluruh Indonesia! Kedua hal tersebut membuat saya semakin penasaran dengan isi film ini. Kemudian saya menonton film ini di acara Nonton Bareng Linimassa 2 di Museum Konperensi Asia Afrika, Bandung. 

Adegan-adegan pertama film Linimassa 2 ini diisi dengan cuplikan-cuplikan siaran berita dari berbagai media massa nasional yang memberitakan mengenai konflik Ambon 11 September lalu. Saya semakin penasaran apakah maksud dibalik itu. Pada akhirnya saya tergugah dengan kenyataan yang cukup mengejutkan. Saya adalah orang yang senang menonton berita di beberapa TV nasional dan dengan film ini saya tersadar ternyata media mainstream tersebut memberitakan sesuatu yang belum tentu benar terjadi di lapangan. Saya pun suka dengan kata-kata dalam film itu “Musuh terbesar media adalah dirinya sendiri, musuh yang mestinya diajak berdamai. Berdamai dengan rating dan iklan”. 

Di era reformasi dan kebebasan berpendapat ini, kebanyakan media massa di Indonesia masih kalah oleh musuhnya dan lebih mementingkan rating dan iklan. Pemberitaan mengenai Ambon pun tak sesuai dengan kenyataan sebenarnya dan malah semakin memperpanas keadaan. Untungnya ada orang-orang yang peduli dan melawan menggunakan teknologi terkini, yakni sosial media. Almas contohnya, seorang pemuda dari Ambon yang menggunakan Twitter untuk mengklarifikasi keadaan yang sebenarnya terjadi di sana. Ada juga berbagai komunitas berbeda di Maluku yang berkomitmen untuk menciptakan perdamaian. Film Linimassa 2 ini membuat saya kagum dengan orang-orang seperti mereka dan bermimpi bahwa suatu saat nanti media massa di Indonesia akan didominasi oleh peace journalism.
Masyarakat mungkin sudah lelah dan bosan dengan pemberitaan-pemberitaan media yang selalu menampilkan kericuhan, tawuran, kericuhan, lalu tawuran, lalu kericuhan lagi yang terjadi di berbagai daerah di tanah air. Kita butuh informasi positif yang akan membuat pikiran kita menjadi positif juga sehingga kita akan melakukan hal-hal positif dalam kehidupan ini. Untungnya film Linimassa 2 ini menampilkan segudang hal hebat yang digambarkan dengan perjalanan seorang jurnalis bernama Manda. Ia berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk bertemu orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa dengan bantuan teknologi.
Setelah dari Maluku, perjalanan Manda berlanjut ke Yogyakarta untuk mendatangi sebuah cyber village di sana. Hal ini mengungkapkan fakta bahwa RT/RWnet Mandiri rintisan Onno W. Purbo sudah cukup berhasil  sehingga di kampung itu 90% rumahnya mempunyai akses internet. Bahkan di pos kamling kampung tersebut ada akses internet! Hal itu yang membuat saya terkejut dan penonton pun tertawa. Warga di sana juga terbantu dengan kehadiran internet, mulai dari anak-anak yang menggunakan internet sebagai alat bantu belajar maupun sebagai hiburan, sampai orang yang menggunakan internet untuk berniaga. Film ini mengajarkan satu poin penting bagi orang tua yakni mereka harus menemani anak-anaknya saat mengakses internet agar anak-anak tidak terpengaruh dampak buruk dari internet.
Penggunaan internet yang sehat ternyata malah dapat menguntungkan kita, seperti yang dicontohkan Lek Iwon yang menggunakan Facebook dan blog sebagai media promosi jualan batiknya. Batik Lek Iwon pun terjual hingga ke mancanegara. Bukan hanya komersil yang menjadi tujuannya, tapi juga keinginan untuk melestarikan batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Selain Lek Iwon, masih banyak orang yang menjadikan teknologi sebagai sahabat, bahkan juga sebagai sarana untuk melestarikan bumi. Di pedalaman Jawa Barat, lebih tepatnya di Tasikmalaya terdapat sebuah radio komunitas bernama Ruyuk FM yang mempunyai misi mengajak orang untuk melakukan penghijauan. Mereka juga mempunyai website dan menggunakan perangkat lunak berbasis open source, sebuah sistem operasi yang gratis dan aman dari virus.
Kita yang tinggal di kota besar yang mayoritas mendapatkan akses internet dengan mudah patut bersyukur. Saudara kita di pedalaman Tasikmalaya sana bahkan harus mencari sinyal internet hingga ke tengah sawah. Di tengah keterbatasannya itu, mereka tidak menggunakan internet untuk hal yang sia-sia, tapi untuk menginformasikan kegiatan warga desa, program pemerintah, dan laporan desa. Bahkan warga kampung sendiri yang menjadi kontributornya. Patut diacungi jempol!

Srikandi-srikandi Indonesia pun tak tinggal diam. Mereka melihat peluang dan menjadikan internet dan sosial media sebagai alat perjuangan, perjuangan melawan stigma, diskriminasi dan kekurangtahuan masyarakat. Perjalanan Manda Sang Jurnalis berlanjut di Jakarta dan di sana ia bertemu dengan para srikandi hebat, mereka adalah Ayu Oktariani dari komunitas ODHA Berhak Sehat, Angkie Yudistia dari komunitas disabilitas dan komunitas Emak-emak Blogger,
Ayu menjadikan Facebook dan Twitter sebagai sarana sosialisasi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) kepada masyarakat. Selama ini masih sangat banyak orang yang tidak tahu apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya dan bahkan masyarakat masih mendiskriminasi ODHA. Dengan adanya komunitas ODHA Berhak Sehat di film Linimassa 2 ini setidaknya masyarakat yang menonton menjadi tahu bahwa wanita maupun pria dengan HIV/AIDS masih bisa menikah dan mempunyai anak seperti orang biasa lainnya. Selain itu ODHA pun sama dengan orang sehat lainnya, yang membedakan hanyalah virus. Oleh karena itu sudah selayaknya masyarakat tidak lagi mendiskriminasi ODHA.
Ada juga srikandi hebat lainnya dari komunitas disabilitas yang diwakili oleh Angkie Yudistia. DIa menyadari bahwa diskriminasi akan selalu ada dan sebagai perempuan penyandang disabilitas dia mendapatkan diskriminasi yang berlipat ganda tapi dia tidak ingin dikasihani. Lalu Angkie menggunakan sosial media untuk melawan diskriminasi terhadap hak yang seharusnya penyandang disabilitas dapatkan. Kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan tidak kurang suatu apapun seharusnya bersyukur dan malu apalagi jika kita mendiskriminasi sahabat kita penyandang disabilitas. Sahabat disabailitas hanya ingin diperlakukan dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti orang lain.
Film Linimassa 2 ini juga membuat saya kembali tertegun ketika srikandi lainnya hadir, seorang wanita paruh baya berusia 72 tahun bernama Yati Rachmat yang tetap produktif dengan berbisnis online melalui blog. Beliau salah-satu anggota dari Emak-emak Blogger. Pernyataannya yang mengatakan bahwa beliau takut cepat pikun sehingga beliau terjun ke sosial media membuat saya berpikir apakah yang akan saya lakukan jika saya diberi umur hingga 72 tahun. Apakah saya bisa tetap produktif seperti beliau? Kita semua patut mencontoh beliau yang mempunyai keinginan dan semangat yang kuat untuk belajar sesuatu yang baru dalam hal ini internet dan sosial media dan tetap produktif. Orang awam yang belum tahu banyak tentang internet yang melihat film ini mungkin bisa mengetahui bahwa internet dapat menjadi peluang bisnis yang baik.

Perjalanan Manda kembali berlanjut ke pulau Lombok. Di sana ia bertemu komunitas radio Primadona FM yang diciptakan masyarakat Kampung Bajo dengan segala keterbatasannya. Para pendengar radio itu dapat menyampaikan keluh kesahnya mengenai pelayanan publik maupun keadaan sekitarnya. Film Linimassa 2 ini juga membuktikan bahwa kondisi pendidikan di daerah terpencil masih sangat memprihatinkan, terlihat dari kondisi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Pawang Tumpas Barat yang beratapkan terpal dan bertiang bambu dekat kandang sapi! Meskipun begitu, beruntung kita masih memiliki orang-orang hebat yang bekerja dengan ikhlas tanpa bayaran seperti ibu guru SIoni. Kemendikbud dan para wakil rakyat yang duduk di gedung megah di ibukota sana seharusnya melihat film ini agar mereka sadar dan malu itupun apabila mereka masih punya (rasa malu). 
Ibu guru Sioni hanya bisa mengeluh ke Primadona FM itu, entah bagaimana kelanjutan ceritanya di Lombok sana. Saya hanya berharap semoga PAUD-nya mendapatkan bantuan yang semestinya. Lalu hadir sosok Pak Kitanep, seorang penjaga hutan Taman Nasional Rinjani yang juga harus menjaga pasokan air bagi sebuah dusun di sana. Untuk kerja kerasnya selama sebulan, Pak Kitanep hanya digaji total Rp. 315.000. Ketika pipa bocor dan warga menderita kekurangan air, Pak Kitanep juga mengadu ke Primadona FM sehingga pemerintah turun tangan memberikan bantuan. Berkat bantuan internet, foto-foto pipa bocor yang diambil Pak Kitanep diunggah ke dunia maya oleh komunitas Primadona FM sehingga bantuan semakin mengalir. Gaji yang kecil tak menghalangi Pak Kitanep untuk bekerja dengan baik dan ikhlas, hal yang patut dijadikan contoh oleh kita semua khususnya Anggota Dewan yang terhormat.
Banyak pengetahuan yang kita dapatkan dengan menonton film Linimassa 2 ini. Kita jadi tahu bahwa ada banyak orang biasa di berbagai daerah di Indonesia yang melakukan hal-hal luar biasa berkat penggunaan bijak teknologi dan internet. Meskipun hidup dengan segala kekurangannya tetapi mereka tetap bisa melakukan hal yang berguna bagi banyak orang. Selain itu kita juga tahu data statistik pengguna internet, sosial media, dan telepon selular di Indonesia yang luar biasa banyaknya. Ditambah kita harus pandai-pandai menyerap informasi khususnya yang dikeluarkan oleh media mainstream dan kita jangan mudah terprovokasi. Film Linimassa 2 pun ditutup dengan lantunan indah nan merdu lagu berjudul Maluku Tanah Pusaka yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly.
Linimassa2 yang dipersembahkan oleh ICT Watch merupakan sebuah film dokumenter yang sangat bagus, ceritanya begitu menarik dan berbobot disertai beberapa gambaran alam Indonesia yang indah. Film ini bagaikan gambaran linimasa bangsa Indonesia yang menampilkan cerita-cerita luar biasa. Film ini seharusnya diputar juga di semua sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia agar mereka tertular energi positif dari film ini. Linimassa 2 juga menggugah kesadaran kita semua khususnya saya sebagai orang yang tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas yang ada. Ayo kita belajar dari sosok-sosok hebat di film ini dan kita gunakan teknologi serta internet sebaik-baiknya agar berguna bagi orang banyak demi kemajuan Indonesia tercinta!

http://youtube.com/internetsehat 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...