Wednesday, August 22, 2012

Study European Politics & Economy in Utrecht University


Sebagai  pemenang Kompetiblog 2012, saya dan Nurlela diberi pilihan 4 program studi  yaitu « Dutch Culture & Identity », « Dutch History & Art », « European Politics & Economy », dan “European Culture & Identities”. Tahun sebelumnya hanya diberi dua pilihan, yaitu dua program pertama yang saya sebutkan di atas. Setelah dipikirkan baik-baik, akhirnya saya memutuskan untuk memilih  « European Politics & Economy » ! Meskipun dari judulnya sepertinya bakal susah, tapi saya tetep niat pilih program ini soalnya setelah ngeliat jadwal dan program lengkap per harinya, di kelas itu bakalan ada kunjungan ke Brussels, Belgia tepatnya ke NATO’s headquarters (Markas NATO) dan European Parliament (Parlemen Eropa). Kapan lagi saya bisa ngunjungin kedua markas penting di dunia itu? Mungkin kesempatan ini bakalan jadi kesempatan pertama dan satu-satunya dalam hidup saya, dan kesempatan itu bakalan saya ceritain di postingan berikutnya! :p


Me and Alexander in the class

Selain karena alasan itu, sebenernya saya juga suka banget ma politik Indonesia maupun dunia dan selalu ngikutin perkembangannya lewat TV or internet jadi ya kenapa ngga saya pilih program Summer Course itu?! Saya juga berpikir siapa tahu program itu bakalan ngedukung buat impian saya selanjutnya (melanjutkan S2, aminnn!) Sebenernya saya sangat ragu dan kuatir dengan Summer Course ini, masalahnya ada di bahasa inggris saya. Sejak SMP dan SMA saya sangat suka bahasa Inggris dan nilai-nilainya lumayan lah… Tapi setelah kuliah di Sastra Perancis dan selama 4,5 tahun selalu dicekokin bahasa Perancis, jadinya bahasa inggris pun terlupakan dan jarang banget dipake. Makanya kuatir juga tiba-tiba harus kuliah selama dua minggu pake full English. Tapi saya pikir, liat nanti aja deh…hehe

Tanggal 2 July 2012 jam 10.00 perkuliahan pertama pun di mulai. Kampusnya terletak di jalan Drift 21, deket ma jalan/halte Janskerkhof. Dari luar kayaknya cuma keliatan pintunya aja gedung kampusnya, tapi setelah masuk ternyata gedungnya luas juga dan bertingkat. Kami berkumpul di sebuah ruang perkuliahan yang paling besar di sana. Ternyata yang ngambil program « European Politics & Economy » ada lebih dari 100 orang ! Saya pikir ga akan sebanyak ini soalnya pemenang Kompetiblog tahun lalu, Viona Grace, yang ikut kelas Dutch Culture, bilang kalau di satu kelasnya paling dua puluhan orang.

Gedung Kampus


Koridor Kampus

Begitu masuk ke ruangan itu, saya nyari tempat duduk. Saya duduk di barisan ketiga dari depan. Di mejanya udah tersedia map gede, buku European Politic yang tebel, dan buku catatan. Di dalem mapnya udah ada kertas yang berisi informasi mengenai perkuliahan selama dua minggu, jadwal mata kuliah dan pembicara yang bakal ngisi di kelas, juga udah ada dua assignments yang harus dikerjain untuk dua minggu ke depan, pokoknya di sana udah jelas banget deh ! Saya lihat di sana ada tiga orang dosen, satu wanita dan dua laki-laki. Merekalah yang bertanggung jawab untuk kelas « European Politics & Economy », mereka adalah Maurits Rost, Pepijn van Haren, dan Ellen Ophof. 

Setelah hampir semua kursi terisi, Maurits Rost menutup pintu lalu berbicara di depan kelas. Beliau memberi ucapan selamat datang di Utrecht dan Universitas Utrecht. Beliau juga menjelaskan secara singkat tentang program « European Politics & Economy » ini yang akan kami lewati dalam dua minggu dan menjelaskan tentang isi mapnya. Mereka ternyata akan membagi kami dalam 6 kelompok kecil, jadi setelah kuliah umum di pagi hari dalam kelas besar, pada sore harinya kami bakalan kuliah di kelas kecil dengan jam berbeda dan diurus oleh satu orang dosen tetap. Setelah dibagi per kelompok, saya masuk ke kelompok E dengan dosen tetap Ellen Ophof. 

Di Kelas

While a break

Dari jam 10.30 sampai jam 12.00 Maurits Rost juga jadi pembicara untuk matkul « Intoduction to European Politics and Economy ». Beliau menjelaskan secara garis besar tentang politik Eropa, Uni Eropa dan permasalahan ekonomi yang sekarang sedang dihadapi Eropa. Sore harinya jam 14.30-16.00 saya ikut kelas kecil yang disebut dengan “seminar” di ruang 1.09 dengan Ellen Ophof. Di kelas itu ada sekitar 15 orang, ternyata saya sekelas juga sama Pinky, Max dan Nana, mereka temen satu housing saya. Temen sekelas lainnya ada yang dari Rusia, Jerman, Hong Kong,  Arab Saudi, dan Indonesia! Di kelas seminar ini lebih ke pengulangan materi dari kelas kuliah umum dan dosennya ngasih pertanyaan-pertanyaan, kita juga diminta pendapatnya satu per satu mengenai isu yang udah dibahas di kuliah umum. Waktu Ellen nunjukkin peta buta Eropa dan kita disuruh nebak nama Negara yang dia tunjuk satu per satu, saya bisa menjawab hampir semua Negara Eropa! Ellen pun agak terkejut dan terkesan, dia bilang orang Eropa sendiri banyak yang ga hapal letak dan nama Negara-negara Eropa. Kebetulan aja saya suka geografi dan suka main game Perang Dunia 2 di PC, jadinya ya hapal diluar kepala nama Negara-negara Eropa dan letaknya! Hahaha. 

Kuliah hari pertama pun selesai dan berjalan dengan lancar, ternyata masalah bahasa inggris yang sebelumnya saya takutkan tidak jadi masalah. Saya bisa mengerti semua materi yang disampaikan dosen dan dosen tamu.  Di perkuliahan European Politics and Economy kami belajar sejarah pembentukan Uni Eropa yang dimulai dari European Coal and Steel Community (ECSC) pada tahun 1951 dan European Economic Community (EEC) pada tahun 1958 yang terdiri dari enam Negara yakni Belanda, Belgia, Luxembourg, Perancis, Jerman dan Italia. Nama Uni Eropa sendiri secara resmi dipakai setelah Maastricht Treaty tahun 1993. Seiring perkembangan waktu, Uni Eropa pun semakin kuat dan menambah anggotanya dan sekarang punya 27 negara anggota. 

Kanal depan kampus
Narsis abis kuliah

Jalan yang selalu saya lewati kalau ke kampus

Uni Eropa punya tujuh institusi yakni European Parliament, Council of the European Union, European Commission, European Council, European Central Bank, Court of Justice of the European Union dan European Court of Auditors. Kami di kelas juga mempelajari masing-masing tugas institusi-institusi itu dan para pemimpinnya. Kami juga membahas permasalahan imigrasi yang membuat berbagai permasalahan social lainnya di berbagai Negara Eropa. Mahasiswa diajak untuk bertukar pendapat apakah negara-negara Uni Eropa harus memperketat aturan imigrasi dan membatasi imigran untuk masuk ke negara mereka?
Uni Eropa kini mengalami berbagai masalah dan tantangan, bukan hanya masalah krisis ekonomi seperti yang kita tahu sekarang. Mereka juga mengalami masalah penuaan populasi, jumlah penduduk yang berusia tua dan termasuk kategori tidak produktif lebih besar dibandik penduduk muda dengan usia produktif. Dosen Ellen juga mengakui bahwa Eropa dalam hal ini membutuhkan imigran muda untuk  mengisi lapangan kerja. Tapi Eropa masih memikirkan jalan terbaik mengenai permasalahan imigrasi ini. Masalah lain yang timbul akibat imigrasi adalah Islam. Banyak imigran muslim yang berasal dari Afrika Utara, Turki dan negara lainnya yang masuk ke Eropa dan bekerja di sana. Kejadian 11 September 2001 di New York mau tidak mau mempengaruhi citra muslim di mata orang Eropa dan dengan perbedaan gaya hidup antara orang muslim dan orang Eropa menjadikan benturan sosial di negara-negara Eropa. 

Di kelas kecil bersama dosen Ellen diputar sebagian film yang sangat kontroversial di Belanda, yakni « Fitna » yang dibuat oleh politisi Belanda yang anti Islam, Geert Wilders. Setelah pemutaran film, Ellen meminta pendapat dari para mahasiswa mengenai film itu dan Osama dari Arab Saudi berpendapat bahwa film itu memang mengejutkan dan pendapat-pendapat yang disampaikan di film itu sama sekali salah dan tidak menggambarkan orang Islam dan ajaran Islam yang sebenarnya. Mahasiswa-mahasiswa asal Eropa di kelas pun setuju bahwa orang-orang Islam yang mereka kenal sangat baik dan tidak seperti yang ada di film itu. Dosen Ellen lalu menyampaikan bahwa mayoritas rakyat Belanda juga menentang dan tidak menyukai film itu dan mereka menerima dengan baik muslim yang ada di Belanda.

European Union's flag

Kelas-kelas seminar juga diisi oleh dosen-dosen tamu dari berbagai kalangan yang bener-bener professional di bidangnya. Ada yang merupakan professor di Universitas Utrecht, ada yang bekerja di pemerintah Belanda, pemerintah provinsi Utrecht, dll. Cara mengajar mereka juga tidak membosankan dan kita sebagai mahasiswa bisa bebas bertanya di saat mereka sedang menerangkan, atau kalau kita mau berpendapat atau menyanggah pendapat dosen itu kita juga bisa melakukannya dengan bebas. Pokoknya cara belajar-mengajar di Belanda sangat berbeda dengan di Indonesia. Semua dosen juga sangat tepat waktu. Mereka sudah datang sebelum jam kuliah di mulai, perkuliahan dimulai tepat waktu, kalau mereka bilang kita istirahat 15 menit, ya beneran 15 menit meskipun masih ada beberapa mahasiswa yang masih di luar kelas, mereka tetep lanjutin ngajar. Mereka juga beres ngajarnya tepat waktu dan gak ada korupsi waktu! Hehe. Mahasiswa juga selalu dikasih kesempatan untuk bertanya dan mereka pasti selalu menjawab dengan detail dan sampai si mahasiswa mengerti dan puas dengan jawaban dosennya.

Me and  Maurits Rost

Me and Ellen Ophof (dosen kelas)
me and Pepijn van Haren

Saya hanya bisa berharap semoga para pengajar, cara mengajar dan belajar di Indonesia bisa seperti di Belanda suatu saat sehingga pendidikan di Indonesia bisa lebih maju dan menghasilkan orang-orang yang lebih berkualitas lagi. Saya sangat senang dan bersyukur bisa merasakan pendidikan Belanda seperti apa, punya teman kuliah dari berbagai negara, dan merasakan diajar oleh dosen-dosen yang hebat. Universitas Utrecht adalah universitas terbaik di Belanda, salah satu yang tertua juga di Belanda dan salah satu yang terbesar di Eropa. Mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup bisa belajar di Utrecht Summer School. Makasih banyak NESO Indonesia dan Utrecht Summer School!

Saturday, August 11, 2012

My House in Utrecht


Waktu saya dikasih tahu kalau saya dapet housing yang cukup jauh dari daerah kampus yaitu di jalan Kriekenpitplein, saya agak khawatir. Takutnya susah buat pergi ke kampusnya dan takut tersesat. Waktu masih di depan kantor Utrecht Summer School (USS), saya lihat ada satu bule yang pegang kertas peta yang mirip dengan yang saya. Saya memberanikan diri buat nyapa dia, “Hey ! Kamu dapet housing di Kriekenpitplein juga ?” Trus dia ngeliat petanya dan jawab « Iya, kamu juga ? ». Senangnya nemu temen buat nyari housing bareng ! hehe. Trus saya dan dia ngobrol-ngobrol, namanya Johny, dia orang Rumania. Meskipun dia dapet housing yang sama ma saya tapi ternyata dia ngambil program yang beda, dia ambil ekonomi. 

Sindy, kenalan saya anak UNPAR, masih di dalem kantor USS. Saya bilang ke Johny “Could you wait for me please, because I’m waiting for my friend?” “Yeah of course. I’m waiting here” jawabnya. Trus saya ke dalem nyusulin Sindy. Pas dia udah beres, kita berangkat bareng-bareng ke halte di seberang jalan. Ga cuma kami bertiga, tapi ada kenalan Sindy juga yang dari India beberapa orang. Kami nunggu bis, dan setelah bisnya datang, kami masuk membawa koper-koper kami yang besar. Menurut petunjuk, kami harus turun di halte Prins Hendriklaan. Perjalanan rasanya cukup jauh… Setelah sampai di halte Prins Hendriklaan kami turun. Ternyata kami harus jalan kaki lagi dan saya merasa itu cukup jauh. 

Entah berapa kilometer saya sudah berjalan dari pertama kali sampai di Schiphol sampe nyari housing ini, belasan ada kali ya? Akhirnya kami menemukan housing kami di University College Utrecht. Wow! Saya pun takjub! Tempatnya luas, bangunannya bagus-bagus, ada lapangan yang cukup luas, dan banyak pepohonan. Kami masih harus cari gedung tempat tinggal kami. Dari gerbang ke dalemnya ternyata masih cukup jauh entah berapa ratus meter. Akhirnya kami menemukan gedung kami masing-masing. Johny dapet gedung yang berbeda dengan saya. Saya satu gedung dengan Sindy, tapi setelah masuk gedungnya ternyata di dalem ada dua pintu lagi. Sindy dapet nomor 117 dan saya 116. Saya membuka pintu nomor 116 dengan kunci pintu yang berbentuk kartu. Ada satu cowo Chinese gitu dapet no 116 juga, jadi dia masuk sama saya.

Pintu masuk
Gereja di dalam kompleks Utrecht University College

Pintu Gerbang 

Lapangan di UUC


Salah satu gedung di UUC



Ternyata di dalem ada beberapa kamar yang ditandai dengan alfabet, saya kebagian kamar C dan cowo Chinese itu dapet kamar B. Setelah saya membuka pintu kamar, saya kembali takjub! Ternyata kamar saya luaaaaas! Lebih luas dari kamar saya di rumah di Indonesia. Di dalem kamar sudah ada kasur, meja belajar lengkap dengan lampu belajarnya, kursi, lemari, wastafel. Di atas kasur sudah ada seprai, tinggal kita beresin sendiri. Tapi karena saya masih capek, saya langsung berbaring di atas kasur sambil menikmati pemandangan. Kebetulan di samping kasur saya tuh ada jendela yang gede, kita bisa lihat rerumputan, pohon, dan gedung di sebelah dari jendela itu. Meskipun cukup jauh dari kampus (cuma naik satu kali bis sih), tapi saya seneng banget bisa dapet housing yang bagus, luas dan yang penting satu kamar untuk satu orang! 

Sebelumnya saya belum pernah tinggal sendiri jauh dari ortu, selama kuliah saya pulang-pergi dari rumah saya ke Jatinangor yang ditempuh selama sejam, kadang sejam setengah. Dan sekarang saya bakalan tinggal di Utrecht, Belanda selama 2 minggu sendirian. Semua perasaan campur aduk, seneng, excited, khawatir, ga nyangka. Yang pasti saya bersyukur banget sekarang saya sudah sampai di “rumah” di Utrecht dengan selamat dan bersyukur saya dapet kamar yang bagus. 

Di kamar juga tersedia koneksi internet, kita sebelumnya sudah disuruh bawa kabel LAN. Saya nyalain netbook saya dan coba koneksi internetnya, subhanallah! Koneksi internetnya cepeeeeeeeeeeeeet banget! Youtube tanpa buffering, download file ratusan Mb cuma dalam waktu beberapa menit. Enaknya…! Kapan ya Indonesia punya kecepatan internet kayak gitu? :S Suatu hari internet saya tiba-tiba ga jalan, saya pikir kabel LAN saya yang rusak. Saya akhirnya beli kabel LAN baru seharga 3,5 euro di Media Markt, tapi internetnya masih ga jalan juga. Saya hubungi pihak USS lewat email yang saya kirim pake BB saya. Mereka balas email dengan cepat dan katanya bakal kirim orang untuk dateng ke kamar saya. Tapi karena sehari sesudahnya saya pergi ke Brussels dengan kampus, jadi ga tau deh ada orang yang dateng atau ga. Tapi besoknya pihak USS yang kirim email ke saya duluan kalau ternyata koneksi internet saya diputus karena di komputer saya ada virus.

My room, before leaving Utrecht

Kondisi kamarku di saat harus meninggalkan Utrecht

Sistem Pengamanan dan Panggilan Gedung

this is my housing building


Salah satu gedung di kompleks UUC


Trus saya disuruh bersihin virusnya dan hubungi mereka lagi kalau udah. Abis saya scan netbook saya, saya kirim email ke mereka. Trus begitu saya kirim email, internet saya langsung aktif lagi. Servis dari USS sangat memuaskan menurut saya. Mereka membalas email dari kita cukup cepat dan bahkan mereka juga sempet kirim email duluan ke kita untuk nanyain permasalahan kita. USS juga menyediakan nomor darurat yang bisa kita hubungi kalau ada apa-apa. 

Ini dia foto-foto kamar saya di Utrecht…

Seprai USS :)

Kasurku

Meja belajar dan lemari
Wastafel, lemari pakaian dan pintu masuk kamar

My lovely room in Utrecht
Colokan listrik n internet

Di housing saya juga tersedia dapur, meja makan, dua kamar mandi, dua WC, dan ada ruang keluarganya loh. Di dapurnya udah ada peralatan masak yang lengkap, mulai dari piring, gelas, sendok, garpu, pisau, panci, micro-wave, kompor listrik, kulkas dua pintu, juicer, pokoknya lengkap banget! Di ruang keluarganya ada sofa merah dan meja. Di housing saya juga ada mesin cuci dan mesin pengeringnya. Selama di rumah (di Indonesia) saya males banget nyuci baju, paling ngebantu ngejemur aja, tapi selama di Utrecht, saya nyuci baju dua kali dan ternyata gampang banget nyuci bajunya. Mesin cucinya juga beda sih ma yang ada di rumah saya. Trus setelah dikeringin, bajunya ga usah disetrika juga ga apa-apa, ga terlalu kusut. 

Sore hari di hari pertama saya tinggal di housing itu, kenalan saya yang bernama Sampson (dia dari Hong Kong) dateng ke housing saya, kebetuan dia dapet kamar di gedung yang berbeda. Dia tiba-tiba minum air keran dari dapur, saya kaget dan nanya ma dia “Emang ga apa-apa gitu minum dari air keran?” “Ga apa-apa kok, saya udah bertahun-tahun minum air keran dan ga pernah sakit apapun.  Di sini air kerannya bisa diminum.” Jawabnya. Emang sih, mbak Mira dari NESO Indonesia juga pernah bilang kalo di Belanda air kerannya bisa diminum, tapi tetep aja ngerasa aneh minum langsung dari air keran. Akhirnya saya nyobain minum air keran, hmm…ternyata rasanya beda dari air di Indonesia, bahkan dibanding air yang udah direbus. Setelah itu selama dua minggu, saya minum air keran dari dapur maupun dari wastafel di kamar saya. Alhamdulillah saya ga sakit apa-apa selama di Belanda! hehe

Di housing saya ada tujuh kamar, kamar A-G. Saya satu housing sama Anderson, Max, Nana, Pinky mereka semua dari Universitas Hong Kong. Alexander dari Rusia dan Alice dari Korea. Kami biasanya ngobrol di ruang keluarga, setiap pagi makan bareng di ruang makan, pergi ke kampus bareng, naik bis bareng. Berharga banget pengalaman ini, bisa tinggal bareng ma orang asing dari berbagai negara selama dua minggu.

Ini nih foto-foto housing saya…


Kamar Mandi

Pintu masuk

Toilet

Koridor 



Hari pertama setelah beberapa jam masuk ke kamar saya, tiba-tiba pintu kamar saya diketuk. “Ricky, are you busy? Can you help me?” kata Anderson di seberang pintu. Saya keluar dan nanya ada apa, dia nyuruh saya ke kamarnya. Ternyata jendela kamar dia rusak, ga bisa ditutup lagi. Tadi saya juga nyoba buka jendela kamar saya dan saya tutup lagi, emang sih sistem buat ngebuka dan tutupnya beda dibandingin jendela-jendela yang pernah saya temui di Indonesia. Trus saya cobain nutup jendela kamar dia, ternyata emang ga bisa, entah kenapa… Dia ngoceh-ngoceh sendiri dan kebingungan. Trus saya suruh aja telepon nomor pengaduan USS yang tertulis di kertas yang ada di setiap kamar. 

Di kertas itu ada beberapa nomor, dan ternyata si Anderson itu nelpon nomor emergency. Beberapa menit kemudian cowo Belanda dateng ke kamar dia, saya masih di kamar dia juga. Bule itu nanyain ada apa? Anderson bilang jendelanya rusak dan ga bisa ditutup lagi. Bule itu agak terkejut dan heran trus nanyain kenapa nelpon ke nomor emergency? “Tapi kan ini darurat juga, kalau jendela saya ga bisa ditutup trus saya mau pergi keluar gimana?” jawab Anderson. Bule itu langsung liat jendelanya dan ngasih tau cara nutupnya dan tiba-tiba si jendela itu bisa ketutup dong! “Tuh kan ini bisa ketutup?! Emang belum pernah liat jendela kayak gini ya?” kata bule itu. “Tapi tadi saya coba buka tutup jendela di kamar sebelah bisa kok. Dan saya juga pernah tinggal di Itali ga kayak gini! It’s so ridiculous!” jawab Anderson. Bule itu jawab lagi “Ya tapi kamu udah mengganggu istirahat saya, ini kan hari Minggu, hari libur. Dan di kertas itu tertulis kalau nomor ini bisa dihubungin cuma hari kerja”. Saya cuma bisa diem dan senyum ga enak sama tuh bule. Iya sih waktu itu hari Minggu sore, bule itu juga pake celana pendek dan kaos. Trus bule itu bilang lagi “makanya saya ga mau kerja di Asia, yang kerjanya tanpa henti.” sambil melirik saya yang cuma tersenyum polos. Trus Anderson dan saya berterima kasih ke dia dan Anderson meminta maaf udah ganggu waktu dia. Dia ngejawab “Yeah it’s OK. Have a nice day!” trus dia pun pergi. 

Kompor listrik dan panci-panci


Dapur

Ruang Makan


Ruang Keluarga


Mesin Cuci bersama


Haduh…ada-ada aja. Hari pertama tinggal di situ ada “kasus jendela” ini. Hahaha. Tapi kita bisa petik pelajaran dari kejadian itu, ada perbedaan antara Asia dan Eropa. Mungkin di Asia kita bisa nelpon n minta bantuan orang kapan aja, tapi kalo di Belanda ya ada waktu-waktu yang harus kita hormati. Ga enak juga kan ganggu waktu libur mereka. Tapi meskipun bule itu merasa terganggu, dia tetep ngebantu dan tetep ramah.

Selama dua minggu tinggal di sana, saya sangat nyaman, betah, dan rasanya sedih ketika harus meninggalkan kamar saya. Sindy sempet bilang “Enak banget ya kamar n housing kita? Rasanya setahun di sini juga bakalan betah!” “Iya enak banget, coba kalo kita bisa tinggal lama di sini ya?!” jawab saya. Saya sangat puas dengan housing dari Utrecht Summer School ini! Terima kasih Utrecht Summer School dan NESO Indonesia! :)

Thursday, August 9, 2012

First Day in NL: Amsterdam and Utrecht


Setelah puas foto-foto di Schiphol, saya dan Ela (pemenang I Kompetiblog 2012) berencana untuk pergi ke Duivendrecht, di sana ada kerabatnya Ela yang orang Indonesia tapi udah lamaaaaa banget di Belanda. Ternyata di bawah bandara Schiphol tuh ada stasiun kereta Schiphol! Letaknya bener-bener di bawahnya, keren banget bisa kayak gitu! Di bandara ada mesin-mesin untuk beli tiket kereta, tapi karena kami ga ngerti caranya gimana dan kayaknya harus pake kartu kredit or debit bank Belanda juga, jadinya kita nyari loket tiket biasa aja. 

Mesin Pembelian Tiket KA

Di Depan Kereta Api Belanda

Di loket, kami membeli tiket dari Schiphol ke Duivendrecht seharga 3,7 euro dan kami pun menuju stasiun kereta Schipol. Kami bingung harus naik kereta untuk menuju Duivendrecht melalui peron berapa, akhirnya kami asal naik kereta dan hari pertama di Belanda ini kami sukses tersesat! Hehehe. Cerita lengkap mengenai ketersesatan kami, bisa kalian baca di blog Ela yang berjudul Lost in Amsterdam di link ini

Singkat cerita akhirnya kami sampai di stasiun Duivendrecht, kami pun turun dari kereta. Setelah kami sampai di hall stasiunnya, Ela menelepon kerabatnya yang bernama tante Bety. Tak berapa lama tante Bety pun datang, saya bersalaman dengan beliau dan memperkenalkan diri. Lalu tak lama kemudian datang om Richard, suaminya. Setelah ngobrol sebentar di sana, om Richard mengajak kami pergi menuju mobilnya. Stasiun Duivendrecht agak sepi, tak seramai stasiun Gambir atau Bandung. Bangunannya bagus meskipun termasuk stasiun kecil. 

Di dalam mobil, kami terus mengobrol, mereka orangnya baik dan ramah banget! Om Richard yang mengemudi, dia mengajak kami ke suatu tempat makan di Amsterdam yang bernama La Place. Mungkin mereka mengerti kalau kami kecapean dan lapar, beliau pun sempat bertanya apakah kami lapar? Beliau bilang kalau di Belanda, kita harus jawab terus terang apa adanya, jangan basa-basi. Kalau misalnya kita ditanya apakah kita lapar atau tidak, kalau kita bilang tidak karena malu atau karena basa-basi ala Indonesia, mereka akan berpikir kita memang tidak lapar dan tidak akan memberi kita makan. Gitu… 


La Place tempatnya besar dan bangunannya bagus, tempat parkirnya luas dan di sebelahnya ada restoran cepat saji Mc Donald’s yang cukup besar juga. Kata Om Richard, kalau orang Amsterdam yang punya duit biasanya makan di La Place, kalau yang ga punya n anak muda gitu biasanya di Mc D itu. Begitu kami masuk ke dalem resto La Place itu, emang kelihatan banget sih restonya mewah dan sepertinya harganya mahal-mahal. Di sana ada seorang pegawai, seorang wanita Indonesia, aduh saya lupa lagi namanya, tapi mukanya saya masih inget sampe sekarang. Dia bekerja di sana, dia udah lama tinggal di Belanda. DIa ternyata orang Sunda juga, jadinya saya dan dia ngomong bahasa Sunda. 

Seneng deh rasanya ketemu orang Indonesia saat kita di negeri orang… Trus Om Richard menyuruh saya dan Ela ngambil makanan apa pun yang kita mau. Wah….! :O Makanannya tuh kayak prasmanan gitu, jadi bisa kita lihat dan kita ambil sendiri baru nanti dihitung di kasir kita ngambil apa aja trus baru bisa makan deh. Saya bingung mau makan apa, makanannya banyak yang terlihat enak tapi takutnya saya yang ga suka dan ga cocok ma lidah. Karena udara di Amsterdam kala itu dingin (meskipun siang hari) dan saya pengen yang anget-anget jadinya saya ambil sop tomat, sekalian pengen nyobain sop tomat Belanda kayak apa :D hehe.

Tante Bety memesan patate (kentang goring) buat kami berdua. Saya suka banget kentang goreng dan penasaran juga kentang goreng Belanda kayak gimana… Trus selain itu saya juga ambil satu macem makanan lagi, namanya lupa lagi! Hiks hiks. Mirip burger gitu, tapi gede banget, isinya beberapa macem sayur dan ikan tuna. Lihat sendiri aja fotonya ya. Hehe. 



Om Richard nyuruh kami ambil minuman juga, trus saya ambil satu botol minuman setelah itu kami semua duduk. Restorannya masih sepi tapi ada beberapa orang yang makan di situ. Kami makan sambil ngobrol-ngobrol. Ternyata kentang goreng+mayonnaise nya enak! Sup tomatnya lumayan enak meskipun agak aneh buat lidah saya, dan makanan mirip burgernya enak juga. Alhamdulillah kenyang banget! Setelah beres makan, Om Richard dan tante Bety ngajak pergi. Tapi sebelum ninggalin tempat duduk kita, kita harus ngambil bekas makanan kita, piring dan nampannya gitu. Trus kita bawa ke suatu pojok di dalem resto situ, kita simpen di atas meja “berjalan” ntar nampan bekas makan kita bergerak sendiri menuju tempat pencuci piring. 

Wah…pelajaran baru nih! Tempat makan yang cukup mewah aja pelanggannya harus beresin bekas makannya sendiri, kalau di Indonesia kan kita tinggalin pergi aja coz nanti ada pelayan yang ngeberesin, kalau di Belanda ngga! Trus setelah keluar dari resto itu dan berfoto, kami masuk mobil. Om Richard ngajak kami keliling-keliling Amsterdam sebentar dan dari dalem mobil saya bisa lihat jalanan Amsterdam yang lebar tapi lengang, gak banyak orang di jalanan. Saya tanyain kenapa sepi gini? Kata Om Richard soalnya ini hari Minggu dan orang-orang masih pada diem di rumah. Iya sih itu hari Minggu jam 10an. Saya juga lihat gedung-gedung bertingkat dan gedung perkantoran di sisi kiri dan kanan jalan, itu pusat bisnis Amsterdam kali ya. Ya Tuhan…saya masih ga percaya kalau saya sekarang ada di Amsterdam, Belanda! 



Kami juga mampir di deket stadion Ajax tapi ga bisa ngunjungin langsung. Abis itu kami menuju rumah summernya Om Richard dan tante Bety. Dari parkiran mobil menuju pintu masuk komplek perumahannya tuh cukup jauh tapi asri dan alami banget karena banyak pepohonan, ada kanalnya, pokoknya bagus banget. Dan saya pun tercengang dengan rumah-rumah yang ada di sana. Rumah-rumah di sana tuh kecil-kecil tapi bagus-bagus banget arsitekturnya dan halamannya. Kayak rumah-rumah di dongeng gitu. Ditambah udara yang sejuk, segar dan sepertinya tidak berpolusi, trus pepohonan yang rindang di sana, kayaknya betah deh tinggal di salah satu rumah di sana. 

Pintu Masuk Kompleks Perumahan


Lalu kami akhirnya sampai rumah mereka yang tak kalah bagus juga. Ada kolam ikannya yang isinya ikan koi gede-gede, halamannya juga bagus. Setelah beberapa lama di rumah mereka, mereka mengantarkan kami ke stasiun kereta Amsterdam Amstel. Om Richard ngebayarin tiket kereta kami berdua dong! Wah…baik banget!!! Padahal kan saya ga kenal mereka sama sekali, tapi mereka baik banget. Setelah bernarsis ria di depan stasiun, kami pun menuju ke atas, tempat menunggu kereta. Akhirnya kereta datang, saya dan Ela berpamitan dan kami berdua berterima kasih kepada mereka. Mereka bilang week-end main ke sini lagi aja nanti mereka ajak jalan-jalan di Amsterdam.

@Halaman Rumah Om Richard
Saya dan Om Richard & Tante Bety
stasiun KA Amsterdam Amstel

Alhamdulilah di dalem kereta sampai kami turun di stasiun Utrecht Centraal gak ada masalah. Begitu sampai di Utrecht Centraal, kami menuju utara stasiun (Noord). Di sana ada banyak bis-bis dengan berbagai nomor dan destinasi. Saya mengeluarkan peta yang saya print di Indonesia. Sepertinya tidak jauh dari stasiun kereta ke jalan Janskerkhof, tempat daftar ulang Utrecht Summer School. Kalau naik bus, kami belum punya kartu OV Chipkaart dan takut ribet dengan koper kami, akhirnya saya dan Ela memutuskan untuk jalan kaki dari sana ke Janskerkhof. Di deket halte ada seorang cowo bule berambut hitam, saya putuskan untuk bertanya ma dia. Dia ternyata gak terlalu tahu di mana Janskerkhof itu, saya tunjukkin aja peta saya. Trus dia jelasin kami harus kemana aja, katanya sih ga terlalu jauh dari situ.

stasiun KA: Utrecht Centraal
Jalanan kota Utrecht
Kami meneruskan perjalanan… dan kami pun tersesat (lagi) di Utrecht. Baru juga dateng ke Utrecht  udah tersesat lagi ! hahaha. Kami jalan kaki jauh banget, sepertinya berkilo-kilo meter, ditambah menyeret koper saya yang beratnya 18kg lebih dan backpack yang cukup berat. Tapi pemandangan Utrecht yang dipenuhi bangunan bagus, trotoar yang lega dan rindang dipenuhi pepohonan jadinya bikin excited juga. Akhirnya kita sampai di suatu jalan, di sana banyak banget pertokoan, banyak banget orang lalu-lalang. Aduh rasanya aneh banget kita bawa-bawa koper gede di jalanan pusat kota kayak gitu. Trus gerimis turun dong… Kita pun sedikit basah gara-gara hujan.

Rasanya capek banget setelah penerbangan jauh banget, tersesat di Amsterdam, dan sekarang tersesat di Utrecht… Huhuhu… Tiba-tiba ada seorang cewe yang nyamperin saya dan Ela. « hey ! Kalian anak Utrecht Summer School ? » tanya dia. Kami pun mengiyakan dan dia nyuruh kami ikutin dia. Dia bilang dia sebelumnya liat beberapa orang bawa koper dan ternyata anak USS (Utrecht Summer School) juga. Sambil jalan kaki ngikutin dia, kami ngobrol-ngobrol, ternyata dia orang Mexico. Dia ikut USS juga tapi beda program ma saya dan Ela. Saya lupa namanya siapa… Saya emang cepet lupa kalo masalah nama… hehe. Trus akhirnya kami sampai di depan kantor USS di jalan Janskerkhof. Cewe Mexico itu pamit, saya dan Ela berterima kasih ma dia, trus dia pergi dan menghilang. Ya Tuhan, apakah dia seorang malaikat penolong? (lebay…hahaha) Yang jelas, saya dan Ela bersyukur banget tiba-tiba ada cewe Mexico yang dating nolong kita dan nganterin sampe depan kantor USS. Terima kasih Tuhan!

Kantor Utrecht Summer School di malam hari

Di depan kantor USS, banyak koper yang disimpen di depan pintu, ya udah saya dan Ela pun ninggalin koper kami dan kami pun masuk. Setelah mengantri, akhirnya seorang petugas wanita dari USS dengan sangat ramah menyambut kami. Dia menanyakan nama lengkap kami lalu setelah dia menemukan nama kami di daftarnya dia kasih sebuah amplop yang berisi kunci tempat tinggal kami selama di Utrecht. Ela dapet housing yang deket dari kampus. Kalau saya katanya cukup jauh dan harus naik bis sekali dari Janskerkhof. Setelah itu kami disuruh masuk ke dalem, di sana akan dijelaskan bagaimana cara agar kami bisa menuju tempat housing kami. 

Ada seorang cowo berkaos USS yang memberi salam “Hello!” lalu kami menyerahkan amplop tadi itu untuk dia lihat. Begitu dia lihat amplop Ela, dia bilang klo itu deket dan jelasin ke Ela tempatnya di mana sambil ngasih sebuah peta. Begitu ngelihat amplop saya, dia senyum dan bilang “Ehem, housing kamu agak jauh dari sini tapi kamu bisa naik bis sekali.” Trus dia jelasin harus naik bis di halte mana trus pas turun dari bis harus jalan kemana, belok kemana, dll. Trus abis itu beres, saya beli sebuah kartu dari USS, itu kartu buat bus. Jadi kita bisa pake bus bebas kapanpun, kemana pun (selama masih di dalem kota Utrecht), berapa kalipun selama dua minggu. Kita cuma bayar 28 euro. Katanya bakalan lebih murah dibanding kalau saya bayar tiap kali naik bis. Ya udah saya pun beli kartu itu. Trus saya dikasih goodie bag gitu, isinya buku European Politics, map gede, buku tulis, pulpen, gantungan kunci. Sejauh ini pelayanan dari petugas USS baik banget, mereka juga ramah banget! 

Kami sebenernya tinggal pergi aja langsung ke housing, tapi saya ga mau tersesat lagi. Jadinya saya nunggu temen aja. Sindy, yang sama-sama dari Bandung (dia anak UNPAR), ngambil program yang sama dengan saya, jadi dia juga dapet housing yang sama. Ternyata pembagian housingnya sesuai program yang kita ambil di USS. Trus pas saya dan Ela lagi nunggu, tiba-tiba ada bule cowo yang nyamperin kita ngajak ngobrol. Ternyata dia seorang wartawan dari Groningen! Trus dia minta ijin buat ngewawancara kita, akhirnya kita pun diwawancara. Dia kaget begitu tahu kita bisa ikutan USS karena menang lomba nulis Kompetiblog dari NESO Indonesia. Trus dia tanya-tanya kita nulis tentang apa. Dia antusias nanya-nanya dan nulis info tentang kami berdua, orangnya ramah banget juga. Setelah sesi wawancara, dia minta foto kita berdua. Dia ngambil foto kami berdua pake kamera SLR dia. Trus dia minta kontak kami, katanya nanti dia bakal email kami kalau mau tanya-tanya dan pas ngasih tau kalau berita tentang kami sudah ditulis. Waaaah….lengkap banget pengalaman kami di hari pertama di Belanda ini… :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...