Saturday, November 28, 2009

Hatiku Hancur Tak Tersisa...

Tlah kuberikan separuh hatiku padamu
Lalu kuberikan seluruh hatiku
Kini kau hancurkan hatiku
Berkeping-keping
Membuatku hancur
Tak berdaya
Tak mengira
Dapatkah kau kembalikan hatiku utuh?
Dapatkah kau sembuhkan luka ini?
Tak bisa! Tak akan! Dan ku tak mau!
Biarlah waktu yang menyembuhkanku...
Aku akan bangkit! Aku akan berbeda! Dan kau akan menyesal!

Waktuku Denganmu

5 tahun 3 bulan, kau bersamaku...

63 bulan, kau menemaniku...

252 minggu, kau mewarnai hidupku...

1.764 hari, kau ada di sampingku...

42.336 jam, kau memberiku cinta...

2.540.160 menit, kau ada untuk ku...

152.409.600 detik, kau mengisi hatiku...

Kini, ku harus sendiri...

Menjalani waktu sisa hidupku tanpamu...

Masihkah Kau Mengingatnya?

Apakah kau masih ingat pertemuan pertama kita?

Di tempat itu
Di keramaian itu
Di sore hari itu
Dengan senyuman tulusmu
Dengan sapaan hangatmu

Tak pernah kubayangkan
Tak pernah kupikirkan

Kau kan menemaniku
Melewati hari-hariku
Dan membuatku tahu
Apakah cinta itu...

Selamat Jalan Kekasihku

Selamat jalan kekasih
Kini kita berpisah
Memutuskan cinta kita
Menjalani hidup masing-masing
Sekarang ku tahu, bahwa kita tak berjodoh
Kita tak ditakdirkan untuk bersama
Meskipun berat... Sangat berat...
Namun ku harus menerimanya...
Mungkin inilah yang terbaik
Yang terbaik dari-Nya, Tuhan, yang menyatukan kita...

Le Moment

Un moment
Notre moment
Le moment entre toi et moi
C'est quand on passait le temps ensemble
Bien que sans parler
Sans embrasser
Mais tu savait que je t'aime!

Cinta, Sebuah Kata Lima Huruf

Cinta
Sebuah kata lima huruf
Penuh makna
Penuh harapan
Penuh impian
Penuh pengorbanan
Penuh derita

Cinta
Sebuah kata lima huruf
Membuat kita menangis
Membuat kita tertawa
Membuat kita menyesal
Membuat kita bahagia
Membuat kita menderita

Cinta
Sebuah kata lima huruf
Tak mudah digapai
Tak mudah dipertahankan
Tak mudah didustai
Tak mudah dipahami
Tak mudah diperjuangkan

Monday, November 23, 2009

Selamat Ulang Tahun Untukmu

Selamat Ulang Tahun untuk seseorang yang telah mengisi hari-hariku selama lima tahun ini...
Maaf aku memberimu kado yang tidak mengenakkan di hari spesialmu...
Aku melakukannya karena aku merasa tersakiti...
Terima kasih untuk semua cintamu, pengorbananmu, sayangmu, perhatianmu, segalanya...
Terima kasih banyak...
Juga untuk pelajaran hidup dan cinta....
Semoga hidupmu menjadi lebih baik tanpa diriku...
Semoga kau bahagia....

My Broken Heart...

To the person I considered my soulmate...
When you come into my life, I told myself I would love you and never gonna hurt you...
You were my bestfriend, my love, my everything...
Til 1 day, you came and said "i can't stay with you any longer..."
my life has changed at that very moment... I just found myself on bended knees yelling...
Why?? I was down, completely... But I had to be strong for you... At your worst... I was there...
Until the day has come for us to say goodbye... I knew it, but I just can't accept it...

I will be keeping my promise, I will move on...
But you will always be, a part of me...
Hear me say this, one last time...
"I have found the essence of my life, I have discovered a world thats beautiful, because of you..." my love, my misery... I'm letting you go now...
It's time to set myself free... This is the hardest thing I will do, coz I still love you...
And this love... This is all I have...

If only I knew that was the last time, I should have held you and never let go...
The kiss, whisper, and embrace... It was the last... I can feel your arms falling down slowly...
I know you're gone. We always thought our love was enough for us to last... It was a sad ending...
It's Gods will... I know, you're happy now wherever you are...
And me, here I am hurting... Broken...
Those five long years, it's all gone now...
How can I forget? How can I start over once again...?
I'm sorry if you see my life falling apart...
I know I can't get you back, and I wont be seeing you for the rest of my life...

Bandung, 23 November 2009

Saturday, November 21, 2009

Creativity icons Called Bandung


Saturday, November 7, 2009 | 10:42 pm

By Indah Surya Wardhani


The wheel spun creative industries in Bandung. A number of creative community comes up with fresh ideas and works, from music, fashion design, architecture, up to culinary. Bandung also got a new nickname: the creative city.

The nickname might be not excessive. Look, creativity icons scattered throughout the city marking the creative industries activity. Based on polls Kompas by telephone that capture the 363 respondents in the city of Bandung, the city's creativity inherent in three things, namely a place, activity, and the community.

Distro (distribution outlet) is the icon of the most popular creativity in the minds of respondents. Almost a quarter of respondents mentioned distributions to describe the climate of creativity in the city of Bandung. Outlets where the product to market clothing and accessories that are easily found in every corner of the city. There are at least 64 distribution outlets which hundreds of clothing companies.

The icon that is not less popular are young. Creative young people under the age of 40 years was a spearhead force and clothing distribution business. Other related icons Bandung as a creative city is the art of music, which is called by two of the 10 respondents. A number of prominent bands born in Bandung, such as Gigi, Peterpan, Cokelat, Kuburan, dan The Changcuters.

Cuisine as an icon of creative cities 18 percent of respondents voiced. Business snacks and dining room were growing increasingly confirmed the nickname Bandung as a creative city. Other commodities that many choose is music, bags, and socks.

Admittedly, the creative industries are now as one of the economic drivers of Bandung. Industry based on creative talent and creativity of individuals is able to sustain 14 percent of the regional economy.

Efforts also continue to do campaigns, among others, by the Bandung Creative City Forum (BCCF) which contain an active creative community networking. Since 2008, it pioneered the forum an annual event Helarfest. The show exhibited a variety of creative products in a parade of events for two months.

Unfortunately, this event is less well known publicly. Based on this poll, more than half of respondents admitted to not knowing the Helarfest 2009.


Source of creativity

The development of creative industries in Bandung is not believed to be an instant process. Modernization which brought the colonial government since the 19th century, making the city of Bandung open minded and easy to adapt to different cultures. The development of creativity is inseparable from the role of formal education that teaches skills and expertise in theory.

The emergence of the creative process that starts from the Hanafi recognized milieu Salman (33), designer of Mahanagari archipelago. For him, the environment and the city of Bandung Sundanese culture is a source of inspiration that will never been explored. "There are three basic themes in Mahanagari shirt designs, ie traditional, colonial, and contemporary. The theme that we see in Bandung," he said, Wednesday (4 / 11).

According to Bambang Rudito, anthropologist and lecturer in Business Management School of ITB, the source of creativity in the city of Bandung is the result of local cultural adaptation to modernization. "Bandung is the plural of which has long been a fashion orientation. Many young people come to learn to college. They are a potentially large nyleneh bring ideas," said Bambang.

He added, ability to move the creative industries supported the three pillars, namely academia, business, and government. Synergy of these three major capital of creative industry in Bandung.
(Litbang Kompas)

Ikon Kreativitas Bernama Bandung

cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/07/1042572/ikon.kreativitas.bernama.bandung

Sabtu, 7 November 2009 | 10:42 WIB

Oleh Indah Surya Wardhani

Roda industri kreatif berputar kencang di Kota Bandung. Sejumlah komunitas kreatif muncul dengan ide dan karya segar, dari musik, desain mode, arsitektur, hingga kuliner. Kota Bandung pun mendapat julukan baru: kota kreatif.

Julukan itu boleh jadi tak berlebihan. Lihat saja, ikon kreativitas yang tersebar di penjuru kota menandai riuhnya aktivitas industri kreatif. Berdasarkan jajak pendapat Kompas melalui telepon yang menjaring 363 responden di Kota Bandung, kreativitas kota itu melekat pada tiga hal, yakni tempat, aktivitas, dan masyarakat.

Distro (distribution outlet) merupakan ikon kreativitas yang paling populer di benak responden. Hampir seperempat responden menyebut distro untuk menggambarkan iklim kreativitas di Kota Bandung. Gerai tempat memasarkan produk pakaian dan aksesorinya itu memang mudah dijumpai di setiap sudut kota. Sedikitnya terdapat 64 distro yang menjadi gerai ratusan perusahaan clothing.

Ikon yang tak kalah populer adalah anak muda. Kaum muda kreatif berusia di bawah 40 tahun memang merupakan ujung tombak penggerak usaha distro dan clothing. Ikon lain yang terkait Bandung sebagai kota kreatif adalah seni musik, yang disebut oleh dua dari 10 responden. Sejumlah grup band ternama lahir di Kota Bandung, seperti Gigi, Peterpan, Cokelat, Kuburan, dan The Changcuters.

Kuliner sebagai ikon kota kreatif disuarakan 18 persen responden. Usaha jajanan dan tempat makan yang terus berkembang itu kian mengukuhkan julukan Bandung sebagai kota kreatif. Komoditas lain yang banyak dipilih adalah musik, tas, dan kaus.

Harus diakui, industri kreatif kini sebagai salah satu penggerak perekonomian Kota Bandung. Industri yang berbasis pada talenta mencipta dan berkreasi individu ini mampu menopang 14 persen perekonomian daerah.

Upaya promosi pun terus dilakukan, antara lain oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) yang aktif mewadahi jejaring komunitas kreatif. Sejak tahun 2008, forum ini merintis acara tahunan Helarfest. Acara itu memamerkan beragam produk kreatif dalam bentuk parade acara selama dua bulan.

Sayangnya, acara ini kurang banyak diketahui publik. Berdasarkan jajak pendapat ini, lebih dari separuh responden mengaku tidak mengetahui adanya Helarfest 2009.

Sumber kreativitas

Berkembangnya industri kreatif di Bandung diyakini bukanlah proses instan. Modernisasi yang dibawa pemerintah kolonial sejak abad ke-19 membuat masyarakat Kota Bandung berpikiran terbuka dan mudah beradaptasi dengan berbagai budaya. Berkembangnya kreativitas tidak terlepas dari peran pendidikan formal yang mengajarkan keterampilan dan keahlian secara teoretis.

Munculnya proses kreatif yang berawal dari lingkungan pergaulan diakui Hanafi Salman (33), desainer dari Mahanagari Nusantara. Baginya, lingkungan Kota Bandung dan budaya Sunda merupakan sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis digali. “Ada tiga tema dasar dalam desain kaus Mahanagari, yakni tradisional, kolonial, dan kontemporer. Tema itu yang kami lihat ada pada Bandung,” katanya, Rabu (4/11).

Menurut Bambang Rudito, antropolog dan pengajar Sekolah Manajemen Bisnis ITB, sumber kreativitas di Kota Bandung merupakan hasil adaptasi budaya lokal terhadap modernisasi. “Bandung itu kota plural yang sejak lama menjadi orientasi mode. Banyak anak muda datang untuk belajar ke perguruan tinggi. Mereka ini yang berpotensi besar membawa ide nyleneh,” kata Bambang.

Ia menambahkan, kemampuan menggerakkan industri kreatif ditopang tiga pilar, yakni akademi, bisnis, dan pemerintah. Sinergi ketiganya merupakan modal utama industri kreatif di Kota Bandung. (Litbang Kompas)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...